Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 234 : My Arrow

Ihsan, satu-satunya calon penerus laki-laki dalam keluarga, pernah bilang :

Ummi, aku mau ikut kompetisi matematika biar bisa ke luar negeri.

Ummi, aku mau cari beasiswa supaya bisa ke Paris.

Terharu .. mau ke luar negeri karena usaha sendiri. Sudah mengerti bahwa bercita-cita itu harus berani. Insya Allah tercapai ya, Amiinn…

Anak-anak bercita-cita, orang tua membantu membukakan jalan. Sudah seharusnya seperti itu kan.  Karena itu hari ini, dan untuk sepanjang minggu ini, Ummi rela bersusah-susah mengurus abang supaya bisa diterima di SMPN 6 Batam, sekolah menengah yang katanya berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).

Abang : Kalau gak lulus Mi ?

Ummi : Ga usah ditanya kalau ga lulus.. harus lulus ya Bang.

Alhamdulillah , Ihsan selalu punya semangat buat berjuang untuk pendidikannya. Senangnya juga dia punya teman-teman dengan semangat juang yang sama. Jadi mereka selalu bisa saling mendukung.

Abang… you’ve grown up so fast. Sekarang sudah mau SMP. Maaf kalau Ummi dan Abu terlalu menekan abang soal pentingnya pendidikan. Soal betapa beruntungnya Abang karena punya orang tua yang bisa memfasilitasi abang untuk belajar, soal betapa pentingnya punya cita-cita tinggi dan berusaha untuk meraihnya. Mungkin abang bosan mendengarnya. Gak apa-apa kalau bosan juga, asal tetap diturutin ya  :D

Abang adalah salah satu anak panah yang Ummi punya. Ummi adalah busur yang sedang merentang dengan kuat. I must aim you to the right future.  Pada saatnya, Abang akan melesat dengan kencang sendirian meninggalkan Ummi.. (Hiks, kadang sedih memikirkan kalau saat-saat itu akan datang).  Jadi sekarang Abang pasrah aja ikut dalam rentangan busur Ummi ya.. Gak mungkin Ummi sama Abu mengarahkan Abang ke tempat yang salah.

Go arrow go… be brave and hit your bright future ..

 

April 2, 2012 Posted by | Education, Effort, Growing Up, Hope | , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 232 : Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Hmm… kadang-kadang saya bosan mendengar istilah sakinah mawaddah wa rahmah ini diucapkan pada setiap pasangan yang hendak menikah. Bukan apa-apa, sebenarnya yang mengucapkan harapan sakinah mawaddah wa rahmah itu sendiri mengerti tidak ya dengan apa yang dia ucapkan. Lalu pasangan yang baru menikah itu juga, masak sih  amin amin saja tanpa mengerti apa yang diamini ?

Sebenarnya saya juga tidak tahu…

Tapi coba kita bahas secara bentuk bahasanya saja ya, karena untuk membahasnya secara Ilmiah, saya pun masih belum sanggup.

Asal kata Sakinah adalah sakana,  dengan akar katanya  sakinah yang berarti tenang . Yang ada dalam benak saya, suatu pernikahan itu baru bisa memberikan ketenangan jika suami dan istri sama-sama memiliki ikatan hati yang kuat. Ikatan hati ini bukan dipengaruhi oleh faktor harta ataupun rupa meskipun kedua hal itu akan memberikan warna tersendiri dalam suatu rumah tangga. Ikatan hati yang kuat, timbul karena adanya kesamaan pandangan dan tujuan di dalam pernikahan. Bagaimana suatu pernikahan bisa tenang tentram damai jika di antara suami dan istri selalu terjadi perselisihan akibat kesalahpahaman yang berujung pada perasaan tidak dihargai akibat menumpuknya kekecewaan ?

Dan bukankah ikatan hati itu harus selalu dilandasi oleh Iman ?

Lalu istilah Mawaddah, yang secara bahasa bisa bermakna kosong, bisa juga berarti cinta.. Hmmm… apa pula ya maksudnya itu ? Mawaddah mungkin bisa dimaknai sebagai kelapangan dada yang tidak berbatas…menyadari bahwa pasangan kita pasti memiliki banyak kelemahan dan tidak luput dari kekhilafan , tapi bisakah kita mengosongkan hati kita dari memori kekhilafan-kekhilafan pasangan kita, dari perbedaan-perbedaan yang kita miliki dengan pasangan ? Sungguh butuh cinta yang besar untuk bisa melakukan itu.

