365 Thankful Days Project – Day 234 : My Arrow
Ihsan, satu-satunya calon penerus laki-laki dalam keluarga, pernah bilang :
Ummi, aku mau ikut kompetisi matematika biar bisa ke luar negeri.
Ummi, aku mau cari beasiswa supaya bisa ke Paris.
Terharu .. mau ke luar negeri karena usaha sendiri. Sudah mengerti bahwa bercita-cita itu harus berani. Insya Allah tercapai ya, Amiinn…
Anak-anak bercita-cita, orang tua membantu membukakan jalan. Sudah seharusnya seperti itu kan. Karena itu hari ini, dan untuk sepanjang minggu ini, Ummi rela bersusah-susah mengurus abang supaya bisa diterima di SMPN 6 Batam, sekolah menengah yang katanya berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).
Abang : Kalau gak lulus Mi ?
Ummi : Ga usah ditanya kalau ga lulus.. harus lulus ya Bang.
Alhamdulillah , Ihsan selalu punya semangat buat berjuang untuk pendidikannya. Senangnya juga dia punya teman-teman dengan semangat juang yang sama. Jadi mereka selalu bisa saling mendukung.
Abang… you’ve grown up so fast. Sekarang sudah mau SMP. Maaf kalau Ummi dan Abu terlalu menekan abang soal pentingnya pendidikan. Soal betapa beruntungnya Abang karena punya orang tua yang bisa memfasilitasi abang untuk belajar, soal betapa pentingnya punya cita-cita tinggi dan berusaha untuk meraihnya. Mungkin abang bosan mendengarnya. Gak apa-apa kalau bosan juga, asal tetap diturutin ya
Abang adalah salah satu anak panah yang Ummi punya. Ummi adalah busur yang sedang merentang dengan kuat. I must aim you to the right future. Pada saatnya, Abang akan melesat dengan kencang sendirian meninggalkan Ummi.. (Hiks, kadang sedih memikirkan kalau saat-saat itu akan datang). Jadi sekarang Abang pasrah aja ikut dalam rentangan busur Ummi ya.. Gak mungkin Ummi sama Abu mengarahkan Abang ke tempat yang salah.
Go arrow go… be brave and hit your bright future ..
365 Thankful Days Project – Day 218 : I Love PLN for Supporting Mothers
Senang dan kagum rasanya jika ada seorang pimpinan yang memperhatikan tingkat kenyamanan pegawainya sampai ke urusan paling mendasar. Dalam hal ini khususnya, kenyamanan seorang ibu bekerja yang memiliki bayi atau balita yang masih harus disusui dan dijaga.
Saya punya pengalaman, sewaktu pertama kali bekerja di kampus dulu, saat itu Ihsan masih berumur beberapa bulan dan menyusu ASI. Prinsip yang selalu saya pegang adalah, bukan anak yang harus mengalah untuk menerima susu sapi supaya bisa membiarkan si Ibu bekerja. Tapi Ibu yang harus memikirkan cara supaya bisa tetap menyusui anaknya meskipun ia bekerja.
Dan itu sama sekali tidak mudah ..
Pertama dukungan dan kepedulian lingkungan terhadap kebutuhan si Ibu dan bayinya. Kedua adalah kemudahan atau fasilitas yang bisa mendukung proses pemberian ASI yang nyaman. Dan keduanya tidak gampang diperoleh.
Dulu, saya masih cukup beruntung karena di seberang kampus ITB, ada tempat penitipan anak atau day care yang memungkinkan saya untuk membawa Ihsan kecil bersama saya dan menitipkannya di sana mulai dari pagi sampai sore hari. Hampir setiap dua jam sekali saya harus pamit dan berlari untuk mencapai tempat penitipan anak itu secepatnya. Saat itu saya belum terlatih untuk memerah ASI dan Ihsan juga tidak mau minum dari botol, jadi cukup menguras energi juga. Karena meskipun dekat, tapi fasilitas itu tidak terdapat dalam satu gedung.
Luar biasanya, sekarang PLN menyediakan ruang penitipan bayi itu, di gedung yang sama tempat sang ibu bekerja. Jadi ibu bisa tetap nyaman bekerja, sementara bayinya berada dekat dengannya untuk bisa disusui pada jam-jam tertentu. Dukungan seperti ini masih sangat jarang diterima oleh seorang Ibu bekerja, dan saya yakin, justru dengan adanya dukungan ini, kinerja dan konsentrasi ibu dalam bekerja justru akan meningkat. Plus ditambah tumbuhnya generasi-generasi baru yang sehat dan kuat karena kebutuhannya terpenuhi.
