Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 218 : I Love PLN for Supporting Mothers

Senang dan kagum rasanya jika ada seorang pimpinan yang memperhatikan tingkat kenyamanan pegawainya sampai ke urusan paling mendasar. Dalam hal ini khususnya, kenyamanan seorang ibu bekerja yang memiliki bayi atau balita yang masih harus disusui dan dijaga.

Saya punya pengalaman, sewaktu pertama kali bekerja di kampus dulu, saat itu Ihsan masih berumur beberapa bulan dan menyusu ASI. Prinsip yang selalu saya pegang adalah, bukan anak yang harus mengalah untuk menerima susu sapi supaya bisa membiarkan si Ibu bekerja. Tapi Ibu yang harus memikirkan cara supaya bisa tetap menyusui anaknya meskipun ia bekerja.

Dan itu sama sekali tidak mudah ..

Pertama dukungan dan kepedulian lingkungan terhadap kebutuhan si Ibu dan bayinya. Kedua adalah kemudahan atau fasilitas yang bisa mendukung proses pemberian ASI yang nyaman. Dan keduanya tidak gampang diperoleh.

Dulu, saya masih cukup beruntung karena di seberang kampus ITB, ada tempat penitipan anak atau day care yang memungkinkan saya untuk membawa Ihsan kecil bersama saya dan menitipkannya di sana mulai dari pagi sampai sore hari. Hampir setiap dua jam sekali saya harus pamit dan berlari untuk mencapai tempat penitipan anak itu secepatnya.  Saat itu saya belum terlatih untuk memerah ASI dan Ihsan juga tidak mau minum dari botol, jadi cukup menguras energi juga. Karena meskipun dekat, tapi fasilitas itu tidak terdapat dalam satu gedung.

Luar biasanya, sekarang PLN menyediakan ruang penitipan bayi itu, di gedung yang sama tempat sang ibu bekerja. Jadi ibu bisa tetap nyaman bekerja, sementara bayinya berada dekat dengannya untuk bisa disusui pada jam-jam tertentu. Dukungan seperti ini masih sangat jarang diterima oleh seorang Ibu bekerja, dan saya yakin, justru dengan adanya dukungan ini, kinerja dan konsentrasi ibu dalam bekerja justru akan meningkat. Plus ditambah tumbuhnya generasi-generasi baru yang sehat dan kuat karena kebutuhannya terpenuhi.

Kepada Bapak Dahlan Iskan selaku Dirut PLN dan Ibu, salut buat terobosannya  :)   Semoga dengan sedikit kepedulian ini, akan mendatangkan perbaikan yang cukup besar dalam kinerja PLN ke depan, Amiiinnn …

October 13, 2011 Posted by | children, Effort, Hero | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 182 : The Warrior Of Light

Salah satu penulis yang paling saya kagumi karya-karyanya adalah Paulo Coelho. Salah satu personifikasi yang ia sadur dari sebuah dongeng Portugis, adalah tentang Warrior of The Light“, Sang Pahlawan Cahaya.

Katanya, setiap orang dari kita bisa menjadi Sang Pahlawan Cahaya. Karena ia mempunyai ciri (ini hanya sedikit dari sekian banyak ciri yang saya kutip) :

* seorang pahlawan cahaya tahu bahwa dia memiliki begitu banyak hal untuk disyukuri

* seorang pahlawan cahaya tidak perlu diingatkan akan berapa banyak pertolongan yang pernah diterimanya. Dialah yang pertama kali akan    mengingat dan memastikan bahwa semuanya akan menerima bagian dari setiap keberhasilan yang dicapainya.

* seorang pahlawan cahaya bisa membedakan mana hal-hal yang bersifat sementara dan mana yang abadi

* seorang pahlawan cahaya selalu mengambil pelajaran dari setiap kejadian

* seorang pahlawan cahaya tahu kapan harus bertindak dan kapan harus menerima

* seorang pahlawan cahaya tidak pernah ragu-ragu, karena keragu-raguan dapat membunuh. Dia begitu rendah hati dan selalu memperbaiki segala kesalahannya.

* seorang pahlawan cahaya memberi sebelum diminta

* seorang pahlawan cahaya memahami bahwa Tuhan memakai api untuk mengajar tentang air, memakai bumi untuk membuatnya paham akan adanya udara, dan menggunakan kematian untuk mengajar tentang hidup.

