365 Thankful Days Project – Day 160 : Jajanan Pasar
Salah satu topik yang saya temukan di sebuah harian nasional kemarin adalah mengenai jajanan pasar. Membahas mengenai kue-kue tradisional Indonesia yang tidak pernah kehilangan penggemar : Klepon, ongol-ongol, semar mendem, lemper, kue lumpur dan lain-lain. Apalagi kalau semuanya disusun dalam nyiru bambu, aduh warnanya ..
Hmmm… they are all my favorite. Melihat gambarnya saja jadi kepingin. Jadi teringat betapa melimpahruahnya semua kue-kue jajanan pasar itu di bulan puasa.
Banyak hal-hal yang benar-benar merupakan “rasa Indonesia” yang sudah mulai dipinggirkan karena pengaruh globalisasi. Tapi sepertinya tidak dalam hal makanan. Bisa dibilang, dari segi rasa di lidah, Indonesia memiliki kekayaan cita rasa yang luar biasa. Tentu saja itu semua karena pengaruh datangnya begitu banyak bangsa-bangsa “penjajah” ke Indonesia : India, China, Arab, Portugis, Belanda, Spanyol dan Jepang. Bersamaan dengan kepentingan mereka untuk mengeruk kekayaan Indonesia, mereka juga memperkenalkan berbagai cita rasa dari negaranya kepada bangsa ini.
Melalui proses kreatif , yang sebenarnya dimiliki oleh bangsa ini, terciptalah aneka kuliner nusantara yang tidak pernah gagal menggugah selera. Saat saya tinggal di Eropa, rasanya mau membayar berapa saja asal bisa makan nasi goreng dengan bumbu terasi.
Cinta Indonesia deh pokoknya, sak ke terasi-terasinya
365 Thankful Days Project – Day 142 : Indonesian Supporter
Rasanya sayang kalau tidak memberikan komentar mengenai fenomena luar biasa yang terjadi di Indonesia di akhir tahun 2010 ini. Geloranya, semangatnya, dukungannya, benar-benar membikin bulu kuduk merinding.
That’s right..I’m talking about all Indonesian supporter, terutamanya sepanjang pertandingan semifinal Piala AFF 2010, Indonesia melawan Filipina. Gema dukungannya bukan hanya di stadion Gelora Bung Karno, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok kampung, semua terfokus pada perjuangan punggawa-punggawa Indonesia di lapangan hijau, Tim Nasional Indonesia.
Harus diakui, sedikit banyak perhatian penuh pada TimNas ini akibat munculnya wajah-wajah londo alias para pemain naturalisasi. Kehadiran mereka memberikan warna baru, semangat baru, dan bahkan mungkin, gengsi baru. Akhirnya, muncullah spirit baru, idola baru.
Senang sekali dengan adanya fenomena ini, hanya saja alangkah baiknya jika spirit nasionalisasi ini kita gaungkan di segala lini kehidupan bangsa. Hei… para peneliti muda Indonesia juga butuh disemangati, para pengrajin juga ingin disokong agar lebih giat memproduksi barang-barang budaya Indonesia supaya lebih dikenal dunia, para tentara yang menjaga kita siang dan malam di langit darat dan udara juga ingin dibangkitkan semangatnya supaya lebih giat dalam bertugas. Di antara sesama anak bangsa, dalam hal apapun yang positif dan membangun, kita harus saling mendukung.
Ayolah… sematkan selalu garuda di dadamu.
365 Thankful Days Project – Day 127 : Hasta Brata
Pasti alam, adalah ungkapan tersembunyi untuk laku budaya. Pernah memahami kalimat tersebut ?
Allah dengan Imu-Nya memberikan manusia kelengkapan indra demi bisa mengamati alam semesta dan belajar dari sana. Kadang-kadang kita berkelit, bahwa kita tidak bisa berbuat baik karena kita tidak memahami isi kitab yang Allah turunkan. Padahal terkadang yang kita butuhkan hanyalah kemampuan untuk melihat, mendengar dan menangkap getaran yang dipancarkan oleh alam semesta dengan segenap indra kita.
Salah satu hal menarik yang saya temukan adalah “Hasta Brata” atau delapan laku kepemimpinan yang mengambil sifat-sifat keutamaan alam semesta. Dan, karena setiap manusia adalah pemimpin, maka saya rasa Hasta Brata ini bisa kita ambil sebagai pedoman untuk kehidupan kita sebagai pribadi.