Kepada Bapak Dahlan Iskan selaku Dirut PLN dan Ibu, salut buat terobosannya
Semoga dengan sedikit kepedulian ini, akan mendatangkan perbaikan yang cukup besar dalam kinerja PLN ke depan, Amiiinnn …
365 Thankful Days Project – Day 213 : Like The Ticking of A Clock
I’ve been away for soooo long from this project
Reason ? Could be unmotivated, ungrateful, unable to catch any ideas from everyday’s life … or just being bored. Apa manusia memang selalu seperti itu ya.. selalu punya alasan kalau tidak bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai tepat waktu.
Apalagi project ini dimulai bulan Mei 2010, jadi seharusnya sudah lewat 3 bulan… dan sekarang malah masih berkutat di hari ke-213. Aihh… masih jauh sekali dari garis finish tapi semangat sudah terbang. Kebayang mungkin beberapa visitors sudah muak melihat project ini yang tidak pernah bergerak maju lagi… maafkeun …
Untuk mengejar ketertinggalan, mungkin harus sedikit ngebut. Sementara target masih jauh dan ide-ide belum bisa mengalir lancar. Kalau melihat jumlahnya lebih dari 150 tulisan lagi, rasanya bisa keringat dingin.. ide-ide sebanyak itu mau muncul dari mana ?
Tapi ada yang menceritakan sebuah cerita lucu, tentang sebuah jam yang diminta berdetak 86.400 kali dalam sehari semalam. Sang penunjuk waktu terkejut dan menolaknya.. gila apa, saya diminta berdetak sebanyak itu dalam sehari semalam ? Mana sangguupp ?? Baiklah …. bagaimana kalau berdetak 3600 kali dalam satu jam ? Hmm… sepertinya masih tampak ekspresi keberatan dari sang penunjuk waktu. Ok..ok… bagaimana kalau kamu berdetak satu kali dalam satu detik saja ? Wahh… kalau itu sih saya sangguuppp…
Hihihi… saya tertawa mendengar cerita itu. Jumlah yang besar memang sebenarnya hanya kumpulan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan ? Jadi asalkan saya konsisten melangkah setiap hari, target seperti apa pun pasti akan tercapai, insya Allah…
Hmm… sepertinya ada yang sudah mulai semangat lagi nih
365 Thankful Days Project – Day 205 : Aktivasi Otak Tengah
Membangun jembatan … itu yang saya tangkap dari hasil training aktivasi otak tengah yang diikuti oleh Ihsan dan Najmi selama dua hari penuh.
Bagi yang belum mengikuti trainingnya, tentu ada keragu-raguan, rasa tidak percaya atau kekhawatiran. Tapi ekspektasi saya juga tidak banyak, asal ada suatu metoda yang memang sudah proven bisa mengembangkan kemampuan anak-anak, tidak ada salahnya dicoba. Bukannya mau membiarkan anak-anak saya menjadi kelinci percobaan, tapi mengambil kesempatan untuk berkembang setelah melalui diskusi, dan membaca berbagai referensi, saya rasa sudah cukup untuk memantapkan keputusan saya dan suami untuk mengirimkan anak-anak ke training ini.
Dalam training ini, anak-anak diajarkan cara melakukan senam otak. Dan diharapkan setiap hari sebelum belajar, mereka bisa melakukan senam otak terlebih dulu. Gerakannya cukup simple sebenarnya, menggerakkan kedua bagian sisi tubuh dengan urutan tertentu. Tapi buat saya yang sudah mulai umur, ngikutinnya bikin jari-jari tangan rasanya mau terbelit
Suasana dibikin serileks mungkin, karena katanya, otak mampu menyerap informasi dan berpikir paling maksimal jika kita dalam keadaan rileks. Karena hampir 80% memori kita tersimpan di alam bawah sadar. Dalam keadaan rileks, otak menghasilkan gelombang Alpha. Anak-anak diajak berpikir positif mengenai diri mereka.
