Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 215 : Approved !

Saat mendengar seseorang berkata ;

“Selamat, proposal Anda disetujui,” atau “Selamat, pinjaman Anda disetujui”, atau “Selamat, lamaran Anda diterima”, atau “Selamat, usulan Anda diterima”, atau “Selamat, permohonan Anda dikabulkan”,

bagaimana rasanya ?

For a moment, probably like at the top of the world !  Meskipun bagi orang lain itu hanya keberhasilan kecil, tapi bisa menerima kalimat-kalimat persetujuan seperti di atas, rasanya seperti membawa kita naik ke level yang lebih tinggi dalam hidup ini.

Well, tentunya suatu keberhasilan memang layak dirayakan.

Hanya saja kadang-kadang kita lupa, bahwa memperoleh pengakuan dari orang lain itu bisa berarti dua hal : Bahwa mereka mengakui kapabilitas kita berdasarkan proposal atau CV canggih yang kita sodorkan , dan bahwa mereka ingin kita membuktikan kapabilitas seperti yang sudah kita janjikan sebelumnya.

Menyodorkan proposal dan membuktikan kemampuan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu menyodorkan janji, yang lain memberikan bukti. Seseorang bisa dikatakan profesional atau mempunyai kredibilitas jika bisa membuktikan janji-janji yang sudah ia lontarkan. Dan memberikan bukti, pastinya jauh lebih sulit daripada menyusun sebuah proposal.

Dalam hal ini, hanya satu kata sakral yang ingin kita jaga : Trust.

Kepercayaan adalah segalanya. Janji-janji manis di awal tanpa pembuktian, akan meruntuhkan kepercayaan dan membuat orang lain pergi meninggalkan kita.

Hari ini saya menerima persetujuan, dan saat yang bersamaan kehilangan kepercayaan juga pada seseorang yang awalnya saya percayai. Jadi mulai hari ini saya harus menjaga kepercayaan atas persetujuan yang saya terima, tapi juga meninggalkan kepercayaan saya pada pihak lain yang sudah menyia-nyiakan kepercayaan itu. What a life ..

September 20, 2011 Posted by | Life, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 206: Manager

Sewaktu berjalan-jalan di Nagoya Hill,sebuah pusat pusat perbelanjaan di Batam, lewatlah seorang perempuan muda yang gayanya chic sekali : Make up yang pantas dengan bulu mata lentik dan tebal karena sapuan maskara, rambut panjang tertata rapi seperti habis dari salon, gaun putih melekat pas di badannya yang tinggi langsing, sepatu high heels putih dan tas yang gaya.

Ternyata Najmi juga memperhatikan. Setelah puas menoleh, dia berkata: “Ummi, ibu itu manager ya ?”

Saya hampir tertawa.. rupanya dari melihat penampilan sempurna, anak kecil pun bisa memberikan pandangan tentang kedudukan seseorang.

Lalu saya bertanya : “Kalau Ummi kayak apa?”

Dia pandangi penampilan saya: Baju gombrong, celana gombrong, jilbab gombrong  plus sendal deplek dan wajah tanpa make up yang hanya dipoles lipstik seadanya. Gak iya banget deh pokoknya. Alasannya : suami sedang tidak ada,malas betul rasanya harus berdandan rapi-rapi.

“Ummi kayak ibu-ibu”, udah… itu aja kesimpulannya.

Jadi saudara-saudara… look does matter, bahkan di mata seorang anak kecil sekalipun. Dan biasanya anak kecil juga tidak pelit pujian. Karena kalau saya berdandan rapih, Najmi juga pasti berkomentar, “Ummi cantik..”

May 12, 2011 Posted by | Observation | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 190 : Maemuki

Dunia saat ini sedang memandang Jepang yang tengah dilanda tiga bencana sekaligus : gempa, tsunami dan radiasi nuklir, ditambah sekarang dengan salju tebal yang menghambat proses evakuasi. Tapi dunia tidak memandang Jepang dengan perasaan iba seperti halnya dunia memandang Indonesia saat terjadinya bencana tsunami 2004, melainkan dengan perasaan kagum dan penuh harap. Kagum akan sikap pemerintah dan seluruh rakyatnya dalam menghadapi bencana, serta penuh harap bahwa Jepang akan kembali bergerak maju untuk membangun masa depannya dari kehancuran, sesuai dengan prinsip bangsa mereka : Maemuki (menatap ke depan).

