365 Thankful Days Project – Day 74 : Learn to Remember
1. Anak-anak tidak selamanya kecil. Jadi selama mereka masih memiliki tawa anak-anak, masih memiliki kenakalan anak-anak, masih mau dipeluk-peluk, masih melontarkan ucapan-ucapan yang polos dan lucu, masih lebih senang ada bersama orang tuanya daripada teman-temannya, masih minta dicium sebelum tidur, tidak akan saya sia-siakan kesempatan untuk bisa menikmati masa kecil mereka yang mungkin sebentar lagi akan terbang ditiup angin perubahan.
2. Saya masih punya orang tua. Kepada siapa saya bisa berbakti karena apa pun saya sekarang adanya, tidak akan ada jika kedua orang tua saya tidak mendampingi saya sejak kecil dulu. Meskipun saya sering jauh dari mereka sejak masih sekolah dulu, dan saya masih punya dua orang adik, tapi perhatian mereka tidak pernah putus bahkan setelah saya memiliki anak-anak saya sendiri.
3. Ada seorang suami yang menjaga saya dan anak-anak. Biar bagaimanapun, seorang perempuan selalu butuh tempat bergantung, berbagi dan berbakti. Mungkin memang sudah kodratnya perempuan senang melayani dan disayangi. Dan saya tidak akan membuat diri saya lupa bahwa, di luar sana suami saya bekerja dengan sekuat kemampuannya untuk tetap bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak istrinya.
4. Sahabat adalah hal yang sangat berharga untuk dimiliki. Saya tidak akan lupa bahwa, persahabatan adalah ibarat buku. Yang perlu beberapa tahun untuk menulisnya tapi hanya perlu beberapa detik untuk membakarnya. Bisa menjadi sahabat sejati bagi seseorang,adalah hal yang sangat berarti dalam hidup ini.
5. Banyak hal yang belum saya ketahui, karena itu masih banyak hal yang perlu saya pelajari. Setiap Ilmu adalah mata rantai kehidupan, dan rantai itu bersumber dari satu yang Maha memiliki Ilmu. Dan saya belajar untuk lebih banyak berpikir dari pada membuka mulut saya untuk mengatakan hal-hal yang tidak sepenuhnya saya kuasai.
6. Memberi adalah sesuatu yang membahagiakan. Karena dengan memberi lebih banyak berarti kita layak menerima lebih banyak. Everything runs in a circular way. Dan setiap lingkaran hanya memiliki satu poros, Sang Penguasa Kehidupan.
7,8,9,10,11 …. Masih begitu banyak hal yang harus terus saya coba untuk ingat baik-baik.
365 Thankful Days Project – Day 67 : Menulis di Atas Pasir
Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Dî tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras…..
Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :
“hari ini suamiku menyakiti hatiku”
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis dî sebuah batu :
”Hari ini suamiku yang baik menyelamatkan nyawaku ”
Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya dî atas pasir dan sekarang kamu menulis dî atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab :
“Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya dî atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu..Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya dî atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin”
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan. Dan kalau kita menghabiskan hidup untuk terus memikirkan rasa sakit hati, maka sia-sialah pasti umur kita. Karena toh dunia tidak berputar berdasarkan maunya kita.
Menulis di atas pasir itu menyenangkan sekali. Seperti permainan anak kecil di pantai, sesudah ditulis, tidak lama angin ataupun air akan menghapuskan jejaknya. Dan kita disediakan begitu banyak pasir dan begitu banyak angin untuk terus-menerus bisa melakukan hal ini.
365 Thankful Days Project – Day 64 : Girl Stuffs
Hari ini, saya dan seorang teman perempuan saya, membicarakan anak-anak perempuan kami, yang (dengan berat hati harus diakui), sudah mulai beranjak remaja. Atau, at least, tubuh mereka secara biologis sudah menunjukkan tanda-tanda itu.