Saya tidak tahu bagaimana proses pastinya, tapi salah satu metoda dalam aktivasi ini untuk meningkatkan konsentrasi dan daya fokus adalah dengan menutup mata anak-anak. Tujuannya adalah agar seluruh indra-indra mereka yang lain bekerja maksimal, karena sema ini mereka terbiasa percaya pada apa yang terlihat oleh mata saja. Dan memang setelah dua hari, anak-anak mulai terlihat lebih sensitif dan perasa.
Orang tua juga diajari bagaimana memasukkan sugesti positif kepada anak. Bahkan dengan cara hypnosleeping. Sepertinya menjanjikan, hanya belum sempat saya coba karena saat anak-anak sudah tertidur pulas di malam hari, saya pun sudah “hilang” hihihi… tapi pasti akan saya coba.
Agar kedua sisi otak dapat bekerja maksimal, maka harus dibangun jembatan penghubung di antara keduanya. Inilah yang biasa disebut dengan aktivasi otak tengah. Bukan berarti ada sesuatu juga yang disebut otak tengah yang disetrum untuk dibikin bekerja seperti yang selama ini dibayangkan banyak orang. Kalau jembatan sudah terbangun, maka proses penyeberangan dari kedua sisi otak ini tentulah akan lebih mudah.
Jadi buat para orang tua yang masih bertanya-tanya tentang aktivasi otak tengah ini, gak ada salahnya dicoba. Mungkin sedikit berat di biayanya, but I think it’s worth it ..
365 Thankful Days Project – Day 189 : Belajar Ikhlas
Seorang sahabat bertanya , apa sebenarnya ikhlas itu ? Sementara saya masih berusaha mencari jawabannya, ia sudah memberikan jawabannya sendiri.
Katanya, ikhlas itu dikaruniakan Tuhan di dalam hati manusia. Kalau suatu saat kita tertimpa masalah tapi tetap teguh bertahan dalam usaha dan do’a, dan tidak mengumbar-umbar kekesalan atau kekecewaan, barulah disebut ikhlas. Itupun, karena ikhlas itu letaknya di dalam hati, maka jika kita menyebutkan : “Saya sudah ikhlas”, lunturlah keikhlasan kita. Karena ikhlas itu bukan juga buat diumbar-umbar, sehingga orang-orang bisa memandang betapa baiknya kita.
Sulit ? Sulit … Bisa ? Insya Allah dengan niat yang benar, bisa.
Ikhlas bukan hanya dalam menerima segala masalah hidup, tapi juga ikhlas dalam berjuang. Perjuangan yang baik, menurut hadist Jibril, harus memenuhi empat hal :
1. Punya dasar perjuangan. Manusia tidak akan salah dalam perjuangannya jika memiliki Iman sebagai dasar perjuangannya.
2. Punya tujuan perjuangan. Manusia tidak akan sia-sia dalam perjuangannya, jika memiliki tujuan ingin hidup benar menurut yang sudah Tuhan perintahkan.
3. Punya teknik perjuangan. Manusia tidak akan tersesat dalam perjuangannya jika memahami Islam sebagai satu penataan dan pembinaan. Bahwa penataan hidup harus dimulai dari diri pribadi, lalu meningkat pada penataan rumah tangga, meluas pada penataan masyarakat, dan pada akhirnya menata bangsa. Adapun teknik membina diri adalah dengan membangun syahadat, shalat, shaum, zakat dan hajj bagi yang mampu.
4. Punya manajemen perjuangan. Manusia yang ikhlas akan patuh pada manajemen perjuangan. Manajemen perjuangan ada di dalam segala perintah dan larangan yang sudah Tuhan tetapkan. Mematuhi manajemen Tuhan dengan ikhlas, akan membawa manusia kepada tujuan perjuangannya.
Dan karena hidup adalah perjuangan tanpa henti, maka menjadi ikhlas pun adalah usaha terus-menerus yang harus kita lakukan setiap hari. Sesuatu yang sulit diperoleh, tapi selalu bisa dipelajari setiap hari selama masih ada umur …
365 Thankful Days Project – Day 155 : Been There
I’ve been away for a while. Belakangan ini pikiran saya terkonsentrasi membantu seorang teman menghadapi masalah rumah tangganya. Dan saya benar-benar berharap dia bisa melewati dan menyelesaikan masalahnya itu dengan baik pada akhirnya.