1. Bumi yaitu seorang pemimpin harus setia memberikan kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja, sabar seperti bumi sebagai sumber kehidupan
2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah (rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun, karena air bertabiat rata.
3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).
Hm… jadi sebenarnya, pemimpin justru adalah orang yang paling banyak harus mau berkorban, bukannya menjadi orang yang meminta pengorbanan orang lain.
Yang luar biasa adalah, Hasta Brata di atas adalah asli produk lokal Indonesia. Ini saya ambil dari nilai-nilai kebaikan dalam kisah pewayangan dari negeri Astina. Jadi sebenarnya, ada baiknya jika kita menggali lagi nilai-nilai arif bangsa sendiri, sebelum memutuskan untuk mengangung-agungkan kehebatan bangsa-bangsa lain.
365 Thankful Days Project – Day 119 : Ibu Pertiwi
Kemarin malam, Ihsan, yang sudah kelas 5 SD bertanya :
“Ummi, Ibu Pertiwi itu sebenarnya siapa sih ?”
Jadi ketawa mendengarnya, sekaligus heran juga, sudah kelas 5 SD koq belum tahu Ibu Pertiwi itu siapa. Saya tanya, memang bu guru belum pernah menyebut soal Ibu Pertiwi ? Dia mikir sebentar, tapi belum pernah katanya. Kalau pun disebut mungkin tidak dijelaskan juga siapa sebenarnya Ibu Pertiwi ini, jadi ya masih tetap bingung.
Tapi jadi penasaran juga, siapa sebenarnya Ibu Pertiwi ya, kenapa Indonesia memiliki konsep personifikasi ? Ini sedikit kutipan yang saya peroleh :
Dalam agama Hindu, Ibu Pertiwi mengacu ke Dewi Bumi atau Ibu Bumi. Sang Bapak adalah bapak angkasa atau penguasa langit. Makna Ibu Pertiwi bagi Indonesia tidak lain adalah tanah airku, tanah tumpah darahku, tempat berlindung, tanah yang suci, tanah yang sakti, hutan gunung sawah dan lautan, simpanan kekayaan. Sang Ibu Pertiwi menjadi sosok seorang ibu yang dicintai, ibu yang membuai dan membesarkan anak anaknya, yang dapat bersedih hati, bersusah hati, berlinangan air mata, merintih dan berdoa, bergembira, dan tempat untuk berbhakti dan mengabdi.
Semua warga bangsa Indonesia adalah anaknya, anak bangsa atau putra kesayangannya. Karena ini adalah konsep nasional, maka makna konteksnya berbicara mengenai konsep kenegaraan. Personifikasi dari sosok yang dibela, yang mendasari sikap kepahlawanan dan menjadi alasan jiwa patriotik, baik dalam masa perjuangan sebelum dan setelah kemerdekaan. Atas nama Ibu Pertiwi, pengorbanan jiwa dan raga, hidup atau mati, adalah bukti jiwa pengabdian dan kecintaan pada negeri yang merdeka.
Jadi Ihsan, baktikan seluruh hidupmu kelak, untuk Ibu Pertiwi …
365 Thankful Days Project – Day 114 : Prayer to Indonesia, yang Dengan Sedih Saya Cinta
Hari ini, mungkin saya lebih ingin memanjatkan doa dibandingkan memanjatkan ucapan syukur. Harapan-harapan yang ingin saya senandungkan untuk kebaikan negri ini.
Beberapa kondisi bangsa Indonesia saat ini yang ingin saya soroti adalah :
1. Meletusnya Gunung Merapi, yang membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal, kehilangan kerabat dan terluka
2. Gempa dan Tsunami di Mentawai, yang juga meluluhlantakkan pulau-pulau di sekitarnya
3. Mewabahnya rabies atau penyakit anjing gila. Saya kurang mengerti kenapa wabah rabies ini kurang menjadi headline, padahal jumlah korban meninggal sudah mencapai 120 orang, sebagian besar di Bali.
4. Banjir di ibukota, yang sebenarnya sudah bosan mendengar beritanya.
5. Kumuhnya pos-pos penjaga perbatasan, yang kalau diperhatikan, pos pemberian makanan untuk orang hutan di Kalimantan masih lebih bagus daripada kondisi pos penjaga perbatasan. Tapi para prajurit yang ditempatkan di sana, memang bermental baja. Meskipun gaji minim dan sarana tidak memadai, toh mereka tetap setia nongkrong di tengah hutan atau keliling samudra demi menjaga negri ini.
