Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 151 : Ditulis Dengan Hati

Hari ini saya dihubungi oleh WWF Indonesia, katanya tulisan saya mengenai penyelamatan hutan (Day 149), memenangkan kompetisi menulis yang mereka adakan. Alhamdulillah … itu saja yang bisa saya ucapkan.

Katanya saya menang karena tulisan saya itu ditulis dengan hati. Saya tersenyum saja mendengarnya. Karena memang pada dasarnya, saya lebih baik tidak menulis dari pada menuliskan sesuatu dengan setengah hati. Karena itu meskipun project ini seharusnya selesai dalam 365 hari, pada kenyataanya nanti saya yakin, tenggat waktu itu akan terlewati. Memang saya akan menulis sebanyak 365 topik, tapi pastinya akan lebih dari 365 hari. Itu karena saya tidak akan menulis jika hanya setengah hati.

Sementara, suasana hati setiap hari selalu naik turun..  saya pikir itu salah satu kelemahan saya. Tidak bisa konsisten menjaga perasaan saya agar selalu dipenuhi rasa syukur. Belum bisa benar-benar peka terhadap peristiwa sehari-hari yang bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Padahal, di sekitar kita pastilah ada jutaan kisah. Hanya saja kisah-kisah itu tersembunyi, perlu hati yang benar-benar peka untuk bisa menangkapnya.

Awalnya project ini hanya dimulai dengan niat untuk memperbaiki diri. Lama-lama, malah seperti menjadi kebutuhan. Dan jika orang-orang yang membacanya bisa melihat bahwa tulisan-tulisan ini ditulis dengan hati… itu sudah merupakan satu penghargaan tersendiri buat saya..

January 3, 2011 Posted by | Hobby, Hope | , | 2 Comments

365 Thankful Days Project – Day 82 : Book Shelf

Hari ini saya menghabiskan waktu untuk menyusun lagi koleksi buku-buku yang ada di rumah. Jumlahnya sudah lumayan, topiknya juga beragam. Sebagian besar sudah selesai saya baca, sebagian lagi masih dalam proses menyelesaikan (kadang saya membaca beberapa buku bersamaan, kecuali memang jika ada satu buku yang benar-benar menarik dan menyita perhatian saya), dan sebagian lagi bahkan belum dibuka sampul plastiknya.

Yang lucu, malah ada beberapa buku yang rasanya tidak selesai-selesai saya baca, bahkan mungkin sudah hampir setahun. Yang masuk jenis ini biasanya buku yang bahasanya membosankan. Atau ada juga yang baru saya baca beberapa bagian, lalu saya tidak pernah menyentuhnya lagi. Yang  masuk kategori ini, adalah yang amat sangat membosankan, atau bahasa yang dipakai adalah bahasa planet lain yang tidak saya mengerti  (pakai bahasa Indonesia, tapi sok canggih dan intelek).

Tapi, di tengah acara bongkar-bongkar itu, saya jadi berpikir. Buku sudah sebegini banyak..hasilnya kemana ya ?

Coba ya, saya punya buku-buku yang masuk kategori : Pendidikan Anak. Wah…metodenya macam-macam, menurut berbagai pandangan pakar pendidikan anak di seluruh dunia. Harusnya, karena semua buku –buku itu sudah khatam, hasilnya adalah seorang ibu yang canggih. Tapi pada prakteknya, tetap saja menyimpang (Teori : Dalam usaha mendisiplinkan anak, sampaikan dengan cara yang tenang tetapi tegas. Praktek :” Ihsaaaaan….ini kenapa tasnya dimana-manaaa?”)

Terus ada yang masuk kategori-kategori : Pengembangan Pribadi, Manajemen Uang, Agama, Sejarah, Komputer,Kesehatan, Ketrampilan, Novel, Profesional, Teknik.

Wuih… canggih kan. Tapi pembacanya ya begini-begini aja. Malah ada sebagian buku yang sudah selesai saya baca, tapi saya malah lupa isinya apa.

Mungkin secara tidak saya sadari, buku-buku itu memang mempengaruhi jalan pikiran saya. Hanya saja terkadang, pada prakteknya masih jauh dari teori.