Padahal berpasangan itu memang selalu harus ada bedanya. Sepatu kiri pasti berbeda dengan sepatu kanan meskipun kemana-mana selalu beriringan. Dawai-dawai harus mengeluarkan nada yang berbeda agar terdengar indah saat dipetik. Jarum yang keras harus ditisik pada kain yang lembut untuk membuat pakaian yang indah. Lalu apa masalahnya dengan being different ? Berbeda tidak membuat diri kita lebih baik atau lebih buruk dari pasangan kita kan.

Mawaddah adalah cinta tanpa batasan waktu, cinta tanpa batasan perbedaan.

Dan bukankah cinta harus selalu dilandasi oleh Iman ?

Dan Rahmah .. sungguh sebuah kata yang indah, kasih sayang. . Rahmah adalah jannah di dalam rumah tangga. Ibaratnya rumah tangga itu seperti satu tubuh yang utuh. Jika satu bagian tubuh merasa sakit, maka bagian yang lain pun ikut merasakan. 

Rasa sayang pada pasangan dan keluarga bukan semata-mata keluar melalui kata-kata yang manis, limpahan hadiah maupun pujian. Rasa sayang tumbuh karena adanya kebutuhan untuk saling merawat dan menjaga, saling memberi dan menerima, saling menolong dan menguatkan, saling mengingatkan dan memperbaiki. Ibarat bintang-bintang yang saling pantul-memantulkan terang, begitu pula rasa kasih sayang di dalam keluarga. Setiap anggotanya akan selalu berkeinginan untuk saling melimpahkan kasih sayang satu sama lain.

Dan bukankah kasih sayang itu adalah akibat dari Iman ?

Jadi sebenarnya jangan tanyakan saya bagaimana itu rumah tangga Sakinah Mawaddah Warahmah… karena semuanya pasti akan berujung dengan tanda tanya.  Karena sebenarnya semua kebaikan yang ada di dalam rumah tangga, adalah hasil peningkatan dari perbaikan-perbaikan pada pribadi masing-masing.  Bahkan jauh sebelum rumah tangga itu terbentuk. 

Dan Allah menciptakan alam semesta ini dengan berpasang-pasangan. Langit dan bumi, siang dan malam, proton dan neutron, laki-laki dan perempuan.. agar terjadi kesetimbangan yang harmonis dan indah. Menikah berarti kita ingin mencapai kesetimbangan itu. Ketimpangan hanya akan terjadi bila rasa keakuan kembali menonjol.

Ya Rabb… jadikan aku penyeimbang suamiku, dan suamiku penyeimbangku.  Jangan beratkan aku dengan egoku dan jangan beratkan suamiku dengan egonya.  Karena di dalam kesetimbangan itulah kami akan menjaga Amanah-Mu… Ihsan, Najmi, Yumna.. Amiinn ..

 

 

 

 

 

March 12, 2012 Posted by | family, Hope, Islam | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 180 : The After Life

Suami saya pernah berkata, Ummi.. di akhirat nanti Abu maunya istri Abu itu Ummi lagi, dan kita ketemu lagi sama anak-anak …

Dulu saya pikir, iihh, Abu ini aneh.. yang seperti itu sih kita mana tau ?

Tapi kemudian saya ingat, bahwa Muhammad SAW pernah ditanya, bagaimana rasanya jannah ? Muhammad menjawab : Jannah itu nikmatnya tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tidak terbetik oleh hati…. (lah.. jadi bingung, bagaimana selama ini orang-orang bisa dengan sok tahu menggambarkan surga dengan lukisan ya ?)

Tapi bagaimana akhirat, kata Muhammad : Dunia adalah cermin pemantul akhirat. Jadi kalau mau tau bagaimana kita di akhirat nanti, berkacalah pada kehidupan diri sendiri di dunia yang dijalani sekarang.

