Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 204 : Last Day

Hari terakhir sebelum saya meninggalkan pekerjaan saya. Surat perpisahan sudah dikirimkan, dengan judul Friends Never Say Goodbye. Sedih juga rasanya …

Sedih tapi mantap. Satu babak sudah selesai dalam hidup saya. Sudah tahu rasanya, been there done that. Dan sudah cukup. Jadi sudah saatnya melangkah lagi buat menapaki cita-cita yang sesungguhnya.

Tapi sebelum melangkah maju, saya harus berhenti sejenak untuk melihat ke belakang lagi dan berkata pada semua: Terima kasih atas penerimaannya selama ini, atas bantuannya yang luar biasa di tengah keterbatasan saya sebagai seorang perempuan, atas hari-hari penuh tekanan tapi dilalui dengan team work yang baik,  atas perhatian yang diberikan di saat saya sedang merasa kurang sehat (langsung disuruh pulang), atas kesabaran menjawab pertanyaan-pertanyaan saya (maklum waktu masuk benar-benar blank), atas kepercayaan yang diberikan di saat saya sendiri pun merasa tidak percaya.

Semuanya membentuk saya yang sekarang.

I’m moving forward tapi saya berharap tidak akan dilupakan dan tidak akan melupakan…

Terimakasih ya Allah atas kesempatan belajar yang telah Engkau berikan di tempat yang lalu, dan mudah-mudahan selalu terbuka jalan untuk belajar di mana pun. Amiinn …

Thanks friends:)

April 30, 2011 Posted by | professional | | 1 Comment

365 Thankful Days Project – Day 203 : Lesson Learnt

My last task before I’m leaving from my company was to make a Project Lesson Learnt. Dalam dunia profesional, setiap berakhirnya suatu project, demi adanya pembelajaran dan perbaikan untuk tugas-tugas selanjutnya, biasanya dibuat satu dokumen yang berisi kegagalan-kegagalan yang pernah dialami beserta jalan keluarnya, serta keberhasilan-keberhasilan yang dicapai.

Pada bagian pembelajaran, bahasan dibagi kepada : permasalahan, akibat yang ditimbulkan dan penyelesaian.  Dan semua permasalahan dibagi-bagi berdasarkan jenis pekerjaan yang dihadapi. Runut dan sistematik.

Mengerjakannya memberikan tantangan dan kenikmatan tersendiri. Saya jadi berusaha mengingat-mengingat kembali permasalahan-permasalahan apa saja yang sudah kami hadapi dan bagaimana kami menghadapinya. Well, itu kalau dalam menangani pekerjaan sebagai seorang profesional.

Saya jadi membandingkannya dengan kehidupan, a never ending drama. Meskipun banyak kali kita mengalami kegagalan-kegagalan, tapi sepertinya jarang di antara kita yang merangkumnya menjadi satu lesson learnt. Yang ada malah kita seperti kaset rusak yang melantunkan lagu yang sama over and over again, sampai para pendengarnya muak dan kabur, kalau tidak mau menghancurkan kasetnya.

Saya pernah membaca sebuah kalimat yang kira-kira bunyinya : Melakukan sesuatu dengan cara yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda, adalah suatu kebodohan. Mungkin maksudnya, kalau kita gagal memperoleh sesuatu dengan suatu cara yang sama selama dua – tiga kali, sebaiknya lakukanlah dengan cara yang lain. Atau kita akan berakhir jadi si kaset rusak.

Manusia bisa berubah, tapi ada manusia yang tidak mau berubah. Mungkin itu kata intinya : “mau”. Kalau mau, pasti bisa. Kalau tidak mau, ya tidak akan bisa.  Dan mau sama sekali tidak bisa dipaksa. Mau datang dari kesadaran. Datang dari rasa muak dan ingin berubah. Kalau belum muak, berarti masih asyik, kalau masih asyik, berarti belum mau belajar, kalau belum mau belajar berarti belum mau berubah. 

Jadi… lesson learnt number one . Manusia baru muak kalau sudah gak ada yang asyik lagi.