Arti kata menatap ke depan ini berarti bisa disamakan dengan menatap masa depan dengan tidak terlalu menyesali hal buruk yang telah menimpanya, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk mencapai kebaikan dan kemajuan. Dan sepertinya prinsip maemuki ini jauh lebih meresap dalam hati dan kehidupan bangsa Jepang ketimbang prinsip Bhinneka Tunggal Ika  bagi bangsa Indonesia.

Kata-kata penyemangat lain yang sangat dimaknai secara dalam bagi bangsa Jepang adalah : Gambaru Sika Nai, artinya : hanya bisa dengan berusaha.

Gambaru Sika Nai ini sering diucapkan jika ada teman, atau keluarga yang tertimpa masalah. Dan memang jiwa pantang mundur menatap ke depan bangkit dari keterpurukan bangsa Jepang ini benar-benar mereka miliki, dan hayati. Seberat apapun musibah, pantang bagi bangsa Jepang untuk menghiba-hiba bantuan dan diam mengeluh.

Kata-kata penyemangat lain adalah : Gambatte Kudasai yang berarti berusahalah / harus lebih bersemangat, atau : Gambarimashoo , mari berusaha.

Lalu ada lagi : Giri Giri Made Ganbatte, semangat sampai titik akhir.

Kalau memandang semangat bangsa ini, rasanya saya malu pada bangsa sendiri. Bukannya ingin mengecilkan bangsa sendiri terhadap bangsa lain. Tapi memang begitulah adanya.

Semangat apa yang harus kita miliki supaya bisa seperti mereka ya ?

* semoga segala semangat dan usaha bangsa Jepang bisa membuat mereka bangkit dari bencana, dan memberikan pantulan terang bagi bangsa-bangsa lain di dunia, Amiinn …

March 19, 2011 Posted by | Learning, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 166 : Please Take It, I Don’t Like It

Hari ini saat melihat sekantung jeruk santang di dalam kulkas kantor, tiba-tiba saya kepingin. Habis makan siang kan seger ya makan jeruk manis yang dingin hmmm…

Trus saya tanya, ini jeruk siapa ya, boleh bagi satu ga ?

Lalu salah satu menjawab, jangan itu jeruknya Kevin buat makan siang. He’ll kill you if you take it.

Ow… ok dee.

Lalu sang Kevin masuk dan diberi tahu kalau saya ingin satu jeruknya. Diberi satu, Alhamdulillah.

Gak lama dia berkata.. eh, makan aja deh semua. Aku ga suka, banyak bijinya.

Hahaha… diberi karena gak suka. Kalau suka, mau diumpetin ya ?

January 26, 2011 Posted by | Observation | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 153 : Rules and Consequences

Sejak tanggal 1 Januari 2011, lapangan fabrikasi tempat saya bekerja, mengharamkan adanya rokok di setiap lokasi. Selama ini, masih disediakan Smoking Area bagi para perokok, di lokasi yang dibuat tidak nyaman karena letaknya pas di bawah sinar matahari, dibentuk seperti kandang dan dapat dilihat orang banyak. Penempatan lokasi seperti ini pun sebenarnya supaya timbul rasa malu, meskipun saya pikir gak ngaruh juga …

Lucunya, sejak diberlakukan pelarangan sama sekali, kegiatan merokok ini malah dilakukan sembunyi-sembunyi, tersebar di seluruh lokasi. Jadi yang biasanya terlihat dan terkontrol karena hanya dilakukan di tempat-tempat tertentu, sekarang malah seperti penyakit yang menyebar secara diam-diam, under ground.

Tapi peraturan, adalah peraturan. Sepertinya para penjaga keselamatan kerja dan keamanan juga punya rencana tersendiri untuk membasmi kegiatan smoking under ground ini. Jelas mereka nanti akan menetapkan hukuman bagi yang kedapatan melanggar.