Bagi para korban, semoga mereka bisa tetap sabar yaitu teguh bertahan dalam kondisi bagaimana pun sulit dan gentingnya, tidak putus asa, tetap berusaha, dan membangun kerja sama dengan aparat setempat.
Bagi para aparat yang tanpa memikirkan dirinya sendiri sedang mengemban tugas, semoga diberi kemudahan, kesabaran, dan kemampuan berpikir yang tetap tinggi sehingga bisa terus berjuang menjaga dan mengobati negeri ini.
Dan semoga bangsa Indonesia pada umumnya, mau kembali hidup berpandangan dan bersikap dengan Ilmu Allah menurut sunnah Rasul-Nya, karena tanpa kemauan, sebesar apa pun kita berbicara dan berteori semuanya hanya akan menjadi pepesan kosong belaka.
Amin ..
365 Thankful Days Project – Day 108 : Semar, The Philosophy
Let’s say bahwa belakangan ini saya sedang kerasukan semangat nasionalisme. Atau mungkin memang sedang berusaha memandang dunia secara lebih luas dari pada hanya sekedar berkonsentrasi pada gejolak-gejolak perasaan tidak berarti yang seringkali membikin frustrasi diri sendiri. Sekali-sekali memandang ke luar diri itu baik, jadi bisa belajar melihat sebenarnya di mana posisi kita di alam raya ini.
Saya, yang kecil dan bagian dari rakyat kebanyakan ini, toh memang tidak punya kemampuan mandraguna untuk merubah kenyataan yang ada sekarang, selain ikut-ikut sekedar prihatin saja. Tapi sebenarnya, kalau kita mau membuka-buka sejarah ke belakang, sebenarnya banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari filosofi budaya bangsa Indonesia, yang bisa kita jadikan sebagai salah satu modal untuk bergerak maju.
Bangsa Indonesia ini, pada dasarnya saat dilahirkan, memanglah sangat jauh letaknya dari pusat Ilmu, yang turun di Jazirah Arab sana. Sehingga yang pertama kali berkembang adalah kearifan lokal, yang didasari pada penghayatan kepada kehidupan alam raya. Itu adalah kenyataan hidup nenek moyang, yang tidak bisa kita pungkiri. Lalu masuklah Islamisme ke Indonesia. Dan untuk bisa menerimanya, maka Islamisme ini melebur ke dalam budaya lokal agar mudah dipahami dari sisi penerima yang memang benar-benar buta akan Ilmu yang baru ini.
Salah satunya adalah dengan munculnya tokoh Semar. Semar, dalam filosofi Jawa, disebut sebagai Badranaya, yang artinya : “Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.”
Semar itu digambarkan sebagai laki-laki, tapi toh ia memiliki payudara. Jadi ia menyimbolkan laki-laki dan perempuan. Wajahnya tua, tapi rambutnya kuncung seperti anak kecil, menyimbolkan tua dan muda. Semar selalu tersenyum, tapi matanya sembab, perlambang suka dan duka. Tubuhnya bulat, menggambarkan jagad raya. Ia berdiri sekaligus berjongkok, mengingatkan tentang manusia yang harus mampu memimpin, tetapi mampu pula hidup dengan cara yang setara dengan yang dipimpinnya.
Selain itu, rambut kuncung Semar juga menemberikan arti, bahwa dirinya adalah “kuncung” alias pelayan. Melayani umat tanpa pamrih, beramal sesuai sabda Ilahi. Saat berbicara, ia tak pernah menyuruh tapi selalu memberikan konsekuensi atas setiap nasehat-nasehatnya. Bahkan kain yang dipakai Semar pun memiliki makna agar keadilan dan kebenaran ditegakkan di muka bumi. Saat berjalan, tangan kanannya selalu ke atas dan tangan kirinya ke bawah. Tangan ke atas bermakna agar manusia mengingat Allah Sang Penguasa Ilmu, tangannya yang ke bawah mengadung arti berserah total dan mutlak sekaligus simbol Ilmu yang netral dan simpatik.
Betapa sebenarnya bangsa Indonesia ini kaya akan kearifan lokal. Yang seharusnya dijunjung tinggi, dibanggakan bukannya ditiadakan karena merasa rendah diri dibanding budaya-budaya bangsa lain. Akibat rasa rendah diri itu, akhirnya kita tergilas oleh feodalisme dan kapitalisme. Sudahlah jadi bangsa kuli, sombong pula. Malah kadang malu dengan latar belakangnya sendiri.
