365 Thankful Days Project – Day 233 : Penipu
Hidup di zaman sekarang ini, terhadap orang-orang yang baru kita kenal terutamanya jika belum apa-apa orang tersebut sudah langsung meminta tolong, alarm waspada kita pasti langsung berbunyi.. awas penipu.. awas penipu…
Berhenti di jalan dan menolong orang yang pecah ban, kena tipu. Menolong orang yang mencari alamat, kena tipu. Memberikan sumbangan untuk mesjid yang baru di bangun atau panti asuhan, kena tipu. Pokoknya para penipu ini berusaha menipu orang-orang yang ingin memberikan pertolongan.
Penipu berhasil menipu. Akhirnya orang-orang yang tertipu, belajar untuk lebih waspada agar tidak mudah lagi kena tipu. Siapa pun yang tiba-tiba meminta pertolongan sekarang, dianggap penipu. Malah menyebarluaskan di social media agar berhati-hati terhadap segala bentuk dan jenis penipuan berkedok permintaan tolong.
Tetapi sayang, penipu semakin pintar. Dan orang-orang yang tertipu tetap saja semakin banyak. Yang artinya, modus operandi semakin beragam dan semakin tidak disangka-sangka.
Akhirnya para penolong pun berhenti menolong. Yang artinya, orang-orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan semakin sulit hidupnya. Para penipu dengan teganya telah mengambil kesempatan mereka untuk mendapatkan bantuan. Mereka kesana kemari berusaha mencari pertolongan tapi yang didapat hanya permintaan maaf. Pintu-pintu tertutup untuk mereka.
Alangkah mengerikannya dunia yang kita tinggali sekarang …
Kadang saya berpikir, mana yang lebih mengerikan, kena tipu, atau menolak membantu seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan karena mencurigainya ? Kalau kita hanya berfokus pada diri sendiri, pasti kita tidak akan sudi terjebak penipuan. Tapi kalau kita mau meluangkan waktu lebih banyak untuk mencari tau kebutuhan seseorang sebelum merasa takut dan melindungi diri kita sendiri, pastilah kita tidak ingin menolak kesempatan untuk bisa membantu seseorang.
Saya bersyukur karena, meskipun mungkin saya ini bodoh bagi sebagian orang, saya lebih merasa penting untuk memastikan bahwa seseorang itu benar-benar butuh pertolongan ketimbang langsung menghindar di saat seseorang datang dengan keterbatasannya. Mungkin saja suatu saat saya akan tertipu.. well, tapi saya percaya hal itu tetap tidak akan memiskinkan saya. Kalau sesuatu memang bukan rezeki kita, ceroboh atau tidak ceroboh, tetap saja akan diambil dari kita kan.
365 Thankful Days Project – Day 226 : Do You Care ?
Hari ini saya menyadari bahwa ada satu hal yang sungguh sulit untuk dilakukan di dunia ini : mempedulikan seseorang… Benar-benar peduli sehingga kita memikirkannya dengan cara seperti yang diinginkannya. Biasanya kita dengan yakin mengatakan bahwa kita sudah peduli pada pasangan kita, pada anak-anak kita, pada orang tua kita.. padahal kita sesungguhnya tidak peduli.
Ada satu cerita tentang kepedulian yang menunjukkan ketidakpedulian ..
Di suatu tempat, hiduplah sepasang suami istri miskin dengan dua orang anaknya. Sang suami bekerja sebagai nelayan, dibantu oleh kedua anak-anaknya. Jika tangkapan banyak, mereka menjualnya ke pasar untuk dibelikan bahan makanan. Tapi lebih sering mereka pulang dengan membawa sedikit hasil dan hanya cukup untuk mereka jadikan lauk di rumah. Sang ibu di rumah selalu siap untuk mengolah ikan-ikan hasil tangkapan itu menjadi berbagai olahan yang mereka sukai. Dan Si ibu selalu berpesan, ” Tolong sisakan kepala ikannya untuk Ibu ya.” Tetapi karena mereka selalu pulang dalam keadaan lapar, tak seorang pun yang ingat untuk menyisakan kepala ikan untuk ibunya.
