Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 232 : Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Hmm… kadang-kadang saya bosan mendengar istilah sakinah mawaddah wa rahmah ini diucapkan pada setiap pasangan yang hendak menikah. Bukan apa-apa, sebenarnya yang mengucapkan harapan sakinah mawaddah wa rahmah itu sendiri mengerti tidak ya dengan apa yang dia ucapkan. Lalu pasangan yang baru menikah itu juga, masak sih  amin amin saja tanpa mengerti apa yang diamini ?

Sebenarnya saya juga tidak tahu…

Tapi coba kita bahas secara bentuk bahasanya saja ya, karena untuk membahasnya secara Ilmiah, saya pun masih belum sanggup.

Asal kata Sakinah adalah sakana,  dengan akar katanya  sakinah yang berarti tenang . Yang ada dalam benak saya, suatu pernikahan itu baru bisa memberikan ketenangan jika suami dan istri sama-sama memiliki ikatan hati yang kuat. Ikatan hati ini bukan dipengaruhi oleh faktor harta ataupun rupa meskipun kedua hal itu akan memberikan warna tersendiri dalam suatu rumah tangga. Ikatan hati yang kuat, timbul karena adanya kesamaan pandangan dan tujuan di dalam pernikahan. Bagaimana suatu pernikahan bisa tenang tentram damai jika di antara suami dan istri selalu terjadi perselisihan akibat kesalahpahaman yang berujung pada perasaan tidak dihargai akibat menumpuknya kekecewaan ?

Dan bukankah ikatan hati itu harus selalu dilandasi oleh Iman ?

Lalu istilah Mawaddah, yang secara bahasa bisa bermakna kosong, bisa juga berarti cinta.. Hmmm… apa pula ya maksudnya itu ? Mawaddah mungkin bisa dimaknai sebagai kelapangan dada yang tidak berbatas…menyadari bahwa pasangan kita pasti memiliki banyak kelemahan dan tidak luput dari kekhilafan , tapi bisakah kita mengosongkan hati kita dari memori kekhilafan-kekhilafan pasangan kita, dari perbedaan-perbedaan yang kita miliki dengan pasangan ? Sungguh butuh cinta yang besar untuk bisa melakukan itu.

Padahal berpasangan itu memang selalu harus ada bedanya. Sepatu kiri pasti berbeda dengan sepatu kanan meskipun kemana-mana selalu beriringan. Dawai-dawai harus mengeluarkan nada yang berbeda agar terdengar indah saat dipetik. Jarum yang keras harus ditisik pada kain yang lembut untuk membuat pakaian yang indah. Lalu apa masalahnya dengan being different ? Berbeda tidak membuat diri kita lebih baik atau lebih buruk dari pasangan kita kan.

Mawaddah adalah cinta tanpa batasan waktu, cinta tanpa batasan perbedaan.

Dan bukankah cinta harus selalu dilandasi oleh Iman ?

Dan Rahmah .. sungguh sebuah kata yang indah, kasih sayang. . Rahmah adalah jannah di dalam rumah tangga. Ibaratnya rumah tangga itu seperti satu tubuh yang utuh. Jika satu bagian tubuh merasa sakit, maka bagian yang lain pun ikut merasakan. 

Rasa sayang pada pasangan dan keluarga bukan semata-mata keluar melalui kata-kata yang manis, limpahan hadiah maupun pujian. Rasa sayang tumbuh karena adanya kebutuhan untuk saling merawat dan menjaga, saling memberi dan menerima, saling menolong dan menguatkan, saling mengingatkan dan memperbaiki. Ibarat bintang-bintang yang saling pantul-memantulkan terang, begitu pula rasa kasih sayang di dalam keluarga. Setiap anggotanya akan selalu berkeinginan untuk saling melimpahkan kasih sayang satu sama lain.

Dan bukankah kasih sayang itu adalah akibat dari Iman ?

