Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 229 : Mata Air Bumi

Menyebalkan sekali rasanya jika membaca berita-berita di koran mengenai sungai-sungai, danau atau laut yang keruh dan tercemar. Rasanya tidak percaya, bagaimana mungkin kita (well, saya juga masih menganggap diri saya seperti itu)  merusak apa yang menjadi sumber kehidupan kita sendiri ? Keterlaluan sekali kita ini.

Sebuah kampung atau kota biasanya bertumbuh di sekeliling mata air / sumber air . Dimana ada sumber air, biasanya di sanalah manusia mulai membangun perkampungan dan kehidupan. Karena satu dan lain hal, kampung dan kota bisa dipindahkan. Tapi mata air, tidak akan pernah bisa dipindahkan.

Mata air akan selalu terisi kembali, karena di bawah dan sekitarnya sudah ada beribu-ribu cabang-cabang kecil yang mengalirkan air ke dalam mangkuknya. Mata air itu pada awalnya jernih, dan menyejukkan. Ia ada untuk memberikan dan menjadi sumber kehidupan. Tapi begitu semakin banyak manusia yang berusaha menguasainya, airnya menjadi keruh dan debitnya berkurang jauh. Seolah-olah cabang-cabang kecilnya tersumbat sesuatu.

Lalu manusia, setelah datang dan menduduki mata air itu hingga nyaris kering dan tidak ada lagi ikan yang sudi hidup di dalamnya, akan begitu saja pergi memindahkan perkampungannya untuk menginvasi mata air yang lain. Persis seperti laki-laki yang dengan paksa menggagahi seorang perempuan atau makhluk ruang angkasa yang ingin menyedot kehidupan makhluk bumi.

Dengan sedih saya nyatakan, that’s what we are, an allien

Bagi bumi ini, kita mungkin tak lebih dari makhluk penginvasi tanpa perasaan. Semua yang ditumbuhkan bumi selama ribuan tahun, hancur hanya dalam hitungan beberapa tahun oleh manusia..

There’s nothing to thank actually in this case. Tapi sepertinya, saya tidak boleh berhenti berharap bahwa di balik semua itu, sudah mulai  banyak bermunculan gerakan-gerakan kesadaran untuk menyelamatkan kelangsungan dan ketersediaan air bersih di bumi.  Dan bagi mereka-mereka yang peduli serta berjuang tanpa pamrih, mudah-mudahan Allah dengan Ilmu menurut sunna rasul-Nya selalu memberikan bimbingan, Amin…

February 20, 2012 Posted by | Dislike, Nature | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 167 : Time To Bloom

Saya baru tahu kalau petani selalu memperhitungkan jadwal angin bertiup sebelum menanam.  “Keluarnya bunga jangan sampai bersamaan dengan banyaknya angin,”  kira-kira seperti itu prinsipnya. Hal yang sederhana tetapi benar sekali..

Para leluhur kita terbiasa hidup mengakrabi alam. Tidak terganggu dengan segala ketergesa-gesaan, tidak terpengaruh dengan segala prestise dan gengsi, tidak ditumpulkan otak dan hatinya oleh acara-acara televisi. Sehingga seluruh indra mereka bisa merasakan, kapan angin akan bertiup membawa benih, kapan ikan-ikan akan bertelur, kapan tanah akan menghijau, kapan hewan-hewan perahan akan memberikan susu, kapan tanah bersiap menerima kehidupan baru.

Alam sebenarnya secara normal bergerak dengan satu keteraturan. Karena itu para leluhur bisa memprediksi datangnya angin. jangan sampai tanaman-tanaman mereka berbunga di saat angin sedang kencang, karena tak ada hasil yang akan jadi.

Susahnya, dengan segala kemelut yang ada di dunia sekarang ini, datangnya angin mulai sulit untuk diprediksi. Ego manusia begitu besar sampai alam pun menyerahkan keteraturannya demi memberi tempat pada kerakusan manusia.  Sekarang petani cabai menangis karena gagal panen, tanaman rusak semua. Tak tahukah mereka kapan angin dan hujan akan datang sebelum menanam ?

Sepertinya memang sudah tidak tahu lagi …

Para leluhur terbiasa memberikan sesajen kepada pohon-pohon dan batu-batu besar. Dulu saya memandang remeh dan bahkan jijik dengan ritual ini. Sekarang setelah saya berusaha memahami, ternyata ada kearifan tersendiri di dalamnya. Bahwa ritual itu diciptakan agar manusia takut menjarah hutan secara berlebihan. Agar alam tidak murka dan meninggalkan keteraturannya.