Saat ulang tahun sang ibu tiba, mereka bertiga sepakat untuk memberikan sebuah hadiah kepada sang ibu. Sepotong kepala ikan yang besar. Saat mereka memberikan hadiah itu kepada sang ibu, ia hanya memandanginya sambil menangis. Salah seorang anaknya bertanya, “Kenapa ibu menangis, bukankah ibu suka dengan kepala ikan ?”
Sang Ibu menjawab, “Anakku, ibu tak suka kepala ikan. Ibu suka daging ikan, tapi melihat kalian begitu menyukai daging ikan, maka ibu meminta kepalanya.”
Sang suami dan anak-anaknya berbuat seolah-olah mereka peduli pada sang ibu, padahal justru hal itu menunjukkan betapa tidak pedulinya mereka. Paradoks yang mengerikan …
Berapa kali kita merasa sudah peduli pada orang-orang terdekat kita, padahal tanpa disadari justru menunjukkan betapa tidak pedulinya kita ?
Berapa sering kita berkata : Aku gak ngerti dia kenapa, aku kan sudah melakukan ini dan itu untuk dia. Kenapa dia masih bersikap seperti itu ? Dan ternyata, pada saat yang sama orang tersebut juga berpendapat yang sama dengan kita. Akhirnya kita terjebak dalam pertengkaran tentang siapa lebih peduli dan siapa yang tidak peduli.
Alangkah mudahnya menghancurkan suatu hubungan hanya dengan merasa peduli …
Sewaktu anak-anak kita berbicara, apa kita menghentikan pekerjaan kita lalu berbicara sambil menatap mata mereka ? Mungkin tidak, dengan sangat malu saya katakan terkadang saya menjawab pertanyaan anak-anak saya sambil membalas sms atau bbm. Saya pikir saya sudah peduli karena saya toh sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi apa saya peduli ? Tidak, saya tidak cukup peduli dengan anak-anak saya.
Jadi kalau suatu saat tiba-tiba kamu merasa sudah peduli pada seseorang, mungkin ada baiknya merenungi jebakan paradoksal ini… that you just don’t care.
365 Thankful Days Project – Day 219 : The Absolute Mistake
Ada sebuah quotation menarik yang saya ambil dari buku Brida karya Paulo Coelho, one of my favorite writer.
“Tidak ada sesuatu yang benar-benar salah di dunia ini, bahkan jam rusak pun menunjukkan waktu secara benar dua kali sehari..”
Kalimat itu juga mengingatkan saya pada seseorang, guru mengaji saya. Katanya selalu, “Jangan katakan salah, tapi katakan saja menyimpang, atau bengkok. Sehingga kita tinggal meluruskannya saja.”
Kadang karena begitu takutnya dengan kata “salah”, kita malah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Berdiam diri di tempat, dan berharap kebenaran itu muncul begitu saja seperti sebuah Ilham. Padahal Tuhan bekerja dengan cara yang aneh, menunjukkan jalan yang benar melalui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Hanya saja, kebenaran itu baru bisa kita temukan jika kita memutuskan untuk melangkah lagi dan mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan itu.
Tapi satu hal yang saya sadari adalah, kadang bukan kesalahan-kesalahan itu sendiri yang membuat kita takut untuk melangkah. Tapi penilaian orang-orang di sekitar kita lah yang membuat kita takut. Maukah mereka memahami bahwa kita perlu berbuat salah untuk mengerti tentang benar ? Maukah mereka sabar menunggu kita belajar ? Maukah mereka membantu kita menemukan jalan yang benar jika kita terperangkap di jalan yang salah ?
Bagaimana jika mereka malah jadi tidak sabar dan memutuskan untuk pergi ? Seperti menemukan sebuah jam yang rusak, alih-alih berusaha memperbaikinya, malah membuangnya dan menggantinya dengan yang baru..
Jadi, apa benar ada sesuatu yang benar-benar salah di dunia ini ? Benar-benar salah berarti tidak menunjukkan apa yang benar di baliknya. Padahal tidak ada kesalahan semacam itu .. karena salah sudah pasti menunjukkan benar.
Lalu kenapa kita begitu marah jika seseorang melakukan sesuatu yang kita anggap salah ?
Tricky question .. karena toh pada akhirnya kita juga tidak mau menyia-nyiakan waktu menghadapi orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Tapi seperti yang diajarkan Nabi, “Tinggalkanlah mereka dengan seindah-indah sikap”. Jadi, tetap tidak perlu marah terhadap yang salah toh ?