Saya bersyukur Indonesia memiliki Semar. Meskipun kini filosofinya sudah mulai tergilas zaman. Mungkin karena ia buruk rupa, dan tidak diterima di zaman yang mengagung-agungkan kecantikan dan kehebatan fisik semata. Tapi sayang, fisik tidaklah pernah abadi …
365 Thankful Days Project – Day 107 : Dendam Tujuh Turunan (Even More)
Seram yah judulnya … apa coba yang bisa disyukuri dari dendam tujuh turunan.
Saya mau menceritakan sedikit hal menarik yang saya temukan, hasil dari membaca tentunya. Tentang kenapa orang Sunda dan orang Jawa memiliki dendam psikologis yang tidak bisa diuraikan sampai sekarang.
Pernah menyadari, bahwa di Bandung, tidak ada nama jalan Gajah Mada, Majapahit, atau Hayam Wuruk ? Ini adalah akibat rasa sakit hati yang dialami orang-orang Sunda di masa lampau terhadap orang-orang Jawa, yang entah sudah berjarak berapa ratus tahun hingga hari ini.
Alkisah, Raja Sunda Prabu Siliwangi (Kerajaan Padjadjaran) menerima pinangan Raja Jawa Hayam Wuruk (Kerajaan Majapahit) atas putri Sunda yang cantik jelita, Dyah Pitaloka. Pada waktu itu, kerajaan Padjadjaran belum menjadi bagian dari kerajaan Majapahit.
Sang patih Majapahit, Gajah Mada, yang menyimpan ambisi ingin menaklukkan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, ternyata memiliki rencana tersendiri. Ia ingin Padjadjaran pun tunduk dalam wilayah kuasa Majapahit. Tujuan mulia, hanya dirancang untuk dicapai dengan cara tidak mulia.
Menurut adat sopan santun, seharusnyalah Hayam Wuruk datang menjemput sang mempelai Dyah Pitaloka ke Padjadjaran. Tapi akhirnya disepakati bahwa Prabu Siliwangi akan mengantarkan anak gadisnya kepada Majapahit. Iring-iringan pengantin kerajaan, membawa putri cantik yang hendak dipinang. tentulah tidak diperbekali dengan kekuatan militer dan senjata lengkap.
Ternyata, sesampainya di wilayah Majapahit, Patih Gadjah Mada lah yang muncul, bukan Sang Raja Hayam Wuruk. Merasa terhina, Prabu Siliwangi membatalkan pernikahan. Apa daya, Gadjah Mada datang dengan pasukan penuh dan membantai seluruh iring-iringan. Putri Dyah Pitaloka pun bunuh diri, dan Padjadjaran jatuh di bawah kekuasaan Majapahit.
See.. dendam sejarah tak pernah hilang. Rasa sakit masih tersimpan di bawah permukaan. Status pahlawan Gadjah Mada tidak membuat namanya pantas dicantumkan sebagai nama jalan di Bandung dan Bogor.
Ada beberapa hal yang kita, dalam kehidupan yang modern ini, seringkali tidak sadari. Bahwa siapa pun diri kita sekarang, ternyata masih terkait dengan sejarah masa lalu suku bangsa kita. Mungkin tanpa disadari orang tua kita, bahkan terbawa oleh diri kita sendiri, memendam rasa tidak suka pada satu suku tertentu, tanpa jelas fakta dan sebabnya kenapa. Ternyata sumbernya dari sebuah kejadian yang berlangsung ratusan tahun yang lalu.
Begitulah Indonesia, banyak fakta-fakta menarik tentang sejarahnya yang kadang sudah tidak dipahami lagi oleh pemuda-pemudanya sekarang. Saya bersyukur juga, bisa sedikit-sedikit mulai memahami tentang bangsa ini. Rasanya banyak hal yang masih harus diusut kebelakang untuk bisa memahami siapa diri kita, supaya bisa dijadikan titik tolak untuk bergerak maju.
365 Thankful Days Project – Day 98 : Tragedies and Achievement
Belakangan ini, berita-berita yang terbaca di koran sepertinya hanya kumpulan musibah yang sambung-menyambung terjadi di Indonesia. Tapi tetap saja sewaktu membacanya pun, ya hanya nice to know aja, dalam arti tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.
Satu, isyu akan tenggelamnya ibu kota. Di mulai dengan adanya kasus jalanan yang (bisa-bisanya) amblas, intrusi air tanah, eksploitasi air tanah yang di atas ambang batas toleransi, banjir, macet dan sebagainya dan sebagainya. Yang lucunya, kalau lembaga-lembaga lingkungan hidup sudah berteriak-teriak dengan segala issue tentang ketidakmampuan Jakarta lagi menanggung segala beban, para developer dengan santainya mempromosikan apartemen-apartemen baru yang mereka bangun di sepanjang pantai Jakarta, dijamin aman katanya. Ah gak tahulah.. bingung, kalau saya sih salah satu anggota partai pendukung pemindahan ibu kota.