Jadi sebenarnya jangan tanyakan saya bagaimana itu rumah tangga Sakinah Mawaddah Warahmah… karena semuanya pasti akan berujung dengan tanda tanya.  Karena sebenarnya semua kebaikan yang ada di dalam rumah tangga, adalah hasil peningkatan dari perbaikan-perbaikan pada pribadi masing-masing.  Bahkan jauh sebelum rumah tangga itu terbentuk. 

Dan Allah menciptakan alam semesta ini dengan berpasang-pasangan. Langit dan bumi, siang dan malam, proton dan neutron, laki-laki dan perempuan.. agar terjadi kesetimbangan yang harmonis dan indah. Menikah berarti kita ingin mencapai kesetimbangan itu. Ketimpangan hanya akan terjadi bila rasa keakuan kembali menonjol.

Ya Rabb… jadikan aku penyeimbang suamiku, dan suamiku penyeimbangku.  Jangan beratkan aku dengan egoku dan jangan beratkan suamiku dengan egonya.  Karena di dalam kesetimbangan itulah kami akan menjaga Amanah-Mu… Ihsan, Najmi, Yumna.. Amiinn ..

 

 

 

 

 

March 12, 2012 Posted by | family, Hope, Islam | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 189 : Belajar Ikhlas

Seorang sahabat bertanya , apa sebenarnya ikhlas itu ? Sementara saya masih berusaha mencari jawabannya, ia sudah memberikan jawabannya sendiri.

Katanya, ikhlas itu dikaruniakan Tuhan di dalam hati manusia. Kalau suatu saat kita tertimpa masalah tapi tetap teguh bertahan dalam usaha dan do’a, dan tidak mengumbar-umbar kekesalan atau kekecewaan, barulah disebut ikhlas. Itupun, karena ikhlas itu letaknya di dalam hati, maka jika kita menyebutkan : “Saya sudah ikhlas”,  lunturlah keikhlasan kita. Karena ikhlas itu bukan juga buat diumbar-umbar, sehingga orang-orang bisa memandang betapa baiknya kita.

Sulit ? Sulit … Bisa ? Insya Allah dengan niat yang benar, bisa.

Ikhlas bukan hanya dalam menerima segala masalah hidup, tapi juga ikhlas dalam berjuang. Perjuangan yang baik, menurut hadist Jibril, harus memenuhi empat hal :

1. Punya dasar perjuangan. Manusia tidak akan salah dalam perjuangannya jika memiliki Iman sebagai dasar perjuangannya.

2. Punya tujuan perjuangan. Manusia tidak akan sia-sia dalam perjuangannya, jika memiliki tujuan ingin hidup benar menurut yang sudah Tuhan perintahkan.

3. Punya teknik perjuangan. Manusia tidak akan tersesat dalam perjuangannya jika memahami Islam sebagai satu penataan dan pembinaan. Bahwa penataan hidup harus dimulai dari diri pribadi, lalu meningkat pada penataan rumah tangga, meluas pada penataan masyarakat, dan pada akhirnya menata bangsa. Adapun teknik membina diri adalah dengan membangun syahadat, shalat, shaum, zakat dan hajj bagi yang mampu.

4. Punya manajemen perjuangan. Manusia yang ikhlas akan patuh pada manajemen perjuangan. Manajemen perjuangan ada di dalam segala perintah dan larangan yang sudah Tuhan tetapkan. Mematuhi manajemen Tuhan dengan ikhlas, akan membawa manusia kepada tujuan perjuangannya.

Dan karena hidup adalah perjuangan tanpa henti, maka menjadi ikhlas pun adalah usaha terus-menerus yang harus kita lakukan setiap hari. Sesuatu yang sulit diperoleh, tapi selalu bisa dipelajari setiap hari selama masih ada umur …

March 15, 2011 Posted by | Effort, Islam, Learning, Life | , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 143 : Full Moon

I always love to watch full moon. Suami dan anak-anak tahu itu. Jadi, setiap melihat purnama biasanya anak-anak akan berkata,” Ummi Ummi, liat deh, sudah bulan purnama lagi“. 