Sebenarnya daya pemikiran saya juga tidak sampai ke sana… tapi dengan permintaan suami saya baru sadar, bahwa yang namanya jannah atau surga adalah tempat dimana kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Tempat dimana kasih sayang selalu terhambur, tempat dimana setiap orang mendapatkan penghargaan. Tempat dimana semua orang merasa aman.

Karena itulah Muhammad berkata, duniamu adalah cermin pemantul akhiratmu. Sudahkah dunia kita menjadi jannah bagi kita ? Atau dunia malah serasa seperti neraka jahannam, padahal kita sendiri yang membuatnya menjadi demikian ?

Lalu saya berfikir lagi… alangkah benarnya suami saya. Kalau dia mengajak saya untuk berkumpul kembali di akhirat nanti, bukankah itu berarti kalau dia mengajak saya dan anak-anak untuk hidup dengan ajaran Allah menurut sunnah Rasul-Nya ? Karena tidak mungkin kami semua berkumpul kembali kalau tidak dengan ajaran Allah.

Alangkah indahnya jika sebuah keluarga bisa selalu utuh dan berkumpul lagi di akhirat nanti ya … Sedih saja kalau ada keluarga yang, jangankan ingin bertemu kembali di akhirat, ingin tetap bersama di dunia pun tak yakin.

February 24, 2011 Posted by | family, Hope | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 154 : Jembatan Seribu Harapan

Hari ini, sewaktu hendak menemui seorang kerabat di daerah Sei Panas Batam, saya dan anak-anak melewati sebuah Vihara besar, namanya Vihara Duta Maitreya, sebuah rumah ibadah Buddha.

Anak-anak nyelutuk, “Ummi, kita kan dulu pernah sembahyang di sana sama abu yaa ?” Yup, that’s right kids, masih inget ajah.

Ceritanya begini, kenapa kami sekeluarga bisa sampai bersembahyang dengan tata cara Buddha di sana. Dulu ada seorang tetangga, yang ibunya mengidap kangker otak. Beliau sudah berobat selama beberapa waktu di Singapur, tapi sepertinya belum membaik juga. Mereka penganut ajaran Buddha.

Salah satu upaya yang mereka lakukan demi kesembuhan sang ibu, adalah dengan berdoa di Vihara. Pada satu saat, seorang pendetanya berkata, bahwa sang ibu bisa sembuh, jika ada seribu orang yang mendoakannya di Vihara. Tidak perlu secara bersamaan, asal jumlah totalnya seribu. Sehingga doa seribu orang ini akan menjadi jembatan baginya kepada Sang Buddha, untuk memperoleh kesembuhan.

Sewaktu meminta keluarga saya mendoakan ibunya di Vihara, semula dia ragu-ragu. karena saya seorang perempuan muslim yang mengenakan jilbab. Maukah saya dan keluarga melakukannya ? Tapi demi jembatan doa sang bunda, ia pun bertanya. Setelah berunding dengan suami dan anak-anak, saya menyetujuinya.

Saya, suami dan anak-anak benar-benar mengikuti prosesi doa itu dengan patuh di Vihara Duta Maitreya. Bahkan anak-anak terlihat berdoa dengan khidmat, agar nenek di sebelah rumah cepat sehat kembali.

Tahu tidak… setahun kemudian saat saya melihat sang bunda, dia kelihatan benar-benar sehat dan bahkan cantik. Apa karena doanya sehebat itu ? Tapi saya pikir, yang membuat dia sehat adalah rasa percaya di dalam dirinya, bahwa telah ada seribu orang yang dengan suka rela mendoakannya meskipun dari latar belakang agama yang berbeda. Dan seribu jembatan harapan manusia itu, sudah cukuplah untuk membangkitkan semangat juangnya untuk bisa sehat kembali.

The power of hope ..

January 7, 2011 Posted by | Effort, Hope | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 151 : Ditulis Dengan Hati

Hari ini saya dihubungi oleh WWF Indonesia, katanya tulisan saya mengenai penyelamatan hutan (Day 149), memenangkan kompetisi menulis yang mereka adakan. Alhamdulillah … itu saja yang bisa saya ucapkan.