Setiap rumah tangga pasti pernah dihadapkan pada badai. banyak ketidakpuasan, ketidakcocokan, kekecewaan yang menjadi penyebabnya. bahkan jika yang kita nikahi adalah orang yang paling kita cintai dan kita anggap belahan jiwa sekali pun. Really.. I’ve been there. Dan mungkin ke depannya pun masih akan banyak lagi badai-badai yang lain.
Saya berharap, sahabat saya itu akan selalu menggenggam tangan suaminya saat badai sebesar apa pun menerjang. Jangan melepaskan. karena yang mengalami sakitnya bukan hanya dirinya sendiri tapi pastilah juga suaminya. Seperti yang saya alami, jika badai itu bisa dilalui bersama-sama, justru ikatan di dalam perkawinan malah akan semakin bertambah kuat. Rela mengorbankan diri bagi satu sama lain adalah ikatan yang tidak mudah untuk diputuskan oleh siapa pun.
Dear friends, wifes … please be strong. Sometimes our husbands make mistakes. As far as you could, better not to leave him because of his mistakes, always try to stay and guide him to the right path again.
365 Thankful Days Project – Day 154 : Jembatan Seribu Harapan
Hari ini, sewaktu hendak menemui seorang kerabat di daerah Sei Panas Batam, saya dan anak-anak melewati sebuah Vihara besar, namanya Vihara Duta Maitreya, sebuah rumah ibadah Buddha.
Anak-anak nyelutuk, “Ummi, kita kan dulu pernah sembahyang di sana sama abu yaa ?” Yup, that’s right kids, masih inget ajah.
Ceritanya begini, kenapa kami sekeluarga bisa sampai bersembahyang dengan tata cara Buddha di sana. Dulu ada seorang tetangga, yang ibunya mengidap kangker otak. Beliau sudah berobat selama beberapa waktu di Singapur, tapi sepertinya belum membaik juga. Mereka penganut ajaran Buddha.
Salah satu upaya yang mereka lakukan demi kesembuhan sang ibu, adalah dengan berdoa di Vihara. Pada satu saat, seorang pendetanya berkata, bahwa sang ibu bisa sembuh, jika ada seribu orang yang mendoakannya di Vihara. Tidak perlu secara bersamaan, asal jumlah totalnya seribu. Sehingga doa seribu orang ini akan menjadi jembatan baginya kepada Sang Buddha, untuk memperoleh kesembuhan.
Sewaktu meminta keluarga saya mendoakan ibunya di Vihara, semula dia ragu-ragu. karena saya seorang perempuan muslim yang mengenakan jilbab. Maukah saya dan keluarga melakukannya ? Tapi demi jembatan doa sang bunda, ia pun bertanya. Setelah berunding dengan suami dan anak-anak, saya menyetujuinya.
Saya, suami dan anak-anak benar-benar mengikuti prosesi doa itu dengan patuh di Vihara Duta Maitreya. Bahkan anak-anak terlihat berdoa dengan khidmat, agar nenek di sebelah rumah cepat sehat kembali.
Tahu tidak… setahun kemudian saat saya melihat sang bunda, dia kelihatan benar-benar sehat dan bahkan cantik. Apa karena doanya sehebat itu ? Tapi saya pikir, yang membuat dia sehat adalah rasa percaya di dalam dirinya, bahwa telah ada seribu orang yang dengan suka rela mendoakannya meskipun dari latar belakang agama yang berbeda. Dan seribu jembatan harapan manusia itu, sudah cukuplah untuk membangkitkan semangat juangnya untuk bisa sehat kembali.
The power of hope ..
365 Thankful Days Project – Day 149 : Selamatkan Hutan Dengan Peduli
Saat sedang membawa anak-anak ke sebuah pusat perbelanjaan di Batam, saya bertemu dengan seorang perempuan ramah yang mencegat saya dan bertanya : “Ibu tahu apa kepanjangan WWF ?” Anak-anak dan saya berusaha menjawabnya, ternyata salah. Perempuan ramah itu kemudian dengan bersemangat mulai bercerita tentang program WWF untuk mencari supporter aktif dari kalangan masyarakat. Itulah saat pertama kalinya saya terhubung secara langsung dengan WWF.