Buat orang-orang yang memang dasarnya nakal, peraturan dibuat untuk dilanggar, bukannya untuk dipatuhi. Jadi sebenarnya semakin banyak peraturan, semakin banyak pula pelanggaran. Karena, lucunya, akibat adanya peraturan, justru jadi tahu apa yang mau dilanggar. Aneh ya …

Tapi yang harus diingat adalah, bahwa setiap peraturan biasanya datang dengan konsekuensi. Well.. kalaupun tidak berupa hukuman, mungkin beban moral. Itu pun kalau orang-orang masih peduli dengan moral. Tapi yang jelas, peraturan sebenarnya dibuat untuk tujuan yang baik kan. Jadi kenapa kita masih perlu ditakut-takuti dengan hukuman kalau tujuannya memang baik ?

January 6, 2011 Posted by | Dislike, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 143 : Full Moon

I always love to watch full moon. Suami dan anak-anak tahu itu. Jadi, setiap melihat purnama biasanya anak-anak akan berkata,” Ummi Ummi, liat deh, sudah bulan purnama lagi“. 

Dan malam ini, purnama muncul sempurna, well.. at least di Batam. Meskipun saya ragu kalau bulan muncul dengan rupa yang berbeda-beda di setiap tempat. Bulan yang bulat membadar terang, cantik sekali …

Bulan adalah benda gelap yang melayang di langit, pasrah untuk setia menjadi satelit bagi bumi. Dia memang sudah ditetapkan untuk tidak memiliki cahaya. Tapi setiap malam tiba, dia akan memantulkan sebagian cahaya matahari yang ia terima, ke bumi.

Pernah mendengar bahwa Allah dengan Ilmu-Nya mengumpamakan Muhammad sebagai purnama yang membadar ? Ia memantulkan terang di tengah kegelapan. Ia seperti bulan yang pasrah tidak memiliki cahaya sendiri, tidak memiliki ego, tidak memiliki subjektifisme, tidak memiliki keakuan. Tapi karena ia pasrah dan patuh, maka ia menerima pantulan terang dari Ilmu Allah, dan menyinari kehidupan manusia yang gelap. Ia seperti purnama yang membadar terang, memantulkan cahaya matahari untuk menerangi malam…

Begitu halnya juga manusia .. hanya dia yang bisa membunuh keakuannyalah yang bisa memantulkan terang. Dan ini, demi Allah, tidak mudah. Membunuh subjektifisme dan ego, bahkan diumpamakan Allah seperti memasukkan unta ke lubang jarum. Bayangkan… unta . Saya masih heran kenapa Allah tidak memakai perumpamaan dengan binatang yang lebih kecil ya ? Unta .. kenapa tidak domba saja. Toh memasukkan domba ke lubang jarum juga sudah tidak terbayangkan. Tapi Allah dengan Ilmu-Nya, maha tahu. Memang menghilangkan bebal manusia itu, seperti memasukkan unta ke lubang jarum !

Jadi begitulah … kenapa saya sangat menyukai purnama. Saya juga memperhatikan bahwa, setiap purnama muncul, cahaya bintang-bintang di sekitarnya memudar. Mungkin sama seperti saat laki-laki tanpa ego itu muncul dengan ajaran menurut sunnah rasul-Nya, semua kehebatan-kehebatan lain langsung memudar, kalah oleh pantulan sinar Ilmu-Nya.

Malam ini, the full moon is just as beautiful as always …

December 21, 2010 Posted by | Islam, Nature, Observation | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 127 : Hasta Brata

Pasti alam, adalah ungkapan tersembunyi untuk laku budaya. Pernah memahami kalimat tersebut ?

Allah dengan Imu-Nya memberikan manusia kelengkapan indra demi bisa mengamati alam semesta dan belajar dari sana. Kadang-kadang kita berkelit, bahwa kita tidak bisa berbuat baik karena kita tidak memahami isi kitab yang Allah turunkan. Padahal terkadang yang kita butuhkan hanyalah kemampuan untuk melihat, mendengar dan menangkap getaran yang dipancarkan oleh alam semesta dengan segenap indra kita.