Saya tanyakan padanya, apakah anak gadisnya yang kelas 6 SD itu sudah mendapatkan haid pertamanya. Dan dijawab, sudah, sejak kelas 5 SD. Saya tanya lagi, bagaimana reaksi anaknya ? Nangis, malu, murung. Karena menurut sang anak, hal itu terlalu cepat, dan dia belum mau mengalaminya. Yang ia pahami, bahwa yang mengalami haid adalah perempuan yang sudah lebih dewasa, sementara ia masih suka dipangku-pangku ayahnya, masih suka kejar-kejaran dengan teman-temannya, dan masih suka tidur sama bonekanya. Jadi selama seminggu ia, yang tadinya amat ceria, berubah menjadi orang lain yang tidak dikenal ibunya, murung dan diam. Bahkan lari sewaktu ayahnya mendekat, karena malu.
Lalu saya bercerita, kalau anak perempuan saya, yang masih kelas 3 SD itu, juga sudah mulai besar. Dan sepertinya pakaian dalamnya sudah harus berubah menyesuaikan bentuk tubuhnya yang juga mulai berubah. Teman saya itu lantas mengeluarkan model-model pakaian dalam anak perempuannya dan memberitahukan di mana saja bisa di dapat.
Dalam hati saya bergumam, aih … ternyata waktunya akhirnya datang juga. Bahwa sudah saatnya saya menerima kalau anak perempuan saya bukan boneka kecil saya lagi. Kami bahkan sudah harus mulai belanja bersama untuk memilih kebutuhan-kebutuhannya. Kami sudah harus mulai mengadakan diskusi-diskusi rahasia yang jelas-jelas dia pasti tidak ingin abangnya tahu, karena ini adalah girl stuffs. Membayangkannya saja dada saya jadi berdebar-debar rasanya, karena ini, adalah babak baru yang harus anak saya dan saya tempuh, sebagai sesama perempuan. Belum lagi begitu banyak rahasia-rahasia perempuan yang harus saya bagi padanya. Karena biar bagaimana pun, sebagai ibunya, saya ingin dia tumbuh dengan perasaan bangga dan bahagia akan dirinya, karena dia tahu, sebagai perempuan, dia bisa menjaga dirinya baik-baik.
Babak baru ini, amat sangat mendebarkan ..
365 Thankful Days Project – Day 62 : Prayer
What is exactly everyone thinking when they are praying ? Where we put our God, and where we put our selves ? Karena saya berpikir, meskipun bentuknya permintaan dan permohonan, tapi sebenarnya kita sedang meminta Tuhan untuk menuruti maunya kita. Kita yang memerintah, dan Tuhan yang melaksanakan dan mengabulkan permintaan kita.
Agak-agak sarkastik ya … ini hanya sesuatu yang saya renungi saja tiba-tiba. Karena entah kenapa sehabis berdoa saya sadar, koq dari tadi isi doa saya permintaan semua ya ? Kalau dibanding ucapan terima kasihnya, rasanya lebih banyak nodongnya. Dan luar biasanya, yang ditodong hampir selalu mengabulkan permintaan saya.
Pernah saya tulis juga bahwa, sebenarnya, Tuhan sudah luar biasa sayang sama kita. Dan sudah sepantasnya kita berbuat kebaikan, karena ingin membalas semua kebaikan yang Tuhan beri. Begitu kan ? Tapi yang ada, kita malah selalu mengharapkan pahala dari setiap kebaikan yang memang sudah seharusnya kita laksanakan itu.
Jadi matematikanya begini : Tuhan beri kehidupan dan segala kebaikan – kita, sebagai yang menerima kebaikan itu, berterimakasih dengan jalan berbuat baik atau tepat menuruti maunya Tuhan dengan perintah -Nya = Impas.