Perempuan itu membuat saya sadar, bahwa anak-anak kita tidak hanya membutuhkan makan,minum, pendidikan dan tempat tinggal yang memadai saja untuk bisa tumbuh menjadi pribadi yang kita inginkan. Kita perlu memandang masa depan mereka secara global, bahwa mereka membutuhkan dunia yang lebih baik berupa udara yang bersih, cuaca yang tidak ekstrem, dan sumber air minum yang berkualitas. Semua itu bisa diperoleh jika kita ikut menjaga kelestarian hutan.
Saya hanya seorang perempuan biasa dengan anak-anak yang harus saya khawatirkan masa depannya. Bagaimana caranya saya bisa ikut membantu pelestarian hutan ya ? Lalu saya pikir, yang perlu saya lakukan pertama kali, adalah peduli. Kesempatan untuk bertindak pasti akan datang menyusul kemudian.
Benar saja, begitu kita memutuskan untuk peduli, maka kesempatan untuk bertindak akan terlihat dengan sendirinya.
Pertama, saat anak-anak sedang menonton televisi di rumah, saya duduk di dekat mereka dan memindahkan channel ke channel-channel lain yang lebih bermanfaat, lebih bersahabat dengan alam. Saya minta mereka untuk lebih memperhatikan kehidupan di bumi ketimbang hanya menonton kartun. Ternyata mereka juga cukup menikmatinya. Saya harap dengan menonton tayangan mengenai kehidupan hutan, laut dan satwa-satwa yang hidup di dalamnya, sedikit-demi sedikit anak-anak pun akan memiliki kepekaan terhadap alam.
Ke dua, lebih memanfaatkan sampah-sampah kertas yang menumpuk di rumah. Sisa-sisa kertas ini masih bisa dijadikan catatan belanjaan, dipakai untuk menggambar atau bermain lipat kertas. Bahkan di kantor, perusahaan saya hanya menggunakan kertas yang diperoleh dari farmed trees. Semua kertas-kertas yang sudah digunakan tapi masih memiliki halaman belakang yang kosong pun dikumpulkan dalam boks recycle paper. Jadi masih bisa digunakan untuk banyak hal lain.
Ke tiga, saya menemukan bahwa departemen kehutanan banyak menyediakan bibit-bibit pohon untuk ditanam. Bahkan, jika lahan yang kita punya dianggap lahan kritis, bibit-bibit pohon itu bisa kita peroleh secara gratis. Kebetulan saya memiliki sebidang tanah di Bandung yang berada di daerah reservoir atau mata air. Sumber airnya mengalir tanpa henti membuat kebun saya menjadi subur. Sebagai sedikit upaya untuk mempertahankan hal itu, saya dan keluaga menanam 600 pohon di sana. Dan saya mendapatkan banyak kemudahan dari departemen kehutanan dalam hal ini. Jadi, yang tinggal diperlukan hanya sedikit mencari tahu tentang program-program penghijauan di departemen kehutanan terdekat.
Ke empat, saat merenovasi rumah, saya berkata pada suami, bagaimana kalau kusen-kusen untuk jendela, kita gunakan aluminium saja. Ternyata suami setuju. Begitu juga untuk pintu kamar mandi, kami gunakan pintu dari bahan PVC.
Ke lima, mungkin dengan mencoba menjadi supporter aktif WWF. Meskipun nilainya tidak banyak, tapi jika rumah tangga-rumah tangga yang cukup mampu bisa menyisihkan sedikit saja kelebihannya, dampaknya akan cukup besar untuk kelangsungan hutan-hutan dan satwanya di Indonesia.
Jadi, yang diperlukan hanyalah peduli. Kesempatan untuk berbuat, akan muncul dengan sendirinya.
(tulisan ini telah dikirimkan kepada WWF Indonesia, sebagai dukungan untuk penyelamatan hutan Indonesia)
365 Thankful Days Project – Day 109 : To Conquer the Fear
Ada tiga hal yang paling membuat saya takut. Pertama, saya takut tempat yang sempit. Iya, suka terbayang kehabisan nafas kalau ada di tempat yang sempit dan pengap. Kedua, saya takut pada ikan yang hidup. Seriously, terakhir waktu kami sekeluarga ke Kuala Lumpur, Ihsan dan abunya mencoba fish spa. Kaki mereka dicelupkan ke dalam kolam, ikan-ikan pun mengerubuni dan menggigiti kulit kaki mereka. Diseret pun saya tak akan mau mencemplungkan kaki biar seujung jari. Ketiga, dokter gigi. Bayangan tangan orang masuk ke dalam mulut dan mengutak-atik isinya dengan peralatan yang tajam-tajam, sangat tidak menyenangkan.