Mudah-mudahan para petani bisa menemukan lagi cara tepat untuk menentukan waktu menanam ya, Amiinn..

January 30, 2011 Posted by | Nature | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 162 : The Difficult Right And The Easy Wrong

The difficult right and the easy wong … which one will you choose in your life ? Kalimat itu yang paling membekas di ingatan saya sewaktu mendengarkan Al Gore berbicara di Shangri La Hotel Jakarta, 9 Januari 2011 lalu, atas undangan WWF Indonesia dalam acara B4E (Business For the Environment) Global Summit 2011.

Pertanyaan Al Gore ini bagi saya sangat prinsip, berlaku dalam setiap aspek kehidupan manusia.  Kalau saja setiap manusia memikirkan pertanyaan ini sebelum bertindak setiap hari, mungkin akan banyak sekali perbedaan yang akan kita lihat di dunia saat ini.

Bumi mungkin akan menjadi lebih hijau, air tawar mungkin akan tersedia lebih banyak , bencana alam mungkin hanya akan terjadi akibat pergerakan alami bukan akibat ketidakpedulian manusia.

Begitu juga dengan perselisihan.. sangatlah mudah untuk tinggal menyatakan permusuhan ketimbang berupaya mencari jalan untuk perdamaian. Masing-masing akan lebih senang jika kepentingannya didulukan, disuarakan dan didengarkan. Karena itu bertengkar dengan suara keras atau adu kuat adalah salah satu cara untuk melihat, suara siapa yang paling pantas didengar.

Sementara untuk duduk mendengarkan keinginan satu sama lain, cenderung lebih sulit karena, memang ego manusia itu tidak gampang untuk ditundukkan.  Hanya mereka-mereka yang mau berpikir jauh ke depan, mau menimbang-nimbang baik buruk, mau mencari second opinion, mau melihat kepentingan bersama (yang semuanya ini jelas lebih sulit karena time consuming), yang bisa diharapkan untuk memperbaiki keadaan.

Dan Al Gore telah menempuh jalan itu, the difficult right, hanya karena ia peduli.  Hanya mereka yang peduli yang akan punya kesempatan untuk bertidak dan memperbaiki keadaan.

Dan memang mudah untuk menempuh jalan yang salah. Gampang sekali rasanya jika sehabis makan, plastik pembungkusnya kita lemparkan saja ke jalan. Setelah menebang pohon, lahannya kita tinggalkan. Melakukan kegiatan usaha, tanpa memikirkan kemana limbahnya dibuang. The easy wrong. Tapi kalau kita mau mengambil jeda waktu sejenak untuk berpikir, betapa sesuatu yang “menggampangkan urusan”  itu akan menimbulkan kesulitan yang luar biasa suatu saat nanti.

January 22, 2011 Posted by | Hero, Nature | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 149 : Selamatkan Hutan Dengan Peduli

Saat sedang membawa anak-anak ke sebuah pusat perbelanjaan di Batam, saya bertemu dengan seorang perempuan ramah yang mencegat saya dan bertanya : “Ibu tahu apa kepanjangan WWF ?” Anak-anak dan saya berusaha menjawabnya, ternyata salah. Perempuan ramah itu kemudian dengan bersemangat mulai bercerita tentang program WWF untuk mencari supporter aktif dari kalangan masyarakat. Itulah saat pertama kalinya saya terhubung secara langsung dengan WWF.

Perempuan itu membuat saya sadar, bahwa anak-anak kita tidak hanya membutuhkan makan,minum, pendidikan dan tempat tinggal yang memadai saja untuk bisa tumbuh menjadi pribadi yang kita inginkan. Kita perlu memandang masa depan mereka secara global, bahwa mereka membutuhkan dunia yang lebih baik berupa udara yang bersih, cuaca yang tidak ekstrem, dan sumber air minum yang berkualitas. Semua itu bisa diperoleh jika kita ikut menjaga kelestarian hutan.

Saya hanya seorang perempuan biasa dengan anak-anak yang harus saya khawatirkan masa depannya. Bagaimana caranya saya bisa ikut membantu pelestarian hutan ya ?  Lalu saya pikir, yang perlu saya lakukan pertama kali, adalah peduli. Kesempatan untuk bertindak pasti akan datang menyusul kemudian.

Benar saja, begitu kita memutuskan untuk peduli, maka kesempatan untuk bertindak akan terlihat dengan sendirinya.