Tapi kita malah minta balasan dari setiap kebaikan yang kita lakukan tadi – Lalu karena Tuhan demikian baiknya, maka meskipun tadi sudah impas, Tuhan berjanji akan memberikan balasan bagi orang-orang yang mau berbuat baik. Ini gimana hitung-hitungannya ya ? Koq saya bingung.. Belum lagi kita minta ini itu kalau sedang berdoa.
Parahnya, masih tidak puas juga. Kalau saya Tuhan, sudah ngamuk dari dulu-dulu barangkali .. Gak sudi gua, dikasih hati minta jantung.
Seharusnyalah manusia berdoa, atau melaksanakan shalat, demi melihat betapa kurangnya dirinya. Karena kekurangtahuan manusia, Allah juga sudah menurunkan ILMU-Nya melalui para Rasul, agar kita bisa hidup dengan satu pilihan yang bisa menghantarkan kita pada gerbang cita dan dijanjikan oleh Allah. Manusia berdoa dan shalat, justru semata-mata ingin menyatakan penyerahannya, dukungan sepenuhnya, hidup matinya, kepada ajaran Allah yang disampaikan menurut sunnah Raul-Nya itu.
Sebagian dari kita bahkan sudah demikian malasnya untuk berdoa, saya juga pernah mengalami masa-masa itu. Atau kalaupun saya shalat, yang saya lakukan hanya meminta-minta. Bukan untuk memberikan pernyataan bahwa saya siap menjadi pendukung sampai titik darah penghabisan. Ah… kapan saya ini bisa naik derajat sedikit ya ?
365 Thankful Days Project – Day 57 : Choices
Apa yang membedakan kita dari makhluk lain yang diciptakan oleh Allah ? Pilihan. Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi kemapuan untuk berpikir, dan menetapkan pilihan. Bahkan malaikat pun tidak punya kemewahan ini. Mereka bahkan sempat protes kepada pencipta-Nya, kenapa manusia diberi keutamaan di muka bumi. Jawabannya, karena manusia diberi kemampuan untuk memilih.
The problem is, setiap pilihan itu datang selalu bersama dengan konsekuensinya, satu paket utuh yang tidak terpisahkan. Kadang yang kita pikirkan bukanlah pilihan itu sendiri tetapi konsekuensi yang menyertainya. Berharapnya sih, bisa memilih pilihan dengan konsekuensi yang memiliki impact buruk paling sedikit untuk kita, atau yang paling menguntungkan. Tapi tidak selamanya bisa semudah itu kan.
Masalahnya kadang-kadang bukan karena konsekuensi itu memang akan berakibat buruk. Tapi kita yang seringkali sudah terbuai dengan kenyamanan yang ada. Sehingga untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang lebih seringkali terasa berat. Padahal mungkin saja, dengan menempuh perjuangan yang lebih berat itu, hasil yang kita dapat akan membuat kita merasa bersyukur pada akhirnya, karena telah mengambil pilihan yang tepat.
Hari ini, suami saya bergegas untuk menentukan pilihan yang akan ia ambil untuk keluarga kecilnya. Pengambilan keputusannya itu sendiri sudah melalui proses yang panjang, tidak mudah dan melelahkan. Tapi pada akhirnya keputusan harus dibuat. Selama ini ia seperti nakhoda yang berputar-putar membawa bahteranya, karena belum menemukan satu bintang penunjuk jalan yang bisa ia jadikan pedoman untuk mencapai tujuannya.
Now, the path has been chosen. Jalan yang akan ditempuh sudah ditetapkan, tinggal mengarunginya saja bersama-sama. Dalam perjalanannya, pastilah nanti akan ada riak, gelombang, badai, tenang lagi, angin ribut lagi, angin tenang lagi. Apa pun itu, selama kami masih berada dalam satu kapal yang sama menuju tujuan yang sama, mudah-mudahan, pada akhirnya kami bisa tersenyum saat titik tujuan di kejauhan berangsur-angsur menjadi nyata bentuknya.