365 Thankful Days Project – Day 197 : Secangkir Kopi Pahit In Life
Pernah minum secangkir kopi hitam tanpa gula ? Sebenarnya sangat menyehatkan.. tapi saya tidak tahan dengan pahitnya. Jadi definitely bukan minuman pilihan saya.
Sebenarnya apa ya yang membuat rasa pahitnya begitu terasa ? Saya pikir karena wadahnya hanya sebesar cangkir. Coba kalau kopi pahit itu, dengan jumlah yang sama, dituang ke dalam danau .. atau ke kolam deh. Rasa pahitnya pasti tidak akan terasa…
Jadi mungkin wadahnyalah yang membuatnya terasa begitu pahit.
Sama seperti jika kita mengalami segala pahit getir dalam hidup. Kalau wadahnya, hati dan jiwa kita, sempit.. pahitlah terasa. Tapi kalau wadahnya seluas danau .. kepahitan itu pasti tidak akan mengganggu.
Jiwa yang lapang, adalah jiwa yang bisa menerima kepahitan tanpa membuatnya ikut menjadi pahit dan keruh..
365 Thankful Days Project – Day 185 : Not The Water Anymore
I used to think that I’d like to be like water. Flowing and just change direction if there’s any obstacle blocking my way.
But I don’t want to be water anymore..
Air tidak pernah punya pilihan. Hanya mengalir mengikuti jalur yang ada saja. Bagaimana kalau jalurnya membuat dia berakhir di septic tank ? Di kubangan yang tidak mengalir dan bau ? Bagaimana kalau dia jadi tercemar lalu terminum orang ?
Pilihan, that’s the key word.
Saya selalu ingin bisa memilih secara sadar. Kalaulah saya menghadapi persimpangan, saya mau bisa berhenti sebentar dan berfikir mau melangkah di jalur yang mana. Saya tidak mau seperti air yang membabi buta mengalir setiap kali ada celah terbuka. Suatu saat dia terjebak, baru terdiam.
Saya juga ingin punya cita-cita, mimpi dan harapan. Air tidak punya mimpi selain ingin terus mengalir ke segala tempat dan bergerak dalam siklus yang berputar-putar tiada habis. Saya ingin lebih, ingin mendapatkan yang terbaik dari setiap pilihan-pilihan yang ada. Ingin berjuang lebih keras supaya bisa menuju tempat yang lebih tinggi tidak hanya pasrah selalu mengalir ke bawah.
Tapi tetap ada beberapa sifat air yang memang ingin saya tiru, sabar (walaupun kalau sudah marah bisa begitu menghancurkan) dan calming. Untuk dua hal ini, selamanya selalu ingin saya tiru.
Seharusnya begitu ya, kita tidak menjadikan satu elemen saja sebagai pencitraan diri kita. tapi menggabungkan setiap kebaikan dari setiap elemen : Air, Tanah, Api dan Udara. I’ll think about it …
365 Thankful Days Project – Day 179 : Si Bodoh Yang Pintar
Biasanya, kita akan amat sangat menolak dalam keadaan bagaimana pun, kalau dianggap bodoh atau salah oleh orang lain. Maunya, kita selalu dianggap pintar, selalu dianggap benar. Well, katanya ini manusiawi banget.. kenapa ya ? Saking manusiawinya, kadang reaksi kita begitu otomatis (marah, tersinggung,sedih) begitu kita merasa seseorang menganggap kita bodoh.
Padahal, dalam dunia yang dipenuhi oleh orang-orang pintar ini, terkadang amat sangat baik untuk menjadi orang bodoh.
Ada cerita tentang seorang bodoh yang jika disodorkan dua koin, ia akan mengambil koin dengan nilai terendah. Orang-orang selalu menertawakannya, dan bermain-main dengan menunjukkan dua koin kepadanya. Tapi ia selalu mengambil koin dengan nilai terendah.
Suatu hari, seorang yang baik hati, karena kasihan pada si bodoh yang selalu ditertawakan, berkata : ” Jika ada orang yang menunjukkan padamu dua koin, ambillah yang nilainya paling tinggi supaya kau tidak ditertawakan”.