Dan malam ini, purnama muncul sempurna, well.. at least di Batam. Meskipun saya ragu kalau bulan muncul dengan rupa yang berbeda-beda di setiap tempat. Bulan yang bulat membadar terang, cantik sekali …

Bulan adalah benda gelap yang melayang di langit, pasrah untuk setia menjadi satelit bagi bumi. Dia memang sudah ditetapkan untuk tidak memiliki cahaya. Tapi setiap malam tiba, dia akan memantulkan sebagian cahaya matahari yang ia terima, ke bumi.

Pernah mendengar bahwa Allah dengan Ilmu-Nya mengumpamakan Muhammad sebagai purnama yang membadar ? Ia memantulkan terang di tengah kegelapan. Ia seperti bulan yang pasrah tidak memiliki cahaya sendiri, tidak memiliki ego, tidak memiliki subjektifisme, tidak memiliki keakuan. Tapi karena ia pasrah dan patuh, maka ia menerima pantulan terang dari Ilmu Allah, dan menyinari kehidupan manusia yang gelap. Ia seperti purnama yang membadar terang, memantulkan cahaya matahari untuk menerangi malam…

Begitu halnya juga manusia .. hanya dia yang bisa membunuh keakuannyalah yang bisa memantulkan terang. Dan ini, demi Allah, tidak mudah. Membunuh subjektifisme dan ego, bahkan diumpamakan Allah seperti memasukkan unta ke lubang jarum. Bayangkan… unta . Saya masih heran kenapa Allah tidak memakai perumpamaan dengan binatang yang lebih kecil ya ? Unta .. kenapa tidak domba saja. Toh memasukkan domba ke lubang jarum juga sudah tidak terbayangkan. Tapi Allah dengan Ilmu-Nya, maha tahu. Memang menghilangkan bebal manusia itu, seperti memasukkan unta ke lubang jarum !

Jadi begitulah … kenapa saya sangat menyukai purnama. Saya juga memperhatikan bahwa, setiap purnama muncul, cahaya bintang-bintang di sekitarnya memudar. Mungkin sama seperti saat laki-laki tanpa ego itu muncul dengan ajaran menurut sunnah rasul-Nya, semua kehebatan-kehebatan lain langsung memudar, kalah oleh pantulan sinar Ilmu-Nya.

Malam ini, the full moon is just as beautiful as always …

December 21, 2010 Posted by | Islam, Nature, Observation | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 135 : Resolusi Tahun Baru 1 Muharram 1432 H

Sejarah mencatat, Muhammad SAW menghijrahkan para pendukungnya dari Makkah menuju Madinah untuk satu tujuan : mencari bumi yang mau menerima tegaknya Al-Quran menurut sunnah Rasul Muhammad.  Secara budaya, Muhammad SAW dan para pendukungnya itu juga berangkat untuk meninggalkan budaya jahiliah menuju peradaban Nur.

Pernahkah membayangkan, betapa beratnya pengorbanan yang harus mereka lakukan demi menjadi pendukung suatu ILMU yang bahkan ujudnya pun pada saat itu belum ada ? Mereka meninggalkan keluarga yang tidak mau turut, meninggalkan harta benda yang sudah sekian tahun mereka kumpulkan, meninggalkan tanah kelahiran dan ladang-ladang yang sudah begitu mereka akrabi sejak lahir, meninggalkan hal-hal yang menjadi adat kebiasaan dan yang mereka percayai sejak indra mereka berfungsi. Intinya, mereka meninggalkan seluruh hidup mereka di belakang. Hidup yang mereka kenal sejak lahir. Demi satu keinginan tinggi : berpartisipasi aktif mendukung sunnah rasul Muhammad.

Memangnya laki-laki yang mereka ikuti itu punya apa ? Dari segi harta, ia jelas tak berada. Dari segi tahta, ia jelas tak bersinggasana. Tapi ia punya kharisma yang memancar kuat dari dalam dirinya, ibarat bulan purnama yang membadarkan terang  pantulan sang surya.  Siapa pun yang berhati bersih, pasti bisa melihat , dan  berharap masuk ke dalam barisannya demi bisa melihat indahnya badar purnama yang ia pancarkan.

