365 Thankful Days Project – Day 76 : When Happily Ever After Is (Not) Enough
Today I took the children to see Shrek Forever After movie. Kalau dari sisi ceritanya sih, rasanya masih lebih kocak seri-seri sebelumnya. Tapi seri pamungkas ini membuat kita jadi merenungi tentang definisi bahagia.
Adalah Shrek dengan keluarga kecilnya dan teman-temannya yang aneh, yang sebenarnya bahagiaa sekali kehidupannya. Dia punya tiga anak yang lucu-lucu dan istri yang baik hati. Juga teman-teman yang sayang padanya, bahkan semua penduduk Far Far Away menyukainya. Tapi ternyata, semuanya terlalu sempurna. Shrek bosan. Dia rindu kehidupan lamanya yang penuh kebebasan.
Akhirnya, tak tahan lagi dia marah-marah pada semua. Termasuk pada Fiona, istrinya. Tahu apa kata Fiona ?
“Kamu punya seorang istri yang mencintaimu, anak-anak yang lucu dan teman-teman yang sayang padamu. Kenapa cuma kamu yang tidak bisa melihat hal itu ?”
That’s the words. The soul of the movie. Seringkali, sebenarnya kita punya banyak hal yang orang lain tidak punya, tapi toh kita tetap saja mengeluh, grumbling. Kadang-kadang malah dibikin segitu dramatisnya seolah-olah kitalah orang yang paling tidak bahagia di dunia ini.
Pada akhirnya, setelah perjuangan beratnya untuk mendapatkan keluarga bahagianya kembali, sahabatnya Donkey bertanya : “Kalau kamu punya segalanya, lalu kenapa kamu tidak bahagia ?”
Si Ogre hijau itu cuma terdiam dan menjawab, “Kamu tidak akan pernah tahu betapa berartinya sesuatu itu sampai kamu benar-benar kehilangan”.
Lesson learned, there’s no happily ever after unless you feel greatful with whatever you have now.
Dan saya harap, saya tidak perlu kehilangan semua yang saya punya dulu baru bisa menyadari betapa berharganya semua yang saya miliki selama ini.
365 Thankful Days Project – Day 65 : Hold Over the Pleasure
I’ve read once somewhere, bahwa salah satu indikasi kestabilan emosi seseorang adalah ditandai dengan “kemampuan menunda kepuasan”. Misalnya saja, jika kita punya uang, bisa saja langsung kita tukarkan dengan sesuatu yang dapat memuaskan kita. Tapi kita bisa juga memutuskan untuk menabung uang itu atau menginvestasikannya dengan harapan, uang itu akan berkembang. Dengan begitu suatu saat akan bisa kita tukarkan untuk sesuatu yang lebih baik lagi.
Saya tahu, hal ini tidak gampang. Meskipun begitu, saya mau anak-anak belajar juga untuk bisa sedikit mulai menunda kepuasan, demi sesuatu yang lebih baik tentunya.
Kemarin saya sempat kecewa, karena ternyata sulit membuat anak-anak paham tentang menunda kepuasan ini. Anak saya keukeuh ingin nonton The Last Air Bender kemarin. Pokoknya harus hari itu juga. Sementara saya meminta untuk menundanya satu hari saja, supaya perginya tidak terburu-buru dan masih sempat main ke tempat yang lain lagi. Jadi, semalam itu anak saya kecewa, saya pun kecewa.
Tapi hari ini, dia puas dan saya juga puas. Ihsan puas karena akhirnya benar-benar menonton Avatar nya, saya puas karena bisa membuktikan bahwa, dengan menunda kepuasan, kita bisa mendapat lebih. Karena hari ini kami pergi tidak terburu-buru, dan pulangnya masih sempat jalan-jalan ke tempat lain.
Bahkan, Ihsan tadi sampai bilang, “Makasih ya Ummi, udah ajak aku nonton hari ini ..”
Ah, puasnya ….
365 Thankful Days Project – Day 54 : Ipin dan Upin
Pernah lihat betapa lucunya dua anak kampung yang bernama Ipin dan Upin ? They’re my family’s favorite now. Dua bocah botak ini sudah jadi idola anak-anak Indonesia, bahkan anak-anak saya saja yang sudah termasuk besar, melompat-lompat senang waktu hari Minggu kemarin saya belikan balon Ipin dan balon Upin di pasar. Kalau kata Najmi, dia suka Ipin dan Upin karena mereka mukanya lucu, dan cara bicaranya aneh. Kalau menurut Ihsan, mereka lucu karena nakal (hmm… kenapa jadi mengidolakan anak nakal sih ?)
Bisa dibilang, kita kecolongan dengan negeri jiran Malaysia. Mungkin sebagian besar kita menganggap, bahwa yang bisa menjadi idola anak-anak hanya para Super Hero, yang bisa terbang ke sana ke mari untuk membasmi kejahatan. Ternyata dengan mengusung budaya lokal dan dua anak kembar degil dari Kampung Durian Runtuh, Malaysia berhasil menciptakan 2 karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.
Ceritanya sederhana dan lucu, apalagi cara mereka berbicara dalam bahasa Melayu, anak-anak bisa terkikik kegelian. Pun tokoh-tokohnya punya karakter unik. Ketua penghulu (kepala desa) Kampung Durian Runtuh misalnya, biasa dipanggil Tok Dalang, punya nama asli Senin bin Khamis. Tok dalang punya seekor ayam jantan kesayangan bernama Rembo.
Lalu ada Jarjit Singh, anak laki-laki keturunan Punjabi yang selalu bicara dengan pantun . Yang kalau berpantun selalu pakai kata-kata “Dua Tiga..”
Jarjit :
“Dua tiga burung kenari
Apa hajat tuan hamba kemari”
Dibalas oleh Ipin dengan asalnya :
“Dua tiga ayam goreng
Kami datang nak tangkap Jarjit (boleh ke pantun macam ni?)”
Hihihi, begitulah… ternyata tidak perlu sesuatu hal yang telalu kelihatan wah untuk memikat penonton. Cukup sesuatu yang sederhana tetapi nyata dan berasal dari kehidupan sehari-hari. O ya, di samping kekonyolannya, Ipin dan Upin sebenarnya adalah dua anak yatim piatu malang yang sudah kehilangan kedua orang tua sejak kecil. Mereka kemudian diasuh oleh Kak Ros dan Nenek Opah. Ada satu episode dimana semua orang merayakan Hari Ibu, dan si kembar degil itu begitu sedihnya karena tidak memiliki seorang Ibu. Tapi pada akhirnya, mereka bisa tersenyum kembali berkat adanya Kak Ros, Nenek Opah dan Cikgu Jasmin.
Jum, kite main lagi