Dua, isyu kejahatan perampokan dengan senjata api. Entah orang-orang yang makin berani atau memang para aparat keamanan yang makin lemah kinerjanya. It’s just really scarry.
Tiga, banjir di Batam sampai-sampai menyebabkan anak hanyut dan tewas.
Empat, saya tahu maut bisa datang di mana saja, Tapi menaiki sistem transportasi umum di Indonesia kadang sama saja seperti mengantarkan nyawa ke tukang jagal. Apa lagi yang bisa dibilang saat melihat tubuh yang terjepit dan terpotong-potong akibat tabrakan kereta api yang katanya akibat kelalaian operator itu ? Kesalahan operator… sedih sekali, tidak mau diakui bahwa itu adalah akibat kesalahan sistem di PJKA. Blaming someone has always been the easiest way to cover shits.
Lima, hiks udah ah … capek juga.
I still try to see the bright side, bahwa di antara segala kemunduran dan musibah yang terjadi di Indonesia, masih ada yang berjuang mengusahakan perdamaian seperti yang terjadi di Tarakan sehingga semua para pengungsi bisa kembali ke kampung halaman mereka kembali. That’s what I call, a good effort for peace.
365 Thankful Days Project – Day 71 : Melukis Indonesia Merdeka
Tidak perlu repot-repot menjabarkan apa itu merdeka, karena founding fathers kita sudah dengan susah payah berusaha menjabarkannya bagi kita :
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Merdeka adalah sikap anti penjajahan. Dan tentu saja yang dimaksud oleh bapak-bapak bangsa kita, adalah segala bentuk penjajahan, yang tidak mengindahkan perikemanusiaan dan perikeadilan di dalamnya.
Merdekakah keluarga-keluarga Indonesia, jika untuk mendapatkan sebidang lahan bagi kehidupan saja begitu sulitnya, sementara wilayah Indonesia terhampar begini luas ? Merdekakah anak-anak Indonesia jika untuk mendapatkan pendidikan berkualitas saja mereka harus tinggal di kota-kota besar dan punya orang tua berduit ? Merdekakah ibu-ibu Indonesia jika setiap hari mereka harus mengkhawatirkan harga di pasar dan dihantui teror LPG saat memasak ? Merdekakah ayah-ayah Indonesia jika mereka kesulitan mencari lapangan pekerjaan demi menghidupi keluarganya ? Merdekakah para pengguna jalan raya jika setiap saat selalu saja dikepung oleh polusi dan kemacetan yang bukan main runyamnya ? Merdekakah para peneliti Indonesia jika untuk mempatenkan karya-karya Ilmiah mereka saja demikian bertele-telenya ? Merdekakah para petani jika mereka selalu dibodohi oleh para tengkulak, dan hasil ladangnya digeser oleh hasil ladang petani-petani negeri seberang ?
Wuih… alangkah banyaknya pe-er bangsa ini untuk pantas disebut sudah merdeka.
Jangankan mau menyebut diri merdeka. Coba renungkan arti bangsa. Bangsa adalah sekumpulan manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu dan karena memiliki perjalanan sejarah yang sama, diikat oleh perasaan senasib sepenanggungan.
Senasib sepenanggungan … adakah ? Yang ada, mari… nasib ditanggung masing-masing. Jangankan merdeka, menyebut diri sebagai bangsa saja rasanya masih timpang.
Tapi malukah saya jadi bagian dari “bangsa” Indonesia ? Tidak sama sekali. Indonesia ini diciptakan Allah begitu uniknya. Satu-satunya negara yang tanahnya begitu subur dan lautnya begitu luas dan kaya. Kalau bangsa-bangsa lain menyebut negara mereka sebagai my motherland, atau my fatherland, mungkin kita satu-satunya bangsa (ah, terpaksa saya pakai juga istilah bangsa ini) yang menyebut negara kita sebagai Tanah Air ku. Luar biasa kan ..
Banyak..banyak sekali pe-er kita. Tapi saya suka sebuah judul wacana dalam sebuah harian nasional hari ini : Jangan Pernah Letih Mencintai Indonesia.
Cintailah Indonesia sampai ke sum-sum tulang kita ..
(memperingati 65 tahun kemerdekaan Indonesia)