Lalu, 1432 tahun kemudian …

Masihkah semangat hijrah itu ada di diri kita  ? Masihkah ada kerinduan luar biasa pada ILMU yang membuat kita rela meningalkan segala subjektifisme kita ? I’m not sure

Hijrah, bukan selamanya masalah pindah tempat. Hijrah itu adalah perpindahan pola pikir, pindah dari pola pikir lama yang bebal, ke pola pikir baru yang patuh. Patuh pada skenario hidup khair yang sudah dicontohkan oleh Muhammad dan para pendukungnya.

Tepat pada hari ini, 1 Muharram 1432 H, saya menerima 600 bibit pohon yang akan saya tanam di Bandung. Tepat pada hari ini juga, saya menemukan sebuah lahan subur di pulau Galang yang nantinya akan saya garap untuk peternakan dan perkebunan, meskipun statusnya masih lahan sewaan. Mudah-mudahan, bibit Iman yang saya semai akan tumbuh bersama dengan tumbuh suburnya pohon-pohon itu, dan berkembangnya peternakan tersebut. Mudah-mudahan semua ini bisa menjadi langkah awal saya dan keluarga untuk hidup patuh sepertihalnya para pendukung terdahulu. Amiin ya Rabbal ‘alamiin…

December 7, 2010 Posted by | Hope, Islam | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 132 : Makan

Ada aturan yang diberikan oleh Muhammad SAW perihal makan, yang hari ini saya langgar dan langsung terasa akibatnya. 

Pertama, dikala memulai makan ucapkan BismillaHirrahmaanirrahiim, dan akhiri dengan AlhamdulillaaHirabbil ‘alamiin dikala selesai.

Ke dua, dilarang berbicara pada waktu makan, karena makan pun memerlukan  konsentrasi, perlu eling, bahwa makanan yang kita makan saat itu adalah rezeki yang sudah dikaruniakan kepada kita. Dan yang jelas untuk mencegah makanan tersedak ke saluran nafas.

Yang ke tiga, makanlah sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Aturan ke tiga inilah yang saya langgar. Pagi ini rasanya saya sudah cukup sarapan, tapi entah kenapa, baru jam sembilan pagi saja perut sudah krucuk-krucuk lagi. Jadilah, pas makan siang datang, kondisi perut sedang dalam “lapar berat” mode ON. Karena makan sudah dalam keadaan lapar, agak-agak kurang kontrol jadinya dengan jumlah makanan yang masuk ke perut, terburu-buru pula, dan baru berhenti setelah melampaui batas kenyang (memalukan ya..perempuan koq makannya seperti itu). Sudah begitu, jam dua siang ada yang beli gorengan, makan lagi. Ada biskuit di lemari, makan lagi. Ada buah, makan lagi.

Akhirnya, jam tiga sore baru terasa akibatnya, nyeri perut.  Masih bersyukur di kantor obat-obatan cukup lengkap tersedia, jadi tidak terlalu lama berkeringat dingin.

Lesson learned, kalau makan jangan kalap. Eling…eling…

December 1, 2010 Posted by | Health, Islam | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 126 : If’al Maa Tu-maru

Ada kisah yang luar biasa indah antara seorang ayah dan anaknya, dalam hal kepatuhan, yang terjadi lebih dari 4000 tahun yang lalu. Kisah antara Ibrahim dan anaknya Ismail, yang sudah jutaan kali diulang-ulang dalam berbagai versi.

Now let me share to you the way I see the story. Menurut hasil pengamatan saya, sebenarnya pemahaman luas yang berlaku sekarang terhadap kisah penyembelihan Ibrahim terhadap Ismail ini, masih terlalu dangkal. Kebanyakan kita hanya memusatkan perhatian kepada hari dimana berlakunya peristiwa penyembelihan tersebut. Tapi tidak berusaha melihat ke belakang, bagaimana perjalanan ayah dan anak tersebut sehingga bisa memiliki tingkat kepatuhan sedemikian luar biasa.