365 Thankful Days Project – Day 55 : Hypocrite
I was told last night, that me and my writings are such hypocrite. Tulisan-tulisan saya sama sekali tidak mencerminkan siapa saya yang sebenarnya, karena semuanya membuat saya seolah-olah terlihat sebagai seorang ibu dan istri yang baik, padahal bukan.
Saya juga mengakui sebenarnya, bahwa saya bukan ibu yang baik dan juga bukan istri yang baik, at least, belum. Tapi saya adalah a good wife wanna be and a good mother wanna be. Saya menulis bukan untuk menceritakan betapa hebatnya saya, tapi justru untuk memberi rasa percaya, bahwa sesulit apa pun itu, kita harus bisa mensyukuri apa pun yang kita miliki dalam hidup ini, suami, anak-anak, orang tua, keluarga, teman-teman, bahkan bocah mungil penjual koran di pinggir jalan.
Dan, saya percaya bahwa hidup adalah perjuangan terus-menerus untuk bisa menjadi baik, menurut standar yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta tentunya. Saya baru bisa disebut sebagai istri yang baik, ibu yang baik, pribadi yang baik, kalau suatu saat nanti saya sudah terbaring kaku di dalam tanah. Karena itu artinya, perjuangan saya untuk menjadi baik sudah selesai, dan saya tinggal menunggu diadili saja, baik oleh orang-orang yang saya tinggalkan maupun oleh Pencipta saya.
Satu hal yang ingin selalu saya miliki, adalah senyum dan semangat. Dan juga rasa percaya bahwa apa pun itu, kita akan baik-baik saja. Apalagi jika kita sedang menempuh satu perjuangan untuk bisa menjadi baik, maka semangat dan keyakinan adalah modal nomor satu yang harus kita punya.
Mungkin saya masih munafik dengan tulisan-tulisan saya ini, dan masih harus belajar untuk lebih banyak jujur di dalamnya. Tapi satu hal yang dengan tulus saya akui bahwa, seberat apa pun itu, saya masih bersyukur karena saya memiliki seorang suami yang menemani dan saya temani dalam melewati apa pun itu baik susah dan senang. Saya juga punya anak-anak yang sehat, pintar dan baik. Keluarga kecil saya, kepada siapa saya berharap bisa bersama-sama mencapai tujuan akhir dalam hidup ini.
365 Thankful Days Project – Day 52 : A Journey Called Marriage
Perjalanan terpanjang yang dilakukan seorang manusia dengan manusia lain, adalah untuk menempuh sebuah pernikahan. Pernikahan terjadi karena sepanjang hidupnya, manusia perlu ditemani dan menemani. Dan hanya dengan memiliki pasangan hidup lah, maka kebutuhan itu bisa dipenuhi.
Pernah melihat orang yang menempuh perjalanan panjang bersama-sama ? Di awal perjalanan mereka begitu bersemangat, karena mereka akan menuju ke tempat yang sama sambil ditemani seseorang. Tapi di tengah perjalanan, yang satu mengeluh, berhenti sebentar dong, capek nih. Kadang temannya mau berhenti, kadang jengkel. Lalu ada saatnya mereka berdebat jalan mana yang mau ditempuh. Kayaknya belok sini deh, ah.. sok tahu lu. Belok sini yang benar. Perdebatan ini bisa lama dan menyakitkan hanya gara-gara masalah mau belok ke mana. Tapi yang jelas, untuk melanjutkan perjalanan, salah seorang harus mengalah, mau belok ke mana. Kecuali kalau mereka memutuskan untuk berpisah di tengah jalan tentunya.
Kadang di tengah perjalanan, mereka pun harus saling melindungi satu sama lain dari mara bahaya, dan sebagai pasangan yang baik, mereka akan tahu kelemahan masing-masing sehingga tahu sisi mana yang harus dilindungi. Ada kalanya pemandangan di sepanjang jalan begitu indah, tapi banyak kala juga begitu suram dan buram. Kadang mendaki, kadang menurun. Kadang kehujanan, kadang kepanasan.