Pertama, saat anak-anak sedang menonton televisi di rumah, saya duduk di dekat mereka dan memindahkan channel  ke channel-channel lain yang lebih bermanfaat, lebih bersahabat dengan alam. Saya minta mereka untuk lebih memperhatikan kehidupan di bumi ketimbang hanya menonton kartun. Ternyata mereka juga cukup menikmatinya. Saya harap dengan menonton tayangan mengenai kehidupan hutan, laut dan satwa-satwa yang hidup di dalamnya, sedikit-demi sedikit anak-anak pun akan memiliki kepekaan terhadap alam.

Ke dua, lebih memanfaatkan sampah-sampah kertas yang menumpuk di rumah. Sisa-sisa kertas ini masih bisa dijadikan catatan belanjaan, dipakai untuk menggambar atau bermain lipat kertas. Bahkan di kantor, perusahaan saya hanya menggunakan kertas yang diperoleh dari farmed trees. Semua kertas-kertas yang sudah digunakan tapi masih memiliki halaman belakang yang kosong pun dikumpulkan dalam boks recycle paper. Jadi masih bisa digunakan untuk banyak hal lain.

Ke tiga, saya menemukan bahwa departemen kehutanan banyak menyediakan bibit-bibit pohon untuk ditanam. Bahkan, jika lahan yang kita punya dianggap lahan kritis, bibit-bibit pohon itu bisa kita peroleh secara gratis. Kebetulan saya memiliki sebidang tanah di Bandung yang berada di daerah reservoir atau mata air. Sumber airnya mengalir tanpa henti membuat kebun saya menjadi subur. Sebagai sedikit upaya untuk mempertahankan hal itu, saya dan keluaga menanam 600 pohon di sana. Dan saya mendapatkan banyak kemudahan dari departemen kehutanan dalam hal ini. Jadi, yang tinggal diperlukan hanya sedikit mencari tahu tentang program-program penghijauan di departemen kehutanan terdekat.

Ke empat, saat merenovasi rumah, saya berkata pada suami, bagaimana kalau kusen-kusen untuk jendela, kita gunakan aluminium saja. Ternyata suami setuju. Begitu juga untuk pintu kamar mandi, kami gunakan pintu dari bahan PVC.  

Ke lima, mungkin dengan mencoba menjadi supporter aktif  WWF. Meskipun nilainya tidak banyak, tapi jika rumah tangga-rumah tangga yang cukup mampu bisa menyisihkan sedikit saja kelebihannya, dampaknya akan cukup besar untuk kelangsungan hutan-hutan dan satwanya di Indonesia.

Jadi, yang diperlukan hanyalah peduli. Kesempatan untuk berbuat, akan muncul dengan sendirinya.

(tulisan ini telah dikirimkan kepada WWF Indonesia, sebagai dukungan untuk penyelamatan hutan Indonesia)

December 30, 2010 Posted by | Effort, Nature | , | 1 Comment

365 Thankful Days Project – Day 143 : Full Moon

I always love to watch full moon. Suami dan anak-anak tahu itu. Jadi, setiap melihat purnama biasanya anak-anak akan berkata,” Ummi Ummi, liat deh, sudah bulan purnama lagi“. 

Dan malam ini, purnama muncul sempurna, well.. at least di Batam. Meskipun saya ragu kalau bulan muncul dengan rupa yang berbeda-beda di setiap tempat. Bulan yang bulat membadar terang, cantik sekali …

Bulan adalah benda gelap yang melayang di langit, pasrah untuk setia menjadi satelit bagi bumi. Dia memang sudah ditetapkan untuk tidak memiliki cahaya. Tapi setiap malam tiba, dia akan memantulkan sebagian cahaya matahari yang ia terima, ke bumi.

Pernah mendengar bahwa Allah dengan Ilmu-Nya mengumpamakan Muhammad sebagai purnama yang membadar ? Ia memantulkan terang di tengah kegelapan. Ia seperti bulan yang pasrah tidak memiliki cahaya sendiri, tidak memiliki ego, tidak memiliki subjektifisme, tidak memiliki keakuan. Tapi karena ia pasrah dan patuh, maka ia menerima pantulan terang dari Ilmu Allah, dan menyinari kehidupan manusia yang gelap. Ia seperti purnama yang membadar terang, memantulkan cahaya matahari untuk menerangi malam…

Begitu halnya juga manusia .. hanya dia yang bisa membunuh keakuannyalah yang bisa memantulkan terang. Dan ini, demi Allah, tidak mudah. Membunuh subjektifisme dan ego, bahkan diumpamakan Allah seperti memasukkan unta ke lubang jarum. Bayangkan… unta . Saya masih heran kenapa Allah tidak memakai perumpamaan dengan binatang yang lebih kecil ya ? Unta .. kenapa tidak domba saja. Toh memasukkan domba ke lubang jarum juga sudah tidak terbayangkan. Tapi Allah dengan Ilmu-Nya, maha tahu. Memang menghilangkan bebal manusia itu, seperti memasukkan unta ke lubang jarum !