Baik Ismail maupun Ishak, sudah memperoleh didikan Sunnah Rasul Ibrahim sejak masih dalam buaian. Mereka dibina dengan Ilmu, diajari tentang pilihan-pilihan hidup dan konsekuensinya, diperkenalkan dengan pembinaan Iman. Semua dilaksanakan dalam satu wilayah pendidikan di dalam rumah tangga, sampai mereka mencapai umur akil baligh. Hal mana yang, kita sekarang sebagai orang tua, sudah tidak lakukan lagi sebagaimana mestinya.

Lalu jika pada satu ketika, Ibrahim berkata pada anaknya Ismail, bahwa sesungguhnya, dengan Da’wah Sunnah Rasulnya, ia seakan-akan diminta untuk menyembelih subjektifisme anaknya, maka karena kebulatan Iman sebagai hasil dari pendidikan ayahnya, Ismail bisa berkata : If-al, maa tu-maru. “Laksanakanlah, apa yang telah diperintahkan kepadamu”.

Duh, mana ada anak jaman sekarang bisa jawab begitu ? Baru disuruh ngerjain pe-er aja udah lebih melotot dia daripada orang tuanya. Tapi apa ini sepenuhnya salah si anak ? Sebagian besar, orang tuanyalah yang bertanggung jawab. Salah siapa kalau anak tidak kenal dengan nilai-nilai Ilmu ? Salah siapa, kalau anak tidak kenal dengan pilihan-pilihan hidup ? Jangankan anaknya, orang tuanya pun boro-boro paham …

Tapi kenapa hal ini jarang diungkit-ungkit dalam peringatan Idul Adha ya .. kenapa, Ismail bisa begitu ? Bagaimana Ibrahim mendidiknya ? Semua hanya terfokus pada upacara pemotongan hewan qurban semata. Cuma berharap mudah-mudahan qurban yang dilakukan bisa membersihkan hartanya.

So sorry for being a little bit sarcastic, itu sekedar pandangan dan penilaian saya saja. Kalimat jawaban If-al, maa tu-maru tidak mungkin meloncat keluar begitu saja dari bibir Ismail muda. Di usianya yang belia dia sudah berjiwa satria, yang jika diberi perintah, ia akan menjawab “Siap, laksanakan !”

Tapi .. saya juga harus fair. Maksudnya, saya akui bahwa jiwa satria Ismail juga masih jauh dari diri saya.

Saya masih mudah tersinggung kalau orang mengkritik saya, padahal kritik itu datang demi menyembelih kebodohan saya.

Saya masih mudah putus asa kalau menghadapi masalah, padahal masalah datang demi menyembelih sikap tidak sabar saya.

Saya masih mudah lelah kalau sedang banyak pekerjaan, padahal pekerjaan yang banyak adalah untuk menyembelih kemalasan saya.

Suatu saat, saya mau menjawab semuanya dengan : If’al, maa tu-maru.

November 16, 2010 Posted by | Islam | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 87 : 1 Syawal 1431H

1 Syawal tahun ini, sangat berarti karena anak-anak sudah bisa benar-benar melaksanakan shaum penuh selama satu bulan. Tanpa dipaksa sama sekali, dan bahkan tanpa kesulitan membangunkan mereka sahur atau membujuk-bujuk untuk menahan lapar dan haus sampai waktu berbuka. Anak-anak Ummi, you both should be proud of your selves. Maafin Ummi kalau selama ini Ummi banyak salah dan kurang memahami jiwa kanak-kanak kalian ya .. Semoga shaum yang kalian jalani, bisa membentuk kalian menjadi manusia-manusia yang sabar dan ikhlas dalam berjuang, Amin. Cinta tak lagi sanggup berkata-kata dengan keberadaan kalian di dalam hidup Ummi.

1 Syawal tahun ini, sangat berarti karena bisa berada di Bandung, di tengah adik-adik dan mamah papah.  Satu kekhawatiran terbesar saya adalah bahwa belum tentu tahun-tahun berikutnya masih diberi kesempatan semewah ini.  Umur manusia memang rahasia Allah dengan Ilmu-Nya, tetapi setiap kali melihat mereka semakin menua dan menurun kesehatannya, membuat saya sadar bahwa bisa berkumpul dengan seluruh anak-anak dan cucu-cucunya, merupakan kebahagiaan yang tidak teruraikan bagi mereka.