April 30, 2011 Posted by | Learning, Life, professional | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 195 : Resignation Notice .. Let’s Move On !

Hari ini tepat pada tanggal 1 April, saya mengirimkan surat pemberitahuan pengunduran diri saya . Berhubung saya salah pilih tanggal.. bos-bos agak cuek dikira April Mop hihihi .. Sampai ditelpon cuma buat bilang, iya nanti sebelum makan siang bilang ya kalau cuma April Mop..

Maaf bos.. I’m serious and it’s final

So that’s it 3 years working as an engineer, completing 3 projects. I think that’s enough for me, kalau tujuannya cuma untuk membuktikan bahwa saya bisa, saya proven bisa. Kalau tujuannya untuk aktualisasi diri (istilahnya para feminis), diri saya sudah terbukti aktual :) . Kalau tujuannya untuk membantu ekonomi keluarga, well memang banyak membantu but still not enough ternyata ..

Yang cukup mengharukan adalah reaksi sahabat-sahabat seperjuangan. Gak bisa dipertimbangkan lagikah ? Mbak, nanti kita bantu deh kalau memang kerepotan…Kalau kamu mau bisa kerja dari rumah dan bikin timesheet tersendiri… Yah Bu, jangan ganti nomor hp ya nanti saya mau kirim undangan nikah gimana ?

That’s sweet but so sorry.. I need to move on.

Meninggalkan pekerjaan ini sebenarnya sama gugupnya seperti saat memulainya dulu. Dulu saya tidak yakin apakah saya bisa menjalani pekerjaan dengan tanggung jawab yang cukup besar, dan sekarang saya khawatir kalau saya nanti merindukan segala kehebohan itu.

Tapi kekhawatiran itu tidak sebanding dengan cita-cita saya yang lebih besar lagi, untuk diri saya dan keluarga terutamanya.

Si kecil akan segera hadir dan saya adalah tipe ibu penyusu yang hanya memberikan ASI buat anak-anak saya, dan saya ingin selalu ada kapan pun dia terbangun dan membutuhkan ibunya. Bersamaan dengan kandungan ini juga, saya sedang berusaha melahirkan bisnis saya sendiri. Usaha sendiri pasti bisa membikin saya jadi lebih “aktual” .. apalagi kalau berhasil tentu lebih bisa memberi manfaat pada banyak pihak. Lalu waktu berharga dengan suami pun akan lebih banyak, bisa lebih bebas merencanakan banyak hal.

So.. satu bulan lagi sebelum saya benar-benar meninggalkan dunia profesional ini. Dan move on untuk membangun dunia baru. Semangaatt ….

April 1, 2011 Posted by | Life, professional | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 117 : Kalibrasi

Dalam dunia pekerjaan saya, setiap tool atau peralatan kerja yang dipakai, wajib dikalibrasi minimal satu tahun sekali. Karena alat-alat ini jika dipakai selama setahun, maka hasil pengukuran yang akan terbaca sudah tidak akan akurat lagi.

Yang dimaksud dengan kalibrasi adalah, mengembalikan titik netral alat kepada titik nol. Jadi dalam keadaan normal atau sedang tidak digunakan, maka posisi jarum atau angka digital akan berada pada titik nol. Sehingga sewaktu dipakai untuk bekerja atau mengukur sesuatu, akan memberikan hasil pengukuran yang pas sesuai dengan kondisi yang ada.

Hanya berpikir saja, bagaimana kalau manusia yang dikalibrasi. Dikembalikan ke titik nol. Dalam kondisi ini, manusia akan berada pada titik netral atau seimbang, sehingga sewaktu diberi beban, dia akan menerimanya sesuai dengan kadar beban itu apa adanya.

Maksudnya, kadang dalam menghadapi suatu masalah itu, manusia seringkali bereaksi berlebihan. Reaksi penerimaan terhadap suatu masalah ini seringkali lebih menimbulkan masalah ketimbang masalah itu sendiri. Seringkali ditambah-tambahi dengan subjektifitas, dramatisasi, emosi tinggi, bahkan depresi. Padahal masalahnya sendiri mungkin tidak seluar biasa itu, kalau istilah saya, toh masih bukan masalah hidup dan mati.