Katanya saya menang karena tulisan saya itu ditulis dengan hati. Saya tersenyum saja mendengarnya. Karena memang pada dasarnya, saya lebih baik tidak menulis dari pada menuliskan sesuatu dengan setengah hati. Karena itu meskipun project ini seharusnya selesai dalam 365 hari, pada kenyataanya nanti saya yakin, tenggat waktu itu akan terlewati. Memang saya akan menulis sebanyak 365 topik, tapi pastinya akan lebih dari 365 hari. Itu karena saya tidak akan menulis jika hanya setengah hati.

Sementara, suasana hati setiap hari selalu naik turun..  saya pikir itu salah satu kelemahan saya. Tidak bisa konsisten menjaga perasaan saya agar selalu dipenuhi rasa syukur. Belum bisa benar-benar peka terhadap peristiwa sehari-hari yang bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Padahal, di sekitar kita pastilah ada jutaan kisah. Hanya saja kisah-kisah itu tersembunyi, perlu hati yang benar-benar peka untuk bisa menangkapnya.

Awalnya project ini hanya dimulai dengan niat untuk memperbaiki diri. Lama-lama, malah seperti menjadi kebutuhan. Dan jika orang-orang yang membacanya bisa melihat bahwa tulisan-tulisan ini ditulis dengan hati… itu sudah merupakan satu penghargaan tersendiri buat saya..

January 3, 2011 Posted by | Hobby, Hope | , | 2 Comments

365 Thankful Days Project – Day 150 : 1-1-11

Jika berbicara tentang pergantian tahun (kali ini berbicara tahun Masehi), biasanya yang terbayang adalah : Kaleidoskop tahun yang telah berlalu, perayaan pergantian tahun, dan resolusi tahun baru.

Kaleidoskop sebenarnya adalah sejenis tabung yang didalamnya berisi cermin, manik-manik aneka warna dan pecahan kaca. Yang jika kita mengintip pada salah satu ujungnya dan cahaya masuk dari ujung yang lain, akan terlihat pola-pola indah penuh warna yang dipantulkan oleh cermin yang ada di dalamnya. Keindahan aneka warna itu muncul atas prinsip pantulan berganda.

Mungkin kemudian para ahli sosiolog mengumpamakan tabung tersebut sebagai ruang dan waktu selama satu tahun. Lalu manik-manik dan pecahan kaca aneka warna adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun tersebut. Sedangkan cermin, adalah bagaimana orang-orang di sekitar kita memandang semua peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya, terjadilah peristiwa pantul-memantul, karena pada dasarnya setiap peristiwa tidak berdiri sendiri atau mempengaruhi satu orang saja. Banyak yang terlibat di dalamnya, banyak yang terpengaruh oleh pantulannya.

Saat kita memandang kaleidoskop hidup kita selama satu tahun ke belakang, indah kah pantulan yang terlihat ? Kalau manik-manik dan kaca yang ada di dalamnya penuh warna dan berkilau, pasti indah sekali memandanginya. Tapi kalau hanya batu kerikil yang kita masukkan ke dalam tabung, mungkin yang terlihat hanya pantulan buram yang tidak indah.

Lalu datanglah malam pergantian tahun. Saat tabung yang lama sudah penuh dan harus diganti dengan tabung yang baru. Entah kenapa kita bersukaria di malam pergantian tahun ini. Mungkin karena kita merayakan harapan baru dan semangat baru. Mungkin karena kita sudah bosan mengisi tabung yang lama, bosan dengan pantulan yang terlihat dan ingin segera mengisi tabung yang baru.

Tabung kaleidoskop yang baru sudah di tangan. Kira-kira, apa yang akan kita masukkan kali  ini ke dalamnya ya ? Kalau kita tahu dari kaleidoskop sebelumnya, bahwa batu-batu kerikil tidaklah indah pantulannya, masihkah kita akan memasukkan batu-batu kerikil ke dalamnya ? Mungkin memang karena batu kerikil gampang didapat sedangkan manik-manik yang indah sulit dicari. Makanya kita selalu saja berulang-ulang memasukkan batu-batu kerikil ke dalamnya… Tapi menunggu, untuk mendapatkan manik-manik terbaik, pastilah jauh  lebih memuaskan, demi pantulan terindah yang akan kita peroleh pada akhirnya …