Salah satu hal menarik yang saya temukan adalah “Hasta Brata” atau delapan laku kepemimpinan yang mengambil sifat-sifat keutamaan alam semesta. Dan, karena setiap manusia adalah pemimpin, maka saya rasa Hasta Brata ini bisa kita ambil sebagai pedoman untuk kehidupan kita sebagai pribadi.

1. Bumi  yaitu seorang pemimpin harus setia memberikan kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja, sabar seperti bumi sebagai sumber kehidupan
2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah (rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun, karena air bertabiat rata.
3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).

Hm… jadi sebenarnya, pemimpin justru adalah orang yang paling banyak harus mau berkorban, bukannya menjadi orang yang meminta pengorbanan orang lain.

Yang luar biasa adalah, Hasta Brata di atas adalah asli produk lokal Indonesia. Ini saya ambil dari nilai-nilai kebaikan dalam kisah pewayangan dari negeri Astina. Jadi sebenarnya, ada baiknya jika kita menggali lagi nilai-nilai arif bangsa sendiri, sebelum memutuskan untuk mengangung-agungkan kehebatan bangsa-bangsa lain.

November 20, 2010 Posted by | Nationalism, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 123 : Born to Move

Pernah dengar cerita tentang perjalanan hidup kupu-kupu raja atau monarch butterfly ? They have a very fascinating journey of life.  Dan manusia, tak akan pernah sanggup mengunggulinya.

Kupu-kupu raja, pada musim gugur akan bermigrasi dari Canada bagian selatan, menuju Mexico dan California. Bayangkan, kupu-kupu yang beratnya begitu ringan, bermigrasi dari Canada ke Mexico. Catat ini baik-baik bahwa, tiga generasi pertama (masing-masing berumur dua bulan)terbang dari Canada ke Mexico. Maksudnya, karena waktu tempuh yang panjang, maka butuh tiga generasi untuk sampai di Mexico. Bagaimana setiap generasi bisa mengetahui tujuannya di Mexico ? Hanya Allah dengan Ilmu-Nya yang tahu. Kalau menurut para ahli, peta perjalanan mereka sudah terpatri secara genetik.

Dan generasi ke empat adalah generasi terkuat. Memiliki umur terpanjang (6 bulan) dan menempuh perjalanan kembali dari Mexico ke Canada dalam satu rentang umurnya.

Kupu-kupu raja yang tiba dari Canada, akan hinggap di hutan yang sama di Mexico, bahkan pada pohon yang sama dengan yang dihinggapi oleh induk-induk mereka terdahulu. Lalu mereka berdiam di sana, tanpa makan dan hanya minum air selama empat bulan (periode Desember sampai Maret). Begitu musim semi tiba. mereka akan terbangun dan berpesta pora memakan nektar yang disuguhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Pada akhir Maret, mereka melakukan perkawinan.

Lalu mereka bersiap-siap untuk melakukan perjalanan kembali ke Canada. Dan, hari yang mereka pilih pun tidak sembarangan. mereka akan bergerak secara serentak, pada hari yang disebut autumunal equinox, yaitu pada saat siang dan malam tepat memiliki panjang waktu yang sama. Bagaimana kupu-kupu bisa memiliki perhitungan setepat ini ? Hanya Allah dengan Ilmu-Nya yang tahu.

Lalu kupu-kupu dari generasi terkuat ini akan terbang menempuh jarak hampir 5000 km menuju Canada dalam satu rentang umurnya, tepat kembali ke tempat induk-induk mereka terdahulu. Di sana mereka akan bertelur, lalu mati.

Telur-telur itu kemudian akan menetas, menjadi ulat, kepompong, lalu kembali menjadi kupu-kupu dengan satu tujuan. Terbang kembali ke Mexico ke tempat induknya pernah hinggap dahulu.

Luar biasa ya… mereka hidup dengan satu tujuan : bergerak. Kupu-kupu rapuh itu .. tahu bahwa tanpa berbuat patuh, mereka akan mati.