Tapi kalau kita berada di titik nol, titik netral, sewaktu diberi beban, maka kita akan menerima masalah itu apa adanya. Tidak perlu dibumbui dengan yang lain-lain. Apalagi kalau memberi bumbunya ramai-ramai alias ngajak-ngajak orang lain untuk ikut susah bersama.

Kalau untuk alat-alat kerja, saya mengirimnya ke laboratorium untuk dikalibrasi. Kalau manusia ? Lucunya, kalau dipikir-pikir sebenarnya kita sudah dikalibrasi lima kali dalam sehari, dalam setiap shalat yang kita dirikan. Tapi lucunya lagi, pada saat shalat kita berusaha berada di titik nol, titik kesetimbangan. Tapi begitu selesai salam, jarumnya langsung bergeser lagi seperti timbangan rusak.

Bagaimana ini … kalau alat saya yang begitu, sehabis dikalibrasi malah nyimpang lagi, kalau gak masuk bengkel reparasi ya dibuang. Out of order.

Saya ini, sudah jadi barang out of order atau belum ya …

Bersyukurnya, hal begini masih kepikiran hehehe meskipun pada prakteknya masih jauh, seperti timbangan rusak.

November 2, 2010 Posted by | professional, Thoughts | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 102 : Training

Kali ini, saya punya tugas memberikan training kepada beberapa pekerja lapangan. Hey, kalau mau jujur sih, saya sendiri masih butuh di training. Mungkin karena dianggap pengetahuan saya masih setahap di atas mereka, maka saya dianggap berhak memberikan training.

Saya sendiri mengakui, bahwa sewaktu pertama kali terjun ke dunia ini, pengetahuan saya hampir nol besar. Lucunya, karena latar belakang pendidikan saya lebih tinggi daripada para teknisi yang ada di lapangan, maka saya memperoleh posisi yang lebih tinggi daripada mereka. Pada kenyataannya, merekalah yang benar-benar punya pengalaman dan kemampuan.

Tapi syukurlah dalam proses belajar sepanjang waktu, mereka semua dengan senang hati membantu. Kalau belajar dari buku-buku saja sih, dapat apa ? Malah makin pusing. Kenyataan di lapangan seringkali lebih mengajarkan banyak daripada buku-buku. 

Jadi, sewaktu memberikan training pun, contoh-contoh kasus yang saya berikan juga kebanyakan berasal dari pengalaman kerja teman-teman yang lain di lapanngan.  Dan saya juga mendengarkan berbagai pengalaman mereka, kira-kira di mana kurangnya dan apa yang harus mereka ketahui sebagai bekal dalam pekerjaan mereka nanti.

Mudah-mudahan pada lulus. Kalau gak lulus kan berarti yang ngasih training juga yang kurang pas penyampaiannya.

October 9, 2010 Posted by | Activity, professional | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 79 : Encyclopaedia of People Behavior

Ada hal agak lucu, kalau tidak mau dibilang aneh, yang saya amati dari orang-orang di lingkungan tempat saya bekerja.

Pada satu titik, jika suatu pekerjaan itu memiliki nilai komersial tinggi dan toleransi rendah terhadap kesalahan, maka yang akan muncul adalah politik covering your ass (Maaf atas bahasanya, tapi begitulah istilah yang dipakai).

Saya sudah melihat orang-orang yang mungkin, pada kesannya terlihat ramah. But once any problem encountered, they will stab you from behind, just to, once again, trying to cover their  ***. Biasanya untuk berhadapan dengan orang-orang semacam ini, we could never act soft.

Lalu saya punya seorang rekan kerja, a senior technician, yang punya kepribadian sangat saklek. Setiap masalah akan selalu dia buka di depan, bersama dengan bukti-bukti  lapangan yang ia miliki. Ujung-ujungnya, ia jadi termasuk golongan orang-orang yang tidak disukai. Padahal setiap masalah yang ia sampaikan, benar adanya.