Lalu si bodoh menjawab : ” Kalau saya memilih koin dengan nilai yang lebih besar, orang-orang akan berhenti menawarkan saya koin. Mereka senang karena merasa ada orang yang lebih bodoh dari pada mereka. Anda tidak bisa bayangkan berapa banyak uang yang sudah saya kumpulkan dengan cara ini “.
Pintarnya si bodoh ..
Bob Sadino berkata, bahwa ia bisa berhasil seperti sekarang karena selalu menempatkan dirinya sebagai orang goblok. Katanya, dengan menjadi goblok, orang-orang akan selalu membagikan Ilmu kepadanya. Jadi jika kita bertanya pada beliau bagaimana caranya agar bisa sukses, kemungkinan besar beliau akan berkata : Anda harus belajar jadi goblok !
Note : Menjadi bodoh dengan tujuan untuk mempelajari sebanyak-banyak hal dan memperoleh sebesar-besar keuntungan adalah baik. Tapi jangan menjadi si bodoh yang memang bodoh seperti melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dan merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan ( which is kadang saya sendiri masih begitu, bodoh beneran
.. )
365 Thankful Days Project – Day 175 : What Kind Of Woman Are You ?
Perempuan, bisa menempuh berbagai jalan untuk menghadapi masalahnya. Dan jalan yang akan dia tempuh, mungkin tergantung dari tipe dasar yang dimilikinya.
Ada beberapa tipe perempuan dalam hal menghadapi tantangan hidup :
1. Dia yang bertipe seperti mata air. Apapun tantantangan yang dihadapinya sendiri sepanjang jalan, akan dianggapnya sebagai buah manis dari pengalaman hidup.
2. Dia yang bertipe martir, akan memperoleh pencerahan melalui rasa sakit, penderitaan dan penyerahan dirinya.
3. Dia yang bertipe malaikat, akan menemukan alasan keberadaannya melalui cinta yang dia berikan tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan balasan.
4. Dia yang bertipe penyihir, akan selalu membenarkan keberadaannya melalui pencarian kesenangan hidup tiada akhir.
So, what do you want to be? You can’t want to be happy, because that’s too easy and too boring . You can’t want only to love, because that’s impossible (Paulo Coelho, The Witch of Portobello).
Kadang-kadang perempuan selalu berpikir bahwa jalan yang ditempuhnyalah yang akan membawanya sampai pada tujuannya. Padahal, dengan setiap langkah yang dibuatnya, dia sudah tiba di tempat tujuannya. Taking steps is what matters.
365 Thankful Days Project – Day 173 : Your Wish Against GOD’s Wish
Saya berharap agar Tuhan memberikan kesabaran. Tapi ternyata Tuhan berharap sayalah yang meraih kesabaran itu sendiri, dengan tabah dan teguh bertahan di dalam setiap kesulitan.
Saya berharap agar Tuhan memberikan kebahagiaan. Tapi ternyata Tuhan berharap sayalah yang menghargai setiap pemberian-Nya, apa pun itu, agar beroleh bahagia.
Saya berharap agar Tuhan menjauhkan saya dari kesulitan. Tapi ternyata Tuhan berharap agar setiap penderitaan dan kesulitan bisa memberikan saya pelajaran berharga dan semakin memahami Ilmu-Nya.
Saya berharap agar Tuhan memberikan kenikmatan. Tapi ternyata Tuhan berharap agar saya selalu bersyukur sehingga bisa menikmati segala hal.
Saya berharap agar Tuhan mengaruniakan saya cinta. Tapi ternyata Tuhan berharap sayalah yang memberikan cinta, sehingga cinta itu akan tumbuh melingkupi saya juga.
Tuhan dengan Ilmu-Nya tahu, apa yang kita inginkan tidaklah selalu apa yang kita butuhkan ….
365 Thankful Days Project – Day 125 : Choose Your Thoughts Like You Choose Your Clothes Every Day
Judul yang panjang ya, tapi begitulah, tidak bisa dipotong karena memang itu intinya …
Hanya membayangkan saja, setiap hari saat hendak berpakaian, kita pasti memanjangkan waktu sejenak untuk memilih apa yang akan kita kenakan hari itu. Entah itu warnanya, motifnya, kombinasinya, sesuaikah dengan kegiatan yang akan kita jalani hari ini, sudah berapa seringkah dalam seminggu ini kita memakainya, kotorkah, baukah, macam-macam pertimbangannya sebelum benar-benar memilih satu.