* seorang pahlawan cahaya pernah merasa takut untuk berjuang, ia pernah berbohong dan berkhianat, pernah berada di jalan yang bukan miliknya, pernah menangisi hal-hal sepele, pernah meragukan bahwa dirinya adalah seorang pahlawan cahaya, pernah gagal dalam perjuangannya, pernah berkata “ya” pada hal-hal yang ingin ditolaknya, dan pernah menyakiti orang yang dicintainya. Karena itulah ia disebut pahlawan cahaya, karena ia pernah melalui semuanya, tapi tidak pernah kehilangan harapan untuk menjadi orang yang lebih baik.

March 1, 2011 Posted by | Book, Hero | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 177 : Role Model

Saya punya seorang sahabat yang memiliki masalah rumah tangga yang begitu runyam.  Tapi selalu menampakkan senyum dan semangat terbaiknya pada semua orang. Mata sembabnya dia tutupi dengan baik menggunakan mascara. Segala susahnya ditutupi dengan tertawa (entah itu tawa palsu atau asli yang jelas di depan teman-temannya senyum manisnya selalu merekah)

Lalu saya bertemu dengan salah seorang staffnya. Staffnya ini berkata kalau ia sangat mengagumi sahabat saya itu : Ibu itu role model buat saya ..

Ooohh… saya yang kebetulan mengetahui segala kepedihan teman saya itu sedikit terdiam mendengarnya. Karena di mata staffnya, sahabat saya adalah perempuan sempurna yang sukses dalam karir dan rumah tangga.

Ternyata, tidak selamanya role model itu adalah manusia yang sempurna ya… paling tidak meskipun seseorang dipandang sempurna oleh orang lain, bisa jadi sebenarnya ia menyembunyikan begitu banyak ketidaksempurnaan.

Dan jika kita menemukan ketidaksempurnaan itu, masihkah kita akan mengagumi seseorang dengan cara yang sama ?

But what I think is .. role model justru memang tidak akan ditemukan pada mereka-mereka yang sempurna. Karena there’s no such thing yang namanya sempurna. Kalaupun ada, kesempurnaan hanyalah akan menimbulkan rasa iri hati dan dengki. Role model justru ada pada mereka-mereka yang berpegang teguh pada perjuangannya dan menginspirasi orang lain untuk mempertahankan perjuangannya juga.

So in this point.. karena perjuangannya yang gigih itu, saya pikir teman saya memang pantas disebut sebagai seorang role model , terlepas bahwa dia juga memiliki banyak kekurangan sebagai seorang manusia dan perempuan khususnya. Ia dipandang karena hal-hal lain yang dilakukannya yang menginspirasi banyak orang.

February 21, 2011 Posted by | friendship, Hero, Life | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 162 : The Difficult Right And The Easy Wrong

The difficult right and the easy wong … which one will you choose in your life ? Kalimat itu yang paling membekas di ingatan saya sewaktu mendengarkan Al Gore berbicara di Shangri La Hotel Jakarta, 9 Januari 2011 lalu, atas undangan WWF Indonesia dalam acara B4E (Business For the Environment) Global Summit 2011.

Pertanyaan Al Gore ini bagi saya sangat prinsip, berlaku dalam setiap aspek kehidupan manusia.  Kalau saja setiap manusia memikirkan pertanyaan ini sebelum bertindak setiap hari, mungkin akan banyak sekali perbedaan yang akan kita lihat di dunia saat ini.

Bumi mungkin akan menjadi lebih hijau, air tawar mungkin akan tersedia lebih banyak , bencana alam mungkin hanya akan terjadi akibat pergerakan alami bukan akibat ketidakpedulian manusia.

Begitu juga dengan perselisihan.. sangatlah mudah untuk tinggal menyatakan permusuhan ketimbang berupaya mencari jalan untuk perdamaian. Masing-masing akan lebih senang jika kepentingannya didulukan, disuarakan dan didengarkan. Karena itu bertengkar dengan suara keras atau adu kuat adalah salah satu cara untuk melihat, suara siapa yang paling pantas didengar.

Sementara untuk duduk mendengarkan keinginan satu sama lain, cenderung lebih sulit karena, memang ego manusia itu tidak gampang untuk ditundukkan.  Hanya mereka-mereka yang mau berpikir jauh ke depan, mau menimbang-nimbang baik buruk, mau mencari second opinion, mau melihat kepentingan bersama (yang semuanya ini jelas lebih sulit karena time consuming), yang bisa diharapkan untuk memperbaiki keadaan.