Jadi begitulah … kenapa saya sangat menyukai purnama. Saya juga memperhatikan bahwa, setiap purnama muncul, cahaya bintang-bintang di sekitarnya memudar. Mungkin sama seperti saat laki-laki tanpa ego itu muncul dengan ajaran menurut sunnah rasul-Nya, semua kehebatan-kehebatan lain langsung memudar, kalah oleh pantulan sinar Ilmu-Nya.

Malam ini, the full moon is just as beautiful as always …

December 21, 2010 Posted by | Islam, Nature, Observation | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 123 : Born to Move

Pernah dengar cerita tentang perjalanan hidup kupu-kupu raja atau monarch butterfly ? They have a very fascinating journey of life.  Dan manusia, tak akan pernah sanggup mengunggulinya.

Kupu-kupu raja, pada musim gugur akan bermigrasi dari Canada bagian selatan, menuju Mexico dan California. Bayangkan, kupu-kupu yang beratnya begitu ringan, bermigrasi dari Canada ke Mexico. Catat ini baik-baik bahwa, tiga generasi pertama (masing-masing berumur dua bulan)terbang dari Canada ke Mexico. Maksudnya, karena waktu tempuh yang panjang, maka butuh tiga generasi untuk sampai di Mexico. Bagaimana setiap generasi bisa mengetahui tujuannya di Mexico ? Hanya Allah dengan Ilmu-Nya yang tahu. Kalau menurut para ahli, peta perjalanan mereka sudah terpatri secara genetik.

Dan generasi ke empat adalah generasi terkuat. Memiliki umur terpanjang (6 bulan) dan menempuh perjalanan kembali dari Mexico ke Canada dalam satu rentang umurnya.

Kupu-kupu raja yang tiba dari Canada, akan hinggap di hutan yang sama di Mexico, bahkan pada pohon yang sama dengan yang dihinggapi oleh induk-induk mereka terdahulu. Lalu mereka berdiam di sana, tanpa makan dan hanya minum air selama empat bulan (periode Desember sampai Maret). Begitu musim semi tiba. mereka akan terbangun dan berpesta pora memakan nektar yang disuguhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Pada akhir Maret, mereka melakukan perkawinan.

Lalu mereka bersiap-siap untuk melakukan perjalanan kembali ke Canada. Dan, hari yang mereka pilih pun tidak sembarangan. mereka akan bergerak secara serentak, pada hari yang disebut autumunal equinox, yaitu pada saat siang dan malam tepat memiliki panjang waktu yang sama. Bagaimana kupu-kupu bisa memiliki perhitungan setepat ini ? Hanya Allah dengan Ilmu-Nya yang tahu.

Lalu kupu-kupu dari generasi terkuat ini akan terbang menempuh jarak hampir 5000 km menuju Canada dalam satu rentang umurnya, tepat kembali ke tempat induk-induk mereka terdahulu. Di sana mereka akan bertelur, lalu mati.

Telur-telur itu kemudian akan menetas, menjadi ulat, kepompong, lalu kembali menjadi kupu-kupu dengan satu tujuan. Terbang kembali ke Mexico ke tempat induknya pernah hinggap dahulu.

Luar biasa ya… mereka hidup dengan satu tujuan : bergerak. Kupu-kupu rapuh itu .. tahu bahwa tanpa berbuat patuh, mereka akan mati.

Lihatlah kita, senang menghabiskan waktu cuma untuk diam-diam saja. Tidak bergerak, tidak bertujuan. Allah dengan Ilmu-Nya menciptakan kupu-kupu raja untuk memberikan kita pelajaran. Pelajaran akan kepatuhan bergerak. Mungkin mereka memang tidak tahu kenapa dan untuk apa. Tapi kepatuhan yang luar biasa untuk terus bergerak, membuat generasi mereka terus berkembang-biak dan memukau dunia…

November 10, 2010 Posted by | Nature, Observation | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 101 : Save The Water Please

Senang sekali rasanya jika anak-anak mulai punya keperdulian terhadap lingkungan.