Katanya pada saya, ” Julia, you must remember, the more stubborn they are, the harder you must hit them, don’t be soft. But if they want to cooperate, you must also be more cooperative”.  

Atau, saya pernah dinasihati begini, always prepare your bullet. So anytime they  try  to shoot you , you are ready to shoot them back (I’m wondering, are we working or having war ?)

Beberapa kali saya mengeluh pada suami, bahkan kadang sampai hampir menangis, pekerjaan saya sekarang ini terlalu keras untuk saya jalani. Tapi katanya, I must work smarter. Jangan mau menghabiskan waktu dengan orang-orang semacam itu, tapi langsung berhubungan dengan atasannya.

Ok, now the thankful part.

If you just know me, saya termasuk golongan perempuan yang perasa dan tidak suka banyak ribut-ribut apalagi harus pakai intrik-intrik politik, it’s just not me. Tapi bekerja di tempat yang cukup keras begini, saya jadi sedikit-sedikit bisa belajar menilai orang. Ada manusia berwajah manis tapi berhati culas, ada orang yang bicaraaa terus supaya dikenal  tapi kerjanya tidak ada, ada yang sebenarnya tidak pintar tapi sangat rajin, ada yang sebenarnya pintar tapi malas, ada yang tidak tahu apa-apa tapi merasa jadi orang yang paling tahu, ada yang kerjanya mem-push orang sana-sini  habis itu dia keluar untuk merokok, dan lain-lain dan lain-lain.

Menambah perbendaharaan  sifat manusia di dalam ensiklopedi saya.

August 25, 2010 Posted by | Observation, professional | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 35 : Working Mom

I have some limitations that I always try to admit to everyone. Terutamanya di lingkungan professional tempat saya bekerja. I’m a working mom, with lots of things crossing in my minds. I can only put 100 % of my concentration at work only if I believe that everything is well managed at home.

Tapi susah sekali .. kadang saya memperhatikan perempuan-perempuan pekerja yang sepertinya punya kemampuan luar biasa untuk mengembangkan kariernya, dan entah bagaimana caranya, somehow juga mengurus keluarganya. Apa memang keduanya bisa dijalankan bersama-sama ? Kalau saya sedang bekerja, saya teringat urusan keluarga. Kalau saya di rumah, saya tidak bisa benar-benar fokus karena terngiang-ngiang dengan outstanding work di kantor. Buat saya mustahil bisa maksimal di kedua peran. Pasti satu akan terbengkalai atau paling tidak tertunda jika yang satu diberi perhatian lebih. Dan sangat tidak fair kalau yang harus mengalah adalah anak-anak.

Hari ini saya terganggu karena merasa disindir. Oh, si ini hebat sekali, dia selalu ada di mejanya dan menyelesaikan semua urusannya. Diucapkan keras-keras seolah-olah supaya saya, yang suka kabur karena urusan keluarga ini, bisa mendengarnya. Tapi ya mau bagaimana, memang benar koq. Julukan saya di kantor ? Si tukang kabur atau si jam 4. Karena saya bisa dengan tiba-tiba lari meninggalkan apa pun demi rumah, dan setiap jam 4 teng pasti sudah menghilang.

Kedengarannya memang sangat tidak professional. Tapi hal ini, saya komunikasikan dengan teman-teman kerja semua. Mohon maaf, memang begini kondisinya. Dan meskipun menerima sindiran-sindiran dan julukan-julukan, yang memang harus saya terima dengan besar hati karena keterbatasan saya ini, saya juga dikelilingi oleh orang-orang yang siap sedia membantu.