Dan Al Gore telah menempuh jalan itu, the difficult right, hanya karena ia peduli.  Hanya mereka yang peduli yang akan punya kesempatan untuk bertidak dan memperbaiki keadaan.

Dan memang mudah untuk menempuh jalan yang salah. Gampang sekali rasanya jika sehabis makan, plastik pembungkusnya kita lemparkan saja ke jalan. Setelah menebang pohon, lahannya kita tinggalkan. Melakukan kegiatan usaha, tanpa memikirkan kemana limbahnya dibuang. The easy wrong. Tapi kalau kita mau mengambil jeda waktu sejenak untuk berpikir, betapa sesuatu yang “menggampangkan urusan”  itu akan menimbulkan kesulitan yang luar biasa suatu saat nanti.

January 22, 2011 Posted by | Hero, Nature | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 51 : The Women’s Spirit

Hari ini saya bertemu lagi dengan teman-teman pengajian saya setelah sekian lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Mereka ini, ibu-ibu tempat saya belajar dan mengajar, satu kegiatan yang amat-sangat saya nikmati. Terlebih lagi karena bisa berkumpul dan berdiskusi dengan sesama perempuan (in a positive way ya, bukan bikin acara cek en ricek lokal lo).

Di antara kami, ada yang benar-benar ibu rumah tangga tulen, ada yang ibu rumah tangga merangkap wirausahawan, ada yang ibu rumah tangga merangkap pekerja lapangan. Tapi kalau ketemu, bahasanya semua sama, bahasa ibu-ibu : anak-anak, sekolah, keluarga, resep masakan, dan barang obralan. Gak akan jauh-jauh dari situ, mau udah jadi perempuan yang terbang ke bulan juga, kalau sudah punya keluarga ya pasti pakai bahasa ibu-ibu.

Perempuan, jalan apa pun yang dipilihnya, apakah ia seorang ibu rumah tangga penuh waktu ataupun ibu rumah tangga yang bekerja, tetaplah berharga dengan jalan hidupnya masing-masing. Seorang ibu rumah tangga, adalah manusia hebat yang mendedikasikan seluruh waktu dan pemikirannya untuk kepentingan keluarganya. Mengesampingkan cita-cita dan pengharapannya sendiri demi menyokong cita-cita dan harapan suami dan anak-anaknya. Ibu yang bekerja, juga luar biasa dengan caranya sendiri. Serumit apa pun pekerjaannya di luar, dia akan tahu betul jam berapa anak-anaknya harus pulang, harus makan, harus les apa hari itu. Kakinya akan berada sebelah di rumah dan sebelah di tempat bekerja.

Apa pun jalan yang harus ditempuh, sesama perempuan biasanya tahu bahwa mereka membutuhkan satu sama lain agar bisa tetap kuat dan bersemangat dalam menjalankan perannya. Bahwa mereka membutuhkan empati satu sama lain. Tidak masalah apakah mereka jenis ibu yang mengijinkan anaknya bermain hujan atau tidak, yang meminta anaknya untuk les atau mengajarnya sendiri, semua dilakukan berdasarkan keyakinan masing-masing akan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Sesama perempuan tidak perlu saling menjatuhkan dalam peran yang sama, tapi saling mendukung dan memberi inspirasi satu sama lain.

Kalau saya bisa dilahirkan kembali, saya berharap bisa kembali menjadi seorang perempuan, terutamanya seorang ibu. Kepada siapa semua orang menoleh kembali setelah hidup di luar rumah seharian, ibu. Kepada siapa semua orang meminta restu jika ingin menempuh suatu perjalanan, ibu. Karena seorang  ibu, adalah pusat alam semesta.

July 23, 2010 Posted by | Hero, Life | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 33 : When Weakness Doesn’t Stop You

Ini cerita nyata tentang seorang sahabat, yang mengubah penolakan yang dia alami, menjadi keberhasilan.  Dia menunjukkan, bahwa kekurangan dan penolakan yang kita alami, bukanlah akhir dari segalanya. Malah justru bisa menjadi turning point atau titik balik dalam hidup kita untuk meraih keberhasilan.

Teman saya ini, adalah kebanggan orang tuanya di kampung. Dia adalah salah seorang pemuda cerdas dari Pematang Siantar, di tanah Batak sana. Dengan diiringi doa restu orang tua dan keluarga di kampung, ia berangkat ke Bandung begitu dinyatakan lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, menembus ITB, jurusan Teknik Pertambangan.