Sewaktu Najmi sedang menyikat gigi di wastafel, karena kebiasaan, air tetap dibiarkannya mengalir sewaktu sedang menyikat gigi.  Ihsan yang melihat hal ini, langsung berkata,

“Ade, matikan airnya kalau lagi sikat gigi, kan gak dipakai. Sayang airnya kalau kebuang-buang.”

“Apa sih ?”

“Matikan !”

Wah galak juga, dan yang satu yang satu gak mau diganggu. Untunglah Najmi mendengarkan maksud baik abangnya, dan mematikan kerannya. Small effort to save the world should start from home.

October 9, 2010 Posted by | Effort, Nature | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 72 : Little (Neglected) Garden

I looked at my little garden today and feel kind of sorry for it. Rupanya memang tidak berantakan, tapi juga tidak bisa dibilang indah. Rasanya perlu benar-benar bisa mengatur waktu agar bisa menumbuhkan sedikit kehidupan di sana.

Dulu di halaman ada pohon cabe yang buahnya subur dan gendut-gendut. Tidak berhenti-berhenti berbuah setiap hari bahkan sampai dibiarkan jatuh-jatuh tak terambil.  Tapi karena proses renovasi ruang tamu tempo hari, pohon cabe nan gendut itu dibuang. Di rumah yang lama di Bandung malah saya dan suami sempat menanam pohon mangga, labu siam (yang buahnya juga menggantung-gantung tak termakan dan selalu dibagikan pada tetangga), Mahkota Dewa, dan Markisa. Padahal halamannya juga mungil.

Halaman mungil sebenarnya bukan alasan tidak bisa berkebun. Masalahnya mau atau tidak saja. Kalau dibilang tidak sempat sih, ya tidak juga karena toh setiap hari mungkin kalau disempat-sempatkan saya masih bisa menyisihkan waktu barang setengah jam buat mengurusi halaman rumah.

Kadang-kadang sedih juga karena satu dan lain hal kita jadi malas menekuni sesuatu yang sebenarnya kita senangi. Padahal mana mungkin ada hasil kalau tidak diusahakan. Mana mungkin ada kebun kecil yang sedap dipandang kalau tidak diurusi.

Hmm.. sepertinya urusan berkebun ini harus masuk ke reminder juga biar gak selalu lupa dan membatu jadi rasa malas.

August 18, 2010 Posted by | Activity, Hobby, Nature | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 24 : My Rainbow Day

It’s really the rainbow that made me smile today. Sore ini, hujan rintik-rintik dan langit masih mendung. Saat membuka pintu teras rumah, there it was. Pelangi yang melengkung dengan cantiknya pas di langit depan rumah. Busurnya melengkung sempurna, tidak putus dari satu ujung ke ujung lainnya (meskipun saya gak tau dimana ujungnya). Sementara posisi rumah pas seperti berada di tengah-tengahnya. Langsung saya panggil anak-anak, dan kita bertiga duduk di lantai teras rumah, memeluk kaki masing-masing, menikmati pelangi sambil mencium bau tanah yang basah.

Tapi buat Ihsan, film Naruto lebih menarik, jadi tidak bisa memaksanya duduk lama bertahan menikmati lukisan di depan rumah. Tinggal saya berdua aja dengan Najmi. Sayang, setelah sepuluh menit, warna mejikuhibiniu nya mulai menghilang. Aduh, kenapa sesuatu yang indah tidak pernah bisa bertahan lama ya..

Tadi juga saya sempat bercerita sedikit sama anak-anak, bahwa cahaya matahari ataupun sinar putih, sebenarnya terdiri dari tujuh warna pelangi itu. Kalau sudah begini seperti biasa pertanyaan mereka gak putus-putus. Gak semua bisa dijawab sih, maklum ibunya juga bukan Discovery Channel hehehe. Saya cuma tahu kalau warna primer itu diciptakan Tuhan hanya tiga, merah, kuning dan biru. Dan warna-warna lain adalah percampuran dari ketiga warna tersebut dalam takaran tertentu. Seperti hijau yang merupakan kombinasi dari kuning dan biru. Hebat kan.. cuma tiga warna dan jadilah bumi yang penuh warna. Dan hitam, sebenarnya bukan warna. Hitam adalah kondisi dimana suatu benda menyerap semua warna cahaya. Tidak ada warna yang dipantulkan. 

Tapi saya juga cuma mau anak-anak tahu, bahwa dibalik hal-hal sederhana seperti sinar putih itu, ada sesuatu yang indah tersembunyi. Dan perlu sedikit usaha untuk melihatnya. This is just a simple and wonderful afternoon ..

June 22, 2010 Posted by | children, Nature | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.