Saya punya sekretaris yang mau mencatat, menerima dan menjawab semua telefon yang masuk saat saya tidak di tempat (bahkan dia sering jadi sasaran semprotan client yang kecewa karena saya sedang tidak ditempat, tapi selalu menjawab, “ tenang aja mba, sudah diselesaikan”). Saya punya supir yang selalu siap mengantar dan menjemput saya tepat waktu bahkan di saat saya sedang terbirit-birit. Saya punya anak buah di lapangan yang selalu siap menghadapi beban kerja yang tinggi dan melaporkannya pada saya sehingga saya tidak ketinggalan update pekerjaan terakhir. Saya punya mentor yang sangat berpengalaman dalam bidangnya dan meskipun suka menyindir tapi selalu siap men-support saya. Saya punya team leader di pusat yang juga selalu berkata, “kalau butuh bantuan kasih tahu aja”.  Bahkan saya punya manager yang bersedia berkata kepada client,” Maaf, Julie tidak bisa datang jam 7 pagi karena dia harus menyiapkan anak-anaknya ke sekolah dulu sebelum bekerja”.

Kids, kalau suatu saat ummimu ini berhasil, itu bukan karena ummi hebat. Tapi itu karena ummi dikelilingi oleh orang-orang hebat yang memang selalu willing to help and willing to undertstand. Karena tanpa orang-orang seperti itu di sekeliling kita, mustahil kita akan berhasil meraih apa pun dalam hidup ini. All you have to do is just admit that you have limitations, but you do want to give your best. People will open their arms to help you, believe me.

July 7, 2010 Posted by | Effort, professional | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 12 : Revise The Blue Print

A blueprint is a type of paper-based reproduction usually of a technical drawing, documenting an architecture or an engineering design. More generally, the term “blueprint” has come to be used to refer to any detailed plan of action, a model or prototype.

Kalau dalam Bahasa Indonesia, blueprint sama dengan Rancang Bangun. Dan sebagai suatu rancang bangun, maka apa pun yang kita bangun, kita ciptakan, kita wujudkan, haruslah berdasarkan rancang bangun atau cetak biru tersebut. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih, karena blueprint memang dibuat dengan berbagai perhitungan dan perencanaan yang kompleks dan teliti.

Tapi ada hal lucu yang terjadi, paling enggak dalam dunia pekerjaan saya, bidang konstruksi. Blueprint sudah ada, biasanya disebut sebagai engineering design atau engineering drawing. Tapi dalam perjalanan pembangunannya, kami selalu menemukan berbagai ketidaksesuaian sehingga sulit untuk mencapai suatu bentuk konstruksi yang diinginkan. Akhirnya, keluar yang namanya drawing revision. Dan drawing revision ini, bisa banyak sekali jumlahnya. Sehingga sistem konstruksi yang sudah dipasang pun akan dibongkar lagi untuk kemudian dibangun lagi sesuai dengan gambar yang sudah direvisi. Ternyata masih salah lagi, revisi gambar lagi, bongkar pasang konstruksi lagi.

Itu artinya, sehebat apa pun manusia merancang, tidak akan pernah bisa sempurna. Selalu ada perbaikan-perbaikan di sepanjang jalannya. Bahkan cetak biru yang seharusnya jadi acuan pun sah sah saja dibongkar pasang. Masalah revisi gambar ini sering kali menjengkelkan saya, karena pekerjaan jadi tidak kunjung selesai. Tapi memang manusia seperti itu kan, sehebat apa pun berusaha menciptakan sesuatu, tetap saja sepanjang jalan diingatkan, bahwa manusia punya keterbatasan dalam mencipta.

Sebelum alam semesta ini diciptakan, Allah dengan ILMU-Nya sudah membentuk satu rancang bangun luar biasa. Baik rancang bangun untuk pembangunan semesta alam, maupun rancang bangun untuk perjalanan budaya. Kadang kita menyebutnya sebagai Qadar. Rancang bangun yang Maha Sempurna. Coba bayangkan, jika dalam proses penciptaan, Allah harus bolak-balik merevisi ciptaan-Nya karena rancang bangunnya tidak sempurna, jadi seperti apa ya kita semua ?

June 10, 2010 Posted by | professional, Thoughts | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.