Lihatlah kita, senang menghabiskan waktu cuma untuk diam-diam saja. Tidak bergerak, tidak bertujuan. Allah dengan Ilmu-Nya menciptakan kupu-kupu raja untuk memberikan kita pelajaran. Pelajaran akan kepatuhan bergerak. Mungkin mereka memang tidak tahu kenapa dan untuk apa. Tapi kepatuhan yang luar biasa untuk terus bergerak, membuat generasi mereka terus berkembang-biak dan memukau dunia…

November 10, 2010 Posted by | Nature, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 113 : Perfect Face

Selama ini, masih menjadi misteri bagi saya bagaimana Allah dengan Ilmu-Nya bisa membuat milyaran manusia dengan wajah berbeda-beda. Tapi ternyata memang tidak sulit, apalagi setelah terjadinya milyaran kali persilangan genetik.

Yang saya maksud tidak sulit adalah, melihat kondisi wajah saya sekarang. Karena masih mengalami trauma pasca operasi tempo hari, wajah saya masih belum kembali ke bentuk normalnya. Menggembung di kiri kanan. Hari pertama terlihat bulat, hari berikutnya malah terlihat persegi. Dengan perubahan sedikit saja, anak-anak sudah berkomentar, “Ummi kayak orang lain mukanya”.

Jadi hanya dengan merubah sedikit struktur wajah saja, maka kita sudah seperti bukan orang yang sama lagi. Hebat kalau dipikir-pikir.

Satu lagi, I used not to like some parts of my face. Sekarang, with having this kind of funny face, rasanya muka saya yang biasa itu sudah sangat sempurna. Inginnya cepat-cepat kembali ke wajah sendiri, dan mensyukuri apa pun yang terukir di wajah saya apa adanya.

October 24, 2010 Posted by | Learning, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 79 : Encyclopaedia of People Behavior

Ada hal agak lucu, kalau tidak mau dibilang aneh, yang saya amati dari orang-orang di lingkungan tempat saya bekerja.

Pada satu titik, jika suatu pekerjaan itu memiliki nilai komersial tinggi dan toleransi rendah terhadap kesalahan, maka yang akan muncul adalah politik covering your ass (Maaf atas bahasanya, tapi begitulah istilah yang dipakai).

Saya sudah melihat orang-orang yang mungkin, pada kesannya terlihat ramah. But once any problem encountered, they will stab you from behind, just to, once again, trying to cover their  ***. Biasanya untuk berhadapan dengan orang-orang semacam ini, we could never act soft.

Lalu saya punya seorang rekan kerja, a senior technician, yang punya kepribadian sangat saklek. Setiap masalah akan selalu dia buka di depan, bersama dengan bukti-bukti  lapangan yang ia miliki. Ujung-ujungnya, ia jadi termasuk golongan orang-orang yang tidak disukai. Padahal setiap masalah yang ia sampaikan, benar adanya.

Katanya pada saya, ” Julia, you must remember, the more stubborn they are, the harder you must hit them, don’t be soft. But if they want to cooperate, you must also be more cooperative”.  

Atau, saya pernah dinasihati begini, always prepare your bullet. So anytime they  try  to shoot you , you are ready to shoot them back (I’m wondering, are we working or having war ?)

Beberapa kali saya mengeluh pada suami, bahkan kadang sampai hampir menangis, pekerjaan saya sekarang ini terlalu keras untuk saya jalani. Tapi katanya, I must work smarter. Jangan mau menghabiskan waktu dengan orang-orang semacam itu, tapi langsung berhubungan dengan atasannya.

Ok, now the thankful part.

If you just know me, saya termasuk golongan perempuan yang perasa dan tidak suka banyak ribut-ribut apalagi harus pakai intrik-intrik politik, it’s just not me. Tapi bekerja di tempat yang cukup keras begini, saya jadi sedikit-sedikit bisa belajar menilai orang. Ada manusia berwajah manis tapi berhati culas, ada orang yang bicaraaa terus supaya dikenal  tapi kerjanya tidak ada, ada yang sebenarnya tidak pintar tapi sangat rajin, ada yang sebenarnya pintar tapi malas, ada yang tidak tahu apa-apa tapi merasa jadi orang yang paling tahu, ada yang kerjanya mem-push orang sana-sini  habis itu dia keluar untuk merokok, dan lain-lain dan lain-lain.

Menambah perbendaharaan  sifat manusia di dalam ensiklopedi saya.

August 25, 2010 Posted by | Observation, professional | , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.