365 Thankful Days Project – Day 14 : Because I Choose Indonesia
Semalam saya melihat suatu acara program di televisi, yang bercerita tentang nasib para pengungsi Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1999 di Nusa Tenggara Timur. Saya tidak akan menceritakan kembali mengenai sejarah referendum atau terlepasnya Timor Timur dari Indonesia, dan bagaimana cara menangani para pengungsi itu. Karena itu sudah banyak dibicarakan, sudah banyak didiskusikan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang pintar-pintar di pemerintahan pusat sana. Meskipun toh hasilnya tidak banyak, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.
Yang mau saya bicarakan adalah, betapa besarnya pengorbanan mereka demi memilih untuk jadi bagian dari bangsa Indonesia. Seorang ibu yang memiliki 5 orang anak, terpaksa meninggalkan 3 orang anaknya di Dilli saat kerusuhan terjadi. Ia bahkan melihat jasad suaminya terpotong-potong di depannya. Seorang ibu yang lain tidak tahu bagaimana nasib suaminya karena suaminya memintanya dan anak-anaknya untuk mengungsi ke Kupang dan berjanji akan menyusul kemudian. Sudah sebelas tahun dan sang suami tak juga pernah muncul di Kupang. Dan puluhan ribu lagi cerita kepedihan yang tersimpan dalam memori para pengungsi Timor Timur ini. Semua itu untuk apa ? Demi bergabung dengan Indonesia.
Memangnya apa hebatnya Indonesia ? Negara ini punya peringkat paling wahid dalam hal korupsi. Negara ini punya masalah serius dalam hal pemerataan pendidikan dan pembangunan. Rakyatnya lebih senang mengikuti berita infotainment daripada berita nasional. Wakil rakyatnya sibuk meminta kenaikan tunjangan seolah-olah kesejahteraan rakyatnya pun pantas dia wakilkan.
Tapi anehnya, saya pun kalau dilahirkan kembali, tetap ingin jadi orang Indonesia. Tidak akan mau menukarnya dengan apa pun meskipun demi kehidupan yang lebih baik. Tapi terus terang malu sendiri dengan para pengungsi Timor Timur itu. Saat ditanya, kenapa mau bergabung dengan Indonesia ? Jawabannya : “Saya sudah merah-putih sejak masih dalam kandungan ibu saya”.
Hiks.. jadi malu. Kalau saya, meskipun orang Indonesia, masih belang-belang, tidak merah-putih sampai sekarang. Sedikit yang sudah saya lakukan untuk merah-putih selain belasan tahun ikut upacara pengibaran bendera di sekolah. Padahal saya sudah tidak perlu memilih dengan cara menderita..