Tahu buku apa yang sekali kita baca maka tidak akan pernah kita lupa ? Perjalanan hidup kita. Perjalanan hidup  yang secara otomatis terbukukan sebagai pengalaman hidup kita. Dan seringkali, pengalaman hidup ini lebih bisa mengajarkan kita banyak hal daripada seribu buku-buku di lemari.

August 29, 2010 Posted by | Book, Hobby | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 73 : Breaking The Magician’s Code

Belakangan ini anak-anak  tertarik dengan sesuatu yang aneh, sulap. Bukan cuma sekedar senang menonton dan memperhatikan, tapi senang melakukan dan memamerkannya.

Kadang saya bingung, dari mana mereka dapat ilmu itu, karena beberapa kali mereka  memanggil saya untuk menonton pertunjukan kecil mereka.

“Ummi, aku punya trik baru loo, mau liat ?”

Saya akan melihatnya dengan penasaran, karena kadang pertunjukan mereka cukup tricky.

Mata mereka akan bersinar bangga kalau saya cuma bisa bereaksi, “Koq bisa ?”

Lucunya, terjadi semacam persaingan di antara dua pesulap ingusan itu. Kalau yang satu punya trik tertentu, biasanya akan dimulai dengan lagak gaya penguasa rahasia ilmu sakti. Dan yang satu akan merengek-rengek minta supaya ada sesi  breaking magician’s code, bagi-bagi rahasia. Kalau menolak, ujung-ujungnya cuma satu, brantem.

Dan memang belakangan ini, acara tivi favorit  anak-anak adalah Breaking The Magician’s Code.  Kalimat kesukaan mereka adalah saat narator berkata  “and the secret will be revealed”.  Jreng ….musiknya suka dibikin agak-agak  dramatis, padahal ternyata kadang-kadang code nya simple banget. Hanya memang pesulap itu sudah punya kemampuan untuk menggiring penonton sejak awal pertunjukan.

Mungkin yang disuka anak-anak adalah ekshibisinya. Kalau penonton melongo kagum, puas rasanya. Jadi merasa senang dan percaya diri. Senang juga kalau mereka sedang punya ekspresi seperti itu, seperti bilang  “See Ummi.. I know something that you don’t know”  :)

August 19, 2010 Posted by | children, Hobby | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 72 : Little (Neglected) Garden

I looked at my little garden today and feel kind of sorry for it. Rupanya memang tidak berantakan, tapi juga tidak bisa dibilang indah. Rasanya perlu benar-benar bisa mengatur waktu agar bisa menumbuhkan sedikit kehidupan di sana.

Dulu di halaman ada pohon cabe yang buahnya subur dan gendut-gendut. Tidak berhenti-berhenti berbuah setiap hari bahkan sampai dibiarkan jatuh-jatuh tak terambil.  Tapi karena proses renovasi ruang tamu tempo hari, pohon cabe nan gendut itu dibuang. Di rumah yang lama di Bandung malah saya dan suami sempat menanam pohon mangga, labu siam (yang buahnya juga menggantung-gantung tak termakan dan selalu dibagikan pada tetangga), Mahkota Dewa, dan Markisa. Padahal halamannya juga mungil.

Halaman mungil sebenarnya bukan alasan tidak bisa berkebun. Masalahnya mau atau tidak saja. Kalau dibilang tidak sempat sih, ya tidak juga karena toh setiap hari mungkin kalau disempat-sempatkan saya masih bisa menyisihkan waktu barang setengah jam buat mengurusi halaman rumah.

Kadang-kadang sedih juga karena satu dan lain hal kita jadi malas menekuni sesuatu yang sebenarnya kita senangi. Padahal mana mungkin ada hasil kalau tidak diusahakan. Mana mungkin ada kebun kecil yang sedap dipandang kalau tidak diurusi.

Hmm.. sepertinya urusan berkebun ini harus masuk ke reminder juga biar gak selalu lupa dan membatu jadi rasa malas.

August 18, 2010 Posted by | Activity, Hobby, Nature | , , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.