Tapi ketakutan nomor tiga ini ternyata yang sekarang berujud dan harus dihadapi. Tidak tanggung-tanggung, bedah mulut. Awalnya, karena keinginan saya untuk segera hamil lagi yang memaksa saya untuk berangkat ke dokter gigi. Ternyata malah mendapat vonis mengerikan, butuh operasi untuk memperbaiki kondisi gusi dan tulang rahang bawah. Sudah bertanya ke beberapa dokter dengan harapan ada yang mau berbaik hati meringankan diagnosanya, ternyata semua malah seperti bersekongkol.
Sebenarnya ini pilihan saja, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Tapi rasakan nanti kalau sudah mengandung, migren berkepanjangan, gusi berdarah terus yang artinya ada kemungkinan darah kotor tertelan dan mempengaruhi si bayi, atau pengeroposan gigi karena si bayi akan terus menuntut kalsium dari ibunya. Look how far I would go to hold a baby in my arms again.
Yang lebih sedihnya, harus datang dengan berani dan pulang dengan gagah, sendirian. Tidak ada tangan untuk dipegang dan dipeluk meminta kekuatan dan dorongan. Sebenarnya bisa saja ditunda sampai suami datang, tapi dokter itu malah merayu. Kan lebih enak kalau suami pulang nanti, sudah bisa senyum lagi ? Iya juga sih.. rasanya gak enak kalau suami pulang kerja mendapati istrinya sedang berwajah bengkak dan manyun. But definitely he must call. A very familiar voice surely can give comfort to a beating heart.
Two more days. At least I’ll be proud of my self if I can conquer this fear.
365 Thankful Days Project – Day 104 : Time to Heal
Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk pulih saat dia mengalami guncangan ? Depends, setiap orang pasti tidak sama. Ada yang begitu terlatih sehingga bisa pulih dengan cepat, ada pula yang begitu rapuhnya sehingga butuh waktu sangat lama untuk bisa pulih kembali.
I’m counting my time now.
Well, ini semacam metoda yang saya, secara berproses tentunya, coba kembangkan sendiri. Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk merasa kaget, marah, sakit hati, shock, sedih, sebelum akhirnya saya bisa mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain dan bangkit kembali.
Caranya begini. Yang namanya kejutan tidak menyenangkan, apa pun itu bentuknya, biasanya datang tiba-tiba. Apakah itu karena tiba-tiba kita kehilangan sesuatu, tiba-tiba kita dimaki orang, tiba-tiba melakukan ketololan, dan banyak hal lain yang tidak menyenangkan, yang reaksi pertama kita saat terjadi adalah : marah, kecewa, sakit hati, sedih, merasa tidak berguna, terhina, iri,malu.
Lalu seiring dengan berjalannya waktu dan proses berpikir, perlahan-lahan kita bisa pulih kembali.
Waktu itulah yang coba saya hitung sekarang.
Memang tidak bisa ditetapkan secara general berapa waktu terbaiknya, karena proses penyembuhan juga tergantung seberapa parah dan dalam masalah yang kita hadapi. Luka yang parah pasti butuh waktu lebih lama untuk sembuh.
Tapi kita bisa berlatih kan, sehingga jika suatu saat menghadapi beban berat, otot-otot emosi kita sudah lebih terlatih.
Contohnya hari ini. Saya disebut bodoh tidak berguna. Sampai menangis mendengarnya, dan merasa jadi orang yang memang benar-benar bodoh, dan bersusah payah menyembunyikan emosi di depan orang-orang.
Lalu beberapa saat kemudian, saya sudah menemukan diri saya bisa tersenyum lagi dan mulai berpikir kenapa saya dikatai bodoh.
Lamanya rentang waktu itu, yang mau saya catat baik-baik. Prosesnya memang tidak seketika. Tapi bisa dihitung. Dan hari ini, cukup senang juga sewaktu melihat jam, ternyata tidak memakan waktu terlalu lama lagi seperti dulu, yang bisa mewek berjam-jam dan menghasilkan mata bengkak yang jelek. Sudahlah bodoh, jelek pulak. Tak maulah ….
So, I’ll try to keep counting my time now.