Tapi ternyata proses penyaringan, belum cukup sampai di situ. Masih ada tes kesehatan. Dan ternyata, si anak Siantar ini, buta warna. Bagaimana mungkin seseorang yang masuk Teknik Pertambangan bisa buta warna ? Bagaimana bisa dia membedakan berbagai jenis mineral jika matanya cacat ? Akhirnya, singkat cerita dia jadi seperti barang reject di sana. Di tolak dari Teknik pertambangan ITB, meskipun lolos tes masuk, dengan alasan buta warna, tidak bisa membedakan warna hijau dan merah.

Akhirnya, diputuskan dia dialihkan ke jurusan lain yang masih satu fakultas. Masuklah dia ke Teknik Perminyakan, that’s how we met. Dulu pun dia jadi bahan gurauan kami, karena buta warnanya itu. Tapi dia anak yang baik dan menyenangkan, akhirnya justru jadi bagian yang utuh dari almamater kami.

Sekarang, tahu di mana dia bekerja ? Petronas Malaysia, berkantor di salah satu lantai di KLCC (Kuala Lumpur Convention Centre) Twin Tower Petronas, lokasi kerja yang diminati banyak orang di dunia. Tinggal di sebuah condo dengan istrinya yang manis dan menyenangkan, juga punya kendaraan pribadi. Hobbynya fotografi dan golf.

Si anak kampung yang buta warna itu, sama sekali tidak menyerah dengan keadaannya. Sampai kadang jadi bahan gurauan kita, untung loe buta warna ya. Dijawab cuma dengan cengengesan ..

July 6, 2010 Posted by | Effort, friendship, Hero, Life | , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 14 : Because I Choose Indonesia

Semalam saya melihat suatu acara program di televisi, yang bercerita tentang nasib para pengungsi Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1999 di Nusa Tenggara Timur. Saya tidak akan menceritakan kembali mengenai sejarah referendum atau terlepasnya Timor Timur dari Indonesia, dan bagaimana cara menangani para pengungsi itu. Karena itu sudah banyak dibicarakan, sudah banyak didiskusikan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang pintar-pintar di pemerintahan pusat sana. Meskipun toh hasilnya tidak banyak, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Yang mau saya bicarakan adalah, betapa besarnya pengorbanan mereka demi memilih untuk jadi bagian dari bangsa Indonesia. Seorang ibu yang memiliki 5 orang anak, terpaksa meninggalkan 3 orang anaknya di Dilli saat kerusuhan terjadi. Ia bahkan melihat jasad suaminya terpotong-potong di depannya. Seorang ibu yang lain tidak tahu bagaimana nasib suaminya karena suaminya memintanya dan anak-anaknya untuk mengungsi ke Kupang dan berjanji akan menyusul kemudian. Sudah sebelas tahun dan sang suami tak juga pernah muncul di Kupang. Dan puluhan ribu lagi cerita kepedihan yang tersimpan dalam memori para pengungsi Timor Timur ini. Semua itu untuk apa ? Demi bergabung dengan Indonesia.

Memangnya apa hebatnya Indonesia ? Negara ini punya peringkat paling wahid dalam hal korupsi. Negara ini punya masalah serius dalam hal pemerataan pendidikan dan pembangunan. Rakyatnya lebih senang mengikuti berita infotainment daripada berita nasional. Wakil rakyatnya sibuk meminta kenaikan tunjangan seolah-olah kesejahteraan rakyatnya pun pantas dia wakilkan.

Tapi anehnya, saya pun kalau dilahirkan kembali, tetap ingin jadi orang Indonesia. Tidak akan mau menukarnya dengan apa pun meskipun demi kehidupan yang lebih baik. Tapi terus terang malu sendiri dengan para pengungsi Timor Timur itu. Saat ditanya, kenapa mau bergabung dengan Indonesia ? Jawabannya : “Saya sudah merah-putih sejak masih dalam kandungan ibu saya”.

Hiks.. jadi malu. Kalau saya, meskipun orang Indonesia, masih belang-belang, tidak merah-putih sampai sekarang. Sedikit yang sudah saya lakukan untuk merah-putih selain belasan tahun ikut upacara pengibaran bendera di sekolah. Padahal saya sudah tidak perlu memilih dengan cara menderita..

June 12, 2010 Posted by | Uncategorized | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.