Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 176 : A Journey To The Center of The “Crowd”

Been away for a while from this project, liburan keluarga dan terlalu bodoh untuk meng-upload tulisan melalui handphone (hal yang harus diperbaiki suatu saat, gaptek yang dipelihara jaman begini ternyata benar-benar bisa menghambat kemajuan).

Tapi liburan dengan suami dan anak-anak di awal tahun ini, cukuplah untuk membangkitkan semangat lagi. Precious moment.. kebetulan saya sekeluarga diundang oleh seorang sahabat baik untuk merayakan hari ulang tahunnya dan hari jadi pernikahannya di Ancol. Jadi anak-anak punya kesempatan untuk main ke Dufan (meskipun kurang puas karena datang kesiangan dan kemacetan), dan menginap semalam di sana.

Lucu kalau ingat anak-anak sampai sakit perutnya karena tertawa-tawa mengingat pengalaman yang memicu adrenalin mereka sewaktu naik  Halilintar dan Histeria. Juga waktu digoncang-goncang kursi di wahana Journey To The Center of The Earth. Sayang karena kesiangan itu mereka gak sempat lagi naik Arung Jeram, selamat deh bajunya ga kena basah hihihi..

Besoknya menghabiskan pagi di kolam renang, dan siangnya sudah bertolak ke Bandung. Intinya menjenguk orang tua saya yang belakangan sedikit kurang sehat, sambil keliling-keliling menikmati kemacetan kota Bandung yang paraahh sambil berbelanja. Sedikit refreshing yang menyenangkan juga di saat mengunjungi Museum Geologi Bandung, yang penuh dengan segala macam fossil, mineral dan sejarah geologi. Menyenangkan untuk anak-anak. Sebenarnya museum ini cukup baik kondisinya, sayang saja segala keterangannya kurang disertai dengan literatur berbahasa Inggris, mengingat pastinya banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke sana.

Alhamdulillah semua lancar sampai pulang kembali ke rumah. Our own home … meskipun langsung gubrak gabruk beres-beres karena rumah ditinggal seminggu, rasanya nyaman sekali bisa kembali lagi ke rumah. Dan… senangnya kembali ke kota yang bebas macet. Anak-anak selalu protes, kenapa di Bandung kemana-mana selalu jauh ?? Aih..kotanya mah cuma seimprit, crowded nya yang ga tahan.

Cukup capek siihh, tapi puas dengan liburannya, dan dengan coming back home safely nya. Alhamdulillah …

February 20, 2011 Posted by | family, travel | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 86 : Finally Bandung

Been away for these last 2 weeks. Terseret oleh budaya mudik lebaran tahunan dengan segala kehebohannya.  Lebaran tahun ini, giliran Bandung yang kami sekeluarga jadikan tujuan pulang. Tiket pulang pergi sudah dibeli jauh-jauh hari, jadi tidak ada masalah soal kehabisan tiket pulang. Hanya saja, kami memilih maskapai yang sudah terkenal reputasi delay nya, karena maskapai ini satu-satunya yang melayani penerbangan tujuan Bandung langsung dari Batam. Jadilah, awal mudik diawali dengan proses menunggu sambil terkantuk-kantuk karena pesawat baru berangkat jam 10 malam. Sampai di rumah mamah, ya sudah lewat tengah malam.

Bandung, kesan pertama saat tiba di malam hari, masih seperti dulu, dingin menggigit. Pun kami datang bertepatan dengan musim hujan.

Kesan-kesan berikutnya :

* Macet macet macet. Untuk pergi berbelanja selama dua jam saja, bisa menghabiskan waktu 3 jam di jalan.  Kami bahkan sampai pernah harus shalat ashar di dalam taxi, saking terjebaknya di tengah-tengah kemacetan. Komentar anak-anak, kenapa di Bandung ke mana-mana jauh ? Yah.. apanya yang jauh, Bandung mah segitu-segitu aja, cuma  kondisi kemacetannya yang parah. Satu karena jumlah kendaraan terus bertambah, apalagi sepeda motor. Ke dua karena ruas-ruas jalan tidak pernah bertambah banyak. Ke tiga karena semua pedagang berjualan di atas trotoar. Ke empat karena tidak ada lahan parkir yang memadai sehingga semua kendaraan parkir di badan jalan. Ke lima, entah kenapa semua mobil plat Jakarta numpuk di Bandung, kayak Jakarta kekurangan tempat belanja dan rekreasi aja. Ke enam, yang ngurus jalanan kemana saya gak tahu, karena semua jalanan di Bandung blong bentong alias bolong-bolong. Intinya, kalau dari segi infrastruktur jalan raya, Bandung kalah jauh dari Batam.

