Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 93 : Careless Could Take Lifes Away

I’m not happy today. I even hate to write down the title , thankful days project.

Pagi ini, mungkin karena kurang hati-hati, atau kurang fokus, atau terlalu sibuk memikirkan hal-hal lain, atau kurang perduli sama sekitar, atau terlalu grasah-grusuh, atau memang sedang sial, enggak tahulah … Tapi akibat kecerobohan saya, dua anak kucing sampai harus meregang nyawa di bawah ban mobil saya.

Begitu saya melihat dua anak kucing itu kejang-kejang menjelang ajal, semuanya bergerak seperti slow motion. Induknya datang, mendekati dua anaknya perlahan-lahan. Seolah-olah tidak pasti dengan apa yang akan dihadapinya sesaat lagi. Ia mendekati satu anaknya, mengendus-endus kepala yang berlumuran darah itu, menjilatinya seolah-olah berusaha menolongnya, tapi kucing kecil itu sudah pergi. Lalu ia menoleh ke arah anaknya yang lain, mendekatinya dan mengendus-endusnya juga. Tapi yang satu ini juga sudah tidak bergerak.

Lalu induk kucing itu menoleh kepada saya, seolah-olah tahu sayalah penyebab tragedi dalam hidupnya itu. Saya berani mendekat pun tidak. Malah lari mencari tetangga, berharap ada yang bisa menolong untuk membungkus mayat-mayat kucing itu, karena saya sendiri tidak sanggup melakukannya.

Akhirnya anak-anak kucing itu saya bawa ke kebun, dikubur di bawah pohon rambutan dekat kandang ayam. Dengan harapan kematian mereka tidak sia-sia dan bisa memberi kesuburan bagi si pohon.

Dan sekarang, sudah malam pun induknya masih mengeong-ngeong mencari anak-anaknya. Duh …

Biasanya saya masih selalu berusaha melihat hal-hal yang bisa disyukuri dari setiap kejadian seburuk apa pun itu. Dan sebenarnya banyak hal yang saya kerjakan hari ini yang  Alhamdulillah berjalan cukup lancar. Tapi tetap saja, rasanya tidak bisa bersyukur terhadap sesuatu sementara pada saat yang bersamaan masih dibayang-bayangi oleh tatapan mata si induk kucing yang malang itu..

September 24, 2010 Posted by | Weakness | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 78 : Blowing The Ants

Long time ago, I was amazed by a man who was blowing an ant away from his hand.  To me it’s not usual, it’s just an ant. Biasanya, kita hanya berusaha menepis semut-semut yang tanpa sengaja pindah jalur ke tubuh kita dengan mengibaskannya, menjentik dengan jari, atau bahkan memakai tenaga untuk memukulnya (entah kenapa merasa butuh tenaga buat menepis semut).

Sejak saat itu, kalau ada semut yang tiba-tiba salah jalur, saya coba pindahkan mereka dengan hanya meniupnya juga.

Yang ingin saya ceritakan adalah, ternyata saya belum sebaik itu juga. Nasib semut-semut yang hinggap di badan saya masih tergantung pada mood saya ternyata. Hari ini, saya pulang kerja dengan perasaan kesal. Beberapa semut yang sedang bernasib naas hari ini, dengan santainya berbaris di tangan saya. Dan tanpa berfikir dua kali, mereka semua langsung saya tepis, kalau tidak mau disebut dipukul sih.

Sewaktu kesal saya hilang, yang saya pikirkan justru semut-semut itu. Korban dari mood saya yang jelek. Mungkin bukan masalah semutnya, tapi ternyata masih sulit menjaga sikap kita jika kekesalan sedang menguasai pikiran.

Saya cuma pikir, alangkah baiknya jika di saat kesal pun sikap saya tetap bisa terjaga. Bahasa saya tetap bisa baik. Sulit ya .. tapi always worth to try.

August 24, 2010 Posted by | Dislike, Effort, Weakness | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 61 : Reminder

Salah satu sifat buruk saya adalah pelupa. Meskipun tidak parah-parah amat, tapi cukup mengganggu banyak orang di sekeliling saya.  Berulang kali saya disarankan untuk membikin catatan Things To Do. Tapi, kalau catatan Things To Do itu ada di buku, begitu dicari ternyata bukunya ketinggalan di rumah. Atau kalau saya catat Things To Do nya di selembar kertas, maka tak lama kertas itu juga raib.

Hari ini, saya memutuskan untuk benar-benar memanfaatkan reminder yang ada di handphone. Mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore.

Jam 6 pagi, Ting ting ting .. anak-anak harus bawa uang catering dan pas photo. Cepat-cepat semua saya siapkan.

Jam 9 pagi, Ting ting ting .. harus nyari tukang sumur bor dengan menelepon si A si B dan si C. Cepat-cepat semua orang itu saya hubungi, dan ternyata ada hasil juga untuk pencarian si tukang sumur bor ini.

Jam 10 pagi, Ting ting ting .. kirim laporan keuangan bulanan ke suami, ok, sent.

Jam 11 siang, Ting ting ting .. tes telpon rumah lagi (belakangan telpon rumah rusak). Dan ternyata memang benar-benar harus diganti pesawatnya karena ditelpon seberapa lama pun, rumah seperti tidak ada yang menunggui.

Jam 2 siang, Ting ting ting .. daftar Ihsan ke dokter anak untuk sore ini (Ihsan demam dari kemarin). Cepat-cepat saya buat janji untuk sore harinya.

Jam 4 sore, Ting ting ting .. di jalan pulang jangan lupa mampir ke rumah sakit buat daftar ulang. Dan saya pun menurut .

Jam 5 sore, Ting ting ting .. kirim uang arisan. Saya pun patuh karena memang sudah seminggu diingatkan ibu saya, jangan lupa kirim uang arisan (dan memang lupa terus seminggu ini).

Jam 6 sore, Ting ting ting .. malam ini bikin pudding buah permintaan Najmi. Sayangnya yang ini tidak dituruti  karena remindernya kurang satu .. lupa beli susu evaporated  :(

Jadilah, sepanjang hari ini saya jadi sangat penurut dengan yang namanya reminder. Setiap bunyi, seperti mendapat titah dari paduka raja. Langsung dikerjakan tanpa protes. Bagaimana mau protes, wong saya sendiri penitahnya kan.

Ternyata senang juga, karena semua urusan hari ini jadi tidak ada yang terlewat. Harus dijadikan kebiasaan.

Ting ting ting … jangan lupa besok bikin reminder lagi

August 3, 2010 Posted by | Effort, Learning, Weakness | , , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.