Tapi begitu tempat yang dituju terlihat di depan mata, bukan main bahagianya. Mereka akan melewatinya bersama-sama sambil bergandengan tangan dan tersenyum.
Well.. cerita itu cuma perumpamaan yang terfikir dalam kepala saya saja. Yang jelas, dalam sebuah pernikahan, pastilah perjalanan yang ditempuh lebih kompleks lagi, karena ada anak-anak yang dilahirkan, sebagai titipan yang harus kita antar sampai ke tujuannya juga. Mengantarkan titipan sampai ke tujuan tentu harus dilakukan bersama-sama kan ? Tidak mungkin satu pengantarnya ke selatan, sementara pengantar yang lain ke utara. Apa kata penitipnya nanti ?
Yang jelas, marriage is really not an easy jouney. Banyak hal-hal membingungkan yang terjadi sepanjang jalan. Kadang demi membahagiakan pasangan kita banyak mengalah, tapi toh ternyata kita tidak bahagia. Lalu di tempat lain, ada yang bisa mengungkapkan keinginannya dengan tegas pada pasangannya, tapi ternyata tidak bahagia juga.
Alangkah relatifnya bahagia ..
Saya melihat kedua orang tua saya, yang saya yakin juga pasti menempuh perjalanan berat selama pernikahan mereka. Tapi sekarang mereka hampir mencapai akhir tujuannya, sehingga mereka berdua terlihat begitu mesra dan selalu berjalan bergandengan tangan berdua kemana-mana.
Alangkah baiknya jika semua pernikahan bisa seperti itu …
365 Thankful Days Project – Day 44 : A Hole on The Wall
What do you think is more important, a hole on the wall or o hole on your child’s heart ? A hole on the wall will only take minutes to be fixed, but a hole on your child’s heart, will take years to heal, if we don’t want to say taking a life time.
I’ve been trying to make sure that my children will grow as normal as they can be. Memang dalam proses mendidik mereka, kadang saya harus memberi peringatan sedikit lebih keras, dengan harapan mereka bisa lebih memahami bahwa yang saya sampaikan adalah hal yang sangat penting, basic of life. Tapi karena mereka memahami, mengerti dan percaya dengan maksud saya, insya Allah mereka bisa menerimanya dengan baik.
Lalu bagaimana jika mereka tidak percaya pada kita ? Kita bicara sampai berbusa-busa pun, tidak akan mereka mau menerima apa yang kita sampaikan. Membangun kepercayaan seorang anak itu gak gampang, proses berkesinambungan yang dimulai sejak mereka dilahirkan sampai mereka dewasa. Dan kadang kita gak sabar dalam menghadapi proses itu.
There’s a hole in my house today. And there’s even a bigger hole in my son’s heart. Which I don’t know how can I ever fix that. It’s killing me to watch him feel bad and not even have any single clue how to handle his feeling. I believe that my son is a good boy because that’s just how I raise him, to be a good person. And somehow I know it that in his heart he also believes that he’s a good boy. That’s all I need him to believe… no matter how bad the situation is, he just has to believe in his self. You’re a good boy, don’t let anything make you believe that you’re not, cause I will always have faith on that..
365 Thankful Days Project – Day 37 : Let Go !
Today is really not a bright sunny day for me. I’m having a loss today. For some people, probably this kind of loss will drive them crazy, But not for me, hopefully ..
Hari ini saya kehilangan uang, banyak sekali uang. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana bisa hilangnya. Yang jelas, itu uang tabungan yang benar-benar saya simpan untuk anak-anak saya. Suami saya, sudah seperti kena serangan jantung. Karena dia merasa itu kesalahannya, maka bagi saya lebih berat menghadapi rasa putus asa yang dia alami ketimbang rasa kehilangan terhadap uang itu. Bagaimanapun uang itu kami kumpulkan bersama-sama, untuk anak-anak. Dan dia sebagai kepala keluarga, wajar kalau merasa bersalah telah mengecewakan keluarganya.