Selamat Tahun Baru 2011 …

January 1, 2011 Posted by | Hope | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 135 : Resolusi Tahun Baru 1 Muharram 1432 H

Sejarah mencatat, Muhammad SAW menghijrahkan para pendukungnya dari Makkah menuju Madinah untuk satu tujuan : mencari bumi yang mau menerima tegaknya Al-Quran menurut sunnah Rasul Muhammad.  Secara budaya, Muhammad SAW dan para pendukungnya itu juga berangkat untuk meninggalkan budaya jahiliah menuju peradaban Nur.

Pernahkah membayangkan, betapa beratnya pengorbanan yang harus mereka lakukan demi menjadi pendukung suatu ILMU yang bahkan ujudnya pun pada saat itu belum ada ? Mereka meninggalkan keluarga yang tidak mau turut, meninggalkan harta benda yang sudah sekian tahun mereka kumpulkan, meninggalkan tanah kelahiran dan ladang-ladang yang sudah begitu mereka akrabi sejak lahir, meninggalkan hal-hal yang menjadi adat kebiasaan dan yang mereka percayai sejak indra mereka berfungsi. Intinya, mereka meninggalkan seluruh hidup mereka di belakang. Hidup yang mereka kenal sejak lahir. Demi satu keinginan tinggi : berpartisipasi aktif mendukung sunnah rasul Muhammad.

Memangnya laki-laki yang mereka ikuti itu punya apa ? Dari segi harta, ia jelas tak berada. Dari segi tahta, ia jelas tak bersinggasana. Tapi ia punya kharisma yang memancar kuat dari dalam dirinya, ibarat bulan purnama yang membadarkan terang  pantulan sang surya.  Siapa pun yang berhati bersih, pasti bisa melihat , dan  berharap masuk ke dalam barisannya demi bisa melihat indahnya badar purnama yang ia pancarkan.

Lalu, 1432 tahun kemudian …

Masihkah semangat hijrah itu ada di diri kita  ? Masihkah ada kerinduan luar biasa pada ILMU yang membuat kita rela meningalkan segala subjektifisme kita ? I’m not sure

Hijrah, bukan selamanya masalah pindah tempat. Hijrah itu adalah perpindahan pola pikir, pindah dari pola pikir lama yang bebal, ke pola pikir baru yang patuh. Patuh pada skenario hidup khair yang sudah dicontohkan oleh Muhammad dan para pendukungnya.

Tepat pada hari ini, 1 Muharram 1432 H, saya menerima 600 bibit pohon yang akan saya tanam di Bandung. Tepat pada hari ini juga, saya menemukan sebuah lahan subur di pulau Galang yang nantinya akan saya garap untuk peternakan dan perkebunan, meskipun statusnya masih lahan sewaan. Mudah-mudahan, bibit Iman yang saya semai akan tumbuh bersama dengan tumbuh suburnya pohon-pohon itu, dan berkembangnya peternakan tersebut. Mudah-mudahan semua ini bisa menjadi langkah awal saya dan keluarga untuk hidup patuh sepertihalnya para pendukung terdahulu. Amiin ya Rabbal ‘alamiin…

December 7, 2010 Posted by | Hope, Islam | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 131 : When You Get, Give. When You Learn, Teach.

Saya suka sekali dengan kalimat ini, when you get, give, when you learn, teach.  saya dengar dari acara Oprah Winfrey Show hari ini.

Saya percaya dengan apa yang disebut sebagai Circle of Good Deeds. Semua hal di alam semesta ini memiliki siklus, jadi seperti itu jugalah dengan semua hal yang kita kerjakan. Pada akhirnya, baik atau buruk, segala sesuatu itu akan kembali lagi kepada kita.