* Air air air. Maksudnya, Bandung susah air. Bayangkan di rumah mamah sekarang ada empat keluarga dan semuanya butuh air. Tapi air PAM cuma mengalir dua hari sekali. Hari berikutnya mengandalkan air yang sudah ditampung atau beli. Setiap hari harus bergelut dengan jumlah air yang tersisa. Kapan harus nyuci baju, kapan harus nyuci piring, kapan harus mandi, saya bahkan harus pikir-pikir dulu kalau mau cuci rambut, takut menghabiskan air jatah yang lain. Padahal Bandung adalah wilayah yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Tapi jika benar-benar diperhatikan, memang kondisi pepohonan di gunung-gunung itu nasibnya sudah seperti rambut yang tinggal di kepala papah, alias mulai menipis. Jadi air tanah sudah berkurang, tapi begitu hujan besar langsur banjir.

* Belanja, belanja, belanja. Dengan kondisi jalan yang cuma sebegitunya, pembangunan mall terus berjalan. Malah di daerah Cicadas, ada mall yang jaraknya cuma 300 meteran satu sama lain. Tapi kalau berbicara mall yang ada di Bandung, saya punya satu yang paling saya sukai, Paris Van Java. Rasanya betah berlama-lama di sana, karena bisa cuci mata sambil tetap menghirup udara segar dan melihat pepohonan (bahkan ada tanaman padi), pun tenant-tenant nya tahu bagaimana mendekorasi shop nya sehingga tetap sesuai dengan mallnya yang mengusung tema back to nature. Love it. (Tapi harus eling-eling pas belanja, salah-salah saking senangnya duit mengalir ke luar tanpa terasa)

Tapi begitulah Bandung. One of my home towns. Saya sendiri sebenarnya belum benar-benar mengenal Bandung luar dalam. Yang saya tahu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, selalu ngangenin untuk kembali ke sana.

September 16, 2010 Posted by | City, travel | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 32 : Family on Vacation

I know that I have been uncommitted to my own commitment to write every day.  But there are some conditions , when I just can’t put my fingers on the tuts. Not because I’m not committed, I just can’t. Writing is relieving, apalagi, siapa tahu kalau suatu saat saya pergi nanti, tulisan-tulisan ini bisa jadi warisan buat anak cucu, ya kan? Siapa tau bisa memberi manfaat buat mereka.

Anyway.. kemarin saya berlibur selama  4 hari di Kuala Lumpur dengan suami dan anak-anak. Senang banget, karena anak-anak sangat menikmati liburan ini. Mereka banyak tertawa. Dan banyak hal-hal lucu yang kita alami. Di KL, kami menginap di apartemen salah seorang sahabat saya dan suami sewaktu kuliah dulu. Dia dan istrinya, benar-benar tuan rumah yang luar biasa, tidak hanya membiarkan kami menumpang di apartemennya, tapi juga bersedia menjadi guide dan mengantar ke sana-kemari. 

Dari Batam, kita bisa ke KL melalui Johor Baru, yang ditempuh dengan ferry selama 1.5 jam. Dari sana naik bus lagi ke KL selama 4 jam. Memang jauh dan melelahkan, tapi busnya cukup nyaman, dan jalan yang dilalui juga mulus. Jadi perjalanan cukup dinikmati.

Ihsan, banyak sekali tertawa. Apalagi dia mulai ikut-ikutan nonton bola malam-malam. Pertama dia menjagokan Brazil, yang ternyata ditumbangkan Belanda. Lalu ganti mendukung Argentina, eh ternyata dibantai Jerman. Dua pertandingan ini kami tonton ramai-ramai dengan beberapa teman di sana. Jadinya seru.