Uang hanyalah uang. Hasil keringat yang kita tukarkan dengan benda mati. Bagi sebagian orang bahkan tidak perlu berkeringat dulu untuk mengumpulkan uang. Tetapi bagi sebagian yang lain, sampai nafasnya putus pun uang yang terkumpul hanya sanggup untuk membuatnya bertahan selama beberapa saat saja. Meraihnya dalam jumlah besar bisa bikin orang jadi lupa daratan, sebaliknya kehilangan dalam jumlah besar bisa bikin orang jadi sinting.
Sedihkah saya saat ini ? Ya, saya juga kan manusia biasa. Tapi cukup sekedar sedih saja. Tidak perlu histeris, tidak perlu meraung. Money can not control me. Lagi pula, sebagai seorang istri saya cuma tahu satu hal. Tidak perduli seberapa besar kekecewaan yang kita alami, saat suami sedang terpuruk, maka satu-satunya orang yang bisa membantunya berdiri kembali hanyalah istrinya. Memang berat karena saya tidak punya otot baja tulang kawat. Just hoping that I have a mighty heart somewhere inside of me.
So..what to thank for the day ? Hmmm … (thinking a little bit harder), I think I’m happy enough because after all I still can put smile on my face and stay in sane. God help me.
365 Thankful Days Project – Day 36 : When Far is Not That Far and Close is Not That Close
When you are in a relationship with someone, with your friend, your spouse, your family.. just when, you will say that you feel close or far with them ? Does distance really matter ? I think distance is just numbers. Meskipun seseorang hanya berjarak satu kaki dari kita, if we don’t feel connected or in the worst case, we feel rejected, suatu hubungan justru akan terasa sangat jauh dan menyakitkan. Padangan mata yang menghindar akan terasa seperti pengabaian, topik pembicaraan yang dialihkan akan terasa seperti penolakan. Dan manusia, adalah makhluk yang amat sangat sensitif terhadap pengabaian dan penolakan.
Tapi sebenarnya susah juga, bagi orang-orang yang punya sedikit sekali waktu untuk keluarganya, biasanya mereka bersembunyi dengan dalih “yang penting kualitas bukan kuantitas”. Kalimat ini juga menyebalkan saya. Kalau ga punya banyak waktu ya akui saja, tidak usah pakai dalih seperti itu kan. Kualitas dan kuantitas itu sama pentingnya. Apalagi untuk orang-orang yang berarti dalam hidup kita. Mereka akan senang kalau punya waktu berkualitas dengan kita, dan mereka juga akan senang kalau bisa menghabiskan banyak waktu dengan kita.
Lalu, pertemuan yang berkualitas itu sebenarnya seperti apa ? Saat dua sesuatu berada terlalu dekat, friksi pasti terjadi. itu sudah hukum alam. Bagaimana biasanya dalam ilmu fisika kita mengatasi friksi ? Kalau satu benda punya permukaan keras, maka benda yang lain harus punya permukaan licin. Dengan begitu, friksi diminimalisir. Atau bentuk bendanya yang dirubah. Kalau yang satu kasar, maka yang satu lagi harus punya bentuk yang memudahkannya untuk tetap bergerak, seperti bola misalnya. Jadi, kesimpulannya menurut ilmu fisika, yang satu ngalah dong hehehe… easy to say, I know.
Dan kalau kita, karena satu dan lain hal, harus berada jauh dari orang yang kita cintai… still, berbahagialah. Paling tidak di salah satu belahan dunia ini, ada seseorang yang benar-benar kita cintai dan kita rindukan. Sedih sekali kalau selama hidup kita tidak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang kan. Distance is only numbers. Percayalah, getaran hati kita pun akan sampai padanya juga.