1 Syawal tahun ini, sangat berarti karena suami saya sudah mendapatkan jalan tempuhnya kembali. Manusia memang memiliki banyak rencana, dan untuk sampai ke sana bisa melewati berbagai cara. Tapi tentu saja cara yang paling baik adalah dengan kebulatan hati yang didasari oleh satu keyakinan bahwa yang kita jalani adalah dalam rangka menegakkan perjuangan untuk bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

1 Syawal tahun ini, sangat berarti karena saya masih bisa kembali berada di dalamnya. Beberapa minggu yang lalu saya baru kehilangan seorang sahabat di bulan Ramadhan. Siapa yang menyangka bahwa tahun lalu adalah 1 Syawalnya yang terakhir. Dan tahun ini anak-anaknya memasuki 1 Syawal tanpa keberadaannya.

Mudah-mudahan, selama menempuh satu tahun ke depan menjelang 1 Syawal berikutnya, lebih banyak lagi hal-hal bermanfaat yang bisa saya lakukan, hasilkan dan persembahkan sehingga bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, Amin.

September 16, 2010 Posted by | family, Hope, Islam | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 66 : Shaum Ramadhan

Tahun ini, ternyata saya masih diberi kesempatan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Saya selalu menganggap, bulan Ramadhan ini disediakan oleh Allah dalam setahun sama seperti  proses ujian yang harus kita hadapi di sekolah setelah setahun menempuh pendidikan.

Biasanya, setelah setahun menempuh pendidikan, maka untuk menghadapi ujian, kita akan belajar lebih keras , lebih konsentrasi, lebih serius, dan lebih bersungguh-sungguh agar bisa dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik. Bukan hanya sekedar datang, duduk, mengerjakan soal dan pulang supaya dianggap sebagai peserta ujian yang baik. Tapi bersungguh-sungguh menjalaninya karena ingin meraih keberhasilan.

Demikian pula dengan Shaum Ramadhan. Allah menjadikan Shaum sebagai salah satu dari lima proses pembinaan Iman bagi manusia : Syahadat, Shalat,Shaum,Zakat dan Hajj.  Dan Shaum, pada dasarnya adalah satu proses pembinaan sabar.

Sabar

Apa itu sabar ? Sabar adalah pada saat kita teguh bertahan dalam keadaan bagaimana pun pahit dan getirnya.  Sabar bukan mengalah meskipun mungkin akan terlihat seperti itu. Karena mengalah berarti terseret. Sabar justru adalah perjuangan mempertahankan keyakinan, bahwa seberapa buruk pun situasi yang kita hadapi, hal itu tidak akan membuat kita lepas dari kesadaran akan tujuan hidup kita.

Coba bayangkan, pada saat shaum, dimana kita berada pada kondisi fisik yang cenderung lebih lemah, bagaimana kondisi ke-Iman-an kita. Pada saat kenyang saja kita sering tidak sabar, apalagi pada saat lapar. Di pagi hari mungkin kita masih bugar, masih bisa berkonsentrasi untuk mengingat ucapan Bismillah saat hendak memulai apa pun.  Tapi menjelang sore, saat perut sudah perih dan bibir begitu kering, naik mobil pun mungkin hanya memikirkan bagaimana secepat mungkin bisa tiba di rumah saja.

Berapa sering Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dahulu harus berperang di saat mereka tengah menjalankan shaum ? Kesabaran mereka, tidak dikalahkan oleh penurunan fisik , malah semakin bergelora Iman nya. Lah kita… shaumnya di ruangan ber ac, kemana-mana naik mobil, berbuka dengan makanan yang melimpah.  Apanya yang teruji ya .. hanya memindahkan jadwal makan saja sebenarnya.