Yang berbahaya adalah jika kita mau memutus atau menghambat siklus ini. Maksudnya begini. When we get, give. Karena semakin banyak kita memberi, entah kenapa semakin banyak juga kita akan menerima. Itu adalah sebuah siklus. Kalau kita cuma mau menerima saja tanpa mau memberi, maka kita akan seperti kolam mati, tidak mengalir. Yang ada kolam itu akan tetap menampung organisme-organisme lama yang mulai membusuk, dan lama-lama akan membuat keruh permukaan kolam, bahkan berbau. Hii …

When we learn, teach. Muhammad SAW berkata bahwa sebaik-baik belajar adalah dengan mengamalkan dan mengajarkannya kembali. Itu yang saya rasakan juga, semakin saya mengajar, semakin saya mengerti. Dengan mengajar, kita berbicara. Orang akan mendengarkan dan bertanya. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita kemudian belajar kembali. Kalau cuma maunya belajar tapi tidak mau mengajar ? Kita akan seperti gelas yang diisi air terus menerus sampai penuh, akhirnya malah tumpah kemana-mana. Jadi Ilmu itu datang juga untuk dibagikan, untuk mengalir ke tempat yang lebih jauh lagi.

Ya Allah, Please give me more, and please teach me more …

November 27, 2010 Posted by | Hope, Life | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 128 : Quarantine

I’m really so not very happy at the moment.  My husband got infected by a desease that make him has to be quarantined in an island, away from home. 

Seharusnya ia sudah pulang ke rumah besok, tapi for safety reason, mencegah terjadinya penyebaran lebih luas lagi, ia tidak bisa naik pesawat dan masih harus melanjutkan masa karantinanya lagi, sampai membaik.

Tadinya saya pikir ia bisa segera pulang dan mendapat perawatan yang lebih memadai. Tapi tidak bisa. Saya berusaha menyusul pun tidak ada guna, karena satu-satunya penerbangan komersil yang berangkat menuju pulau itu, sudah tidak beroperasi lagi.

Sebenarnya sedang kesal dengan situasi ini karena tidak bisa berbuat apa-apa.  Pada kondisi sekarang, hanya bisa berharap mudah-mudahan ia bisa cepat membaik dan pulang kembali ke rumah. Amin.

But I still have to thank God for .. at least I know that he’s surviving. Please be strong there  …

November 22, 2010 Posted by | Dislike, family, Fear, Health, Hope | , , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 116 : Kebutuhan Akan Kekurangan

Ini kalimat yang saya kutip dari Mbah Maridjan, sebelum wafatnya. Beliau berkata, bahwa manusia itu selalu merasa tidak cukup dalam hidupnya, selalu merasa tidak puas dan kekurangan. Tapi itu memang kebutuhan manusia, Manusia butuh akan kekurangan.

Beliau ini padahal tidak tamat SD, tapi bisa melihat sesuatu yang mungkin kita pun tidak melihat atau tidak menyadarinya.

Bukannya disebutkan bahwa manusia butuh akan kecukupan, malah manusia butuh akan kekurangan.

Karena, kalau dikatakan manusia butuh akan kecukupan, maka berarti dia tahu kapan yang namanya cukup. Tapi ternyata memang manusia tidak pernah tahu kapan dia akan merasa cukup. Saya akan senang kalau punya mobil. Sudah punya, masih merasa kurang bagus. Saya akan senang kalau pasangan saya berubah. Sudah berubah, masih belum cukup baik. Saya akan senang kalau gaji saya meningkat. Sudah naik gaji, masih mengeluh. Jadi memang tidak bisa dikatakan bahwa manusia butuh akan kecukupan, karena dia sendiri pun tidak tahu apa itu cukup.

Tapi kalau dikatakan bahwa manusia butuh akan kekurangan … ini menarik sekali untuk dipikirkan. Di satu sisi, hal ini baik karena berarti, sepanjang hidupnya manusia akan selalu berusaha dan berjuang untuk mengejar kekurangannya. Tapi di sisi lain, manusia terjebak akan sikap serakah dan tidak tahu bersyukur.

Jadi, benar sekali pernyataan bahwa manusia butuh kekurangan. Tapi, mudah-mudahan ini dilihat dari sisi baiknya, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengejar kekurangan adalah dengan berusaha, berdoa dan bekerja keras tanpa henti. Di atas semua itu, mudah-mudahan manusia bisa selalu mensyukuri setiap apa pun yang sudah berhasil diraih dalam hidupnya.

October 30, 2010 Posted by | Hope, Life | , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.