Kami ke Genting Highland, yang ternyata memang highland beneran alias betul-betul dingin. Trus ke Sunway Lagoon, ibunya wisata belanja di Sunway Pyramid, anak-anak nyebur ke Water Park  nya. Anak-anak juga terkesima dengan Twin Tower nya Petronas. Meskipun sempat kecewa karena tidak sempat naik sampai ke atas.

Singkatnya, liburan ini menyenangkan buat anak-anak. Bisa lepas dari semua rutinitas dan menghabiskan waktu bersama keluarga, ternyata menyenangkan sekali :)

July 6, 2010 Posted by | Activity, children, family, travel | , , , | Leave a Comment

Di Atas KRI Dewa Ruci

IMG_9537Pertengahan September 2009 ini, KRI Dewa Ruci singgah di Batam. Beritanya tidak sengaja terbaca di headline depan sebuah koran lokal, sewaktu saya sedang belanja sayur di warung belakang rumah. Katanya, selama bersandar di dermaga Batu Ampar Batam, warga boleh naik ke atasnya buat melihat-lihat. Hmmm..boleh juga. Pilihan wisata yang cukup unik dan menarik buat anak-anak sambil menunggu waktu berbuka puasa.

And so we went there. Kapalnya tidak terlalu besar, tapi unik. Tipikal kapal layar yang mengingatkan saya dengan perahu Pinisi. Katanya, kapal ini dibangun di Jerman Barat pada tahun 1952. Wah hebat yah… masih bisa berlayar keliling dunia. Atau apa tidak terlalu dipaksakan kapal setua itu masih disebut sebagai kapal latih ? Entah mau bangga karena kapal ini punya pengalaman luar biasa, atau mau miris karena kapal-kapal kebanggan Indonesia rata-rata sudah berumur begitu tua, dan kalah canggih dari kapal-kapal angkatan laut negara tetangga. Ayo dong, pemerintah .. swasta, siapa kek. Bangkitkan lagi kejayaan Indonesia sebagai negara maritim, negara kepulauan terbesar di dunia.

By the way, sedikit informasi. Panjang kapal ini 58.30 m, lebar lambung 9.50 m, bobot mati 847 ton. Kapal ini punya tiga tiang IMG_9533utama : Bima, Yudhistira dan Arjuna (nama tiang-tiangnya bagus yah), serta memiliki 16 layar. Kapal ini dihiasi dengan berbagai bendera dari negara yang pernah ia tuju. Yang lucu, ada bendera bajak lautnya ! Maksudnya, pernah menyinggahi negeri bajak laut, atau buat nakut-nakutin kapal lain ya, biar gak kalah garang dari kapal perang negara tetangga :)

Tapi.. sebenarnya kita memang salah, kurang memandang ke laut. Ihsan sama Najmi, kalau besar mau bergelut di bidang kelautan juga Ummi dukung lho. Di laut ikannya banyak, karang-karangnya indah, ada minyaknya, ada mutiaranya, ada rumput lautnya, ada pantainya yang indah, ada ombaknya, ada anginnya, ada pasirnya yang suka dicuri sama negara tetangga, bahkan ada timahnya. Kalau saja kita memaksimalkan potensi laut, Indonesia bisa jadi negara sehebat apa ya.. Yales Veva Jaya Mahe !

IMG_9524

IMG_9555

September 29, 2009 Posted by | family, travel | , , | Leave a Comment

Barelang Bridge

view-barelangToday is a christmas holiday, and instead of just going to the mall, I’m taking my chidren and our maid to the Barelang Bridge. Barelang Bridge is an icon of Batam Island, it connects Batam Island to the other islands on the south of Batam. If you want to go to Galang Island and see the vietnamese refugees camp (boat people), you must go through Barelang Bridge.

 

The view from the bridge is beautiful, you can see some fishermen, small islands, the sea, the pelicans. And feel the wind breezed on your face. Very calming. The children seemed to enjoy it as well and started with their never ending quetions. This is not even their first time standing on the bridge.

Take a look at some of our snap shots :)

najmi-ihsan-at-barelang-bridge

hugging-at-the-bridge

ummi-dan-najmi

December 25, 2008 Posted by | children, family, travel | , , | 2 Comments

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.