Itu pun masih ditambah dengan acara-acara televisi yang makin bikin shaum semakin “gak berasa”, makin banyak acara komedinya yang bikin kita cekikikan siang hari, malam hari, bahkan saat sahur. Makin banyak sinetron-sinetron kejamnya, yang begitu menjelang Idul Fitri mendadak pada tobat semua. Belum lagi kehebohan nasional luar biasa akibat harga-harga yang melambung dan arus mudik. Miris sebenarnya melihat huru-hara akibat bulan Ramadhan ini. Tapi beginilah situasi dan kondisi Ramadhan di Indonesia, dengan segala pernak-pernik budayanya yang luar biasa ajaib.

Anyway .. selamat menjalankan Shaum Ramadhan sebagai satu Pembinaan Sabar untuk bangsaku Indonesia tercinta ..

August 9, 2010 Posted by | Islam, Learning, Observation | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 9 : Circle of Good Deeds

I read a beatiful story today, about a young Persian man called Salman. Salman, karena nasibnya, bertahun-tahun menjadi budak seorang Yahudi yang tinggal di pinggir Madinah. Ia menanggung beban pekerjaan yang seharusnya dipikul sepuluh laki-laki. Padahal kepergiannya dari Persia menuju jazirah yang tandus adalah karena telah terdengar olehnya kabar tentang kehadiran seorang Nabi disana.

Tidak ada pencarian yang dilakukan seseorang sehebat apa yang dilakukan Salman. Sayang ia kemudian terbelenggu oleh stempel budak pada dirinya. Sedangkan harga kemerdekaannya demikian mahal : segenggam emas dan tiga ratus batang pohon kurma. Sampai napasnya habis sekalipun tak akan sanggup Salman melunasi tebusan itu.

Pada suatu hari yang terberkahi, Salman menyelinap dari perkebunan dan menemui Sang Nabi, meminta solusi. Tidak meminta dua kali beliau menyuruh Salman mengiyakan permintaan sang majikan. Sang Nabi kemudian meminta para sahabatnya untuk patungan. Tak lama kemudian kabar itu tersiar dan setiap warga menyumbangkan satu batang pohon kurmanya. Terkumpul tiga ratus batang. Lalu seorang penambang menyumbangkan sebongkah emas untuk menutupi sisa tuntutan sang majikan. Lunas sudah, merdekalah Salman kemudian.

Yang jadi pertanyaan adalah : Apakah kemerdekaan Salman merupakan takdir ? Karena Salman adalah kunci jawaban terhadap kemenangan yang gegap gempita dari Sang Nabi, Muhammad SAW, dan pengikutnya di kemudian hari.

Setelah kemenangan besar di Badar dan kepiluan di Uhud, pasukan Quraisy dengan koalisi besar-besarannya berderap langkah menuju Madinah. Sebuah serangan raksasa. Seperti air bah kematian dan nasib Madinah di ujung sejarah. Muhammad SAW mengumpulkan semua sahabatnya demi menemukan strategi terbaik. Buntu.

Tiba-tiba seorang lelaki muda bangkit. Memberikan ide yang datang dari dunia antah-berantah yang tidak akan terpikirkan sekali pun oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ia berkata, bahwa di Persia, jika kami takut terhadap serangan kuda, maka kami akan menggali parit mengelilingi rumah kami. Maka marilah kita menggali parit untuk melindungi Madinah. Semua terdiam, sebagian melongo, ide yang sangat asing. Tapi kemudian diputuskan, parit lah jawaban dari strategi yang mereka cari-cari selama ini.

Akhirnya, Salman sang budak dari negara antah berantah dengan ide dari kampung halamannya, berhasil melindungi dan bahkan membawa penduduk Madinah kepada kemenangan yang besar.

Moral of the story ? Kita tidak akan pernah tahu, kepada siapa pun kita memberikan pertolongan, sesungguhnya hal itu mungkin akan menolong diri kita sendiri di waktu yang akan datang. Tidak perlu berbicara tentang pahala di akhirat. Tuhan juga pasti akan mengembalikan kebaikan itu kepada kita di masa hidup kita, di dunia.

June 7, 2010 Posted by | Book, Islam, Life, Thoughts | , , , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.