Dan setelah acara pilih-pilih itu selesai, kita akan mematut-matut diri di depan cermin. Apakah bayangan yang terpantul itu sudah enak dilihat atau belum. Kalau belum, acara pilih-pilih itu bisa mulai lagi dari awal. Setiap hari seperti itu.
Tapi sayangnya, kita tidak bisa begitu setiap hari terhadap pikiran-pikiran kita. Semua pikiran yang muncul dikenakan tanpa berpikir lagi apakah kombinasinya itu akan merusak jiwa kita atau tidak. Ibarat pakaian menutupi tubuh, begitu pulalah pikiran melingkupi jiwa.
Itu, cuma sekedar perbandingan saja. Toh jiwa saya pun belum saya tutupi dengan pikiran-pikiran terbaik saya. Bahkan kadang-kadang saya memakai pikiran yang jelek tanpa berpikir dua kali atau berusaha memilah-milahnya terlebih dahulu. Akibatnya, jiwa saya tidak bisa terlihat cantik.
Hmm .. mudah-mudahan ini akan saya ingat baik-baik setiap kali pikiran-pikiran tidak berguna muncul. Bahkan mungkin seharusnya mereka bisa saya buang dari lemari pikiran saya.
365 Thankful Days Project – Day 117 : Kalibrasi
Dalam dunia pekerjaan saya, setiap tool atau peralatan kerja yang dipakai, wajib dikalibrasi minimal satu tahun sekali. Karena alat-alat ini jika dipakai selama setahun, maka hasil pengukuran yang akan terbaca sudah tidak akan akurat lagi.
Yang dimaksud dengan kalibrasi adalah, mengembalikan titik netral alat kepada titik nol. Jadi dalam keadaan normal atau sedang tidak digunakan, maka posisi jarum atau angka digital akan berada pada titik nol. Sehingga sewaktu dipakai untuk bekerja atau mengukur sesuatu, akan memberikan hasil pengukuran yang pas sesuai dengan kondisi yang ada.
Hanya berpikir saja, bagaimana kalau manusia yang dikalibrasi. Dikembalikan ke titik nol. Dalam kondisi ini, manusia akan berada pada titik netral atau seimbang, sehingga sewaktu diberi beban, dia akan menerimanya sesuai dengan kadar beban itu apa adanya.
Maksudnya, kadang dalam menghadapi suatu masalah itu, manusia seringkali bereaksi berlebihan. Reaksi penerimaan terhadap suatu masalah ini seringkali lebih menimbulkan masalah ketimbang masalah itu sendiri. Seringkali ditambah-tambahi dengan subjektifitas, dramatisasi, emosi tinggi, bahkan depresi. Padahal masalahnya sendiri mungkin tidak seluar biasa itu, kalau istilah saya, toh masih bukan masalah hidup dan mati.
Tapi kalau kita berada di titik nol, titik netral, sewaktu diberi beban, maka kita akan menerima masalah itu apa adanya. Tidak perlu dibumbui dengan yang lain-lain. Apalagi kalau memberi bumbunya ramai-ramai alias ngajak-ngajak orang lain untuk ikut susah bersama.
Kalau untuk alat-alat kerja, saya mengirimnya ke laboratorium untuk dikalibrasi. Kalau manusia ? Lucunya, kalau dipikir-pikir sebenarnya kita sudah dikalibrasi lima kali dalam sehari, dalam setiap shalat yang kita dirikan. Tapi lucunya lagi, pada saat shalat kita berusaha berada di titik nol, titik kesetimbangan. Tapi begitu selesai salam, jarumnya langsung bergeser lagi seperti timbangan rusak.
Bagaimana ini … kalau alat saya yang begitu, sehabis dikalibrasi malah nyimpang lagi, kalau gak masuk bengkel reparasi ya dibuang. Out of order.
Saya ini, sudah jadi barang out of order atau belum ya …
Bersyukurnya, hal begini masih kepikiran hehehe meskipun pada prakteknya masih jauh, seperti timbangan rusak.
