Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 234 : My Arrow

Ihsan, satu-satunya calon penerus laki-laki dalam keluarga, pernah bilang :

Ummi, aku mau ikut kompetisi matematika biar bisa ke luar negeri.

Ummi, aku mau cari beasiswa supaya bisa ke Paris.

Terharu .. mau ke luar negeri karena usaha sendiri. Sudah mengerti bahwa bercita-cita itu harus berani. Insya Allah tercapai ya, Amiinn…

Anak-anak bercita-cita, orang tua membantu membukakan jalan. Sudah seharusnya seperti itu kan.  Karena itu hari ini, dan untuk sepanjang minggu ini, Ummi rela bersusah-susah mengurus abang supaya bisa diterima di SMPN 6 Batam, sekolah menengah yang katanya berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).

Abang : Kalau gak lulus Mi ?

Ummi : Ga usah ditanya kalau ga lulus.. harus lulus ya Bang.

Alhamdulillah , Ihsan selalu punya semangat buat berjuang untuk pendidikannya. Senangnya juga dia punya teman-teman dengan semangat juang yang sama. Jadi mereka selalu bisa saling mendukung.

Abang… you’ve grown up so fast. Sekarang sudah mau SMP. Maaf kalau Ummi dan Abu terlalu menekan abang soal pentingnya pendidikan. Soal betapa beruntungnya Abang karena punya orang tua yang bisa memfasilitasi abang untuk belajar, soal betapa pentingnya punya cita-cita tinggi dan berusaha untuk meraihnya. Mungkin abang bosan mendengarnya. Gak apa-apa kalau bosan juga, asal tetap diturutin ya  :D

Abang adalah salah satu anak panah yang Ummi punya. Ummi adalah busur yang sedang merentang dengan kuat. I must aim you to the right future.  Pada saatnya, Abang akan melesat dengan kencang sendirian meninggalkan Ummi.. (Hiks, kadang sedih memikirkan kalau saat-saat itu akan datang).  Jadi sekarang Abang pasrah aja ikut dalam rentangan busur Ummi ya.. Gak mungkin Ummi sama Abu mengarahkan Abang ke tempat yang salah.

Go arrow go… be brave and hit your bright future ..

 

April 2, 2012 Posted by | Education, Effort, Growing Up, Hope | , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 231 : It’s a Hard Lesson, Son !

Hari ini Ihsan pulang dengan muka lebih kusut dari biasanya (well, biasanya juga kusut karena lelah.. baru sampai rumah jam 4 setiap hari).  Saya pikir pasti ada masalah di sekolah ..

Tapi Ummi tidak langsung tanya-tanya, biar Abang ganti baju dulu, shalat dulu.

Akhirnya sesudah shalat dia masuk ke kamar Ummi, ikut baring di tempat tidur. Muka dan badannya menghadap tembok.  Sesudah beberapa saat hanya terdengar nafasnya saja, Abang buka suara juga.

Mi.. kertas Try Out matematikaku disita sama pengawas. Katanya aku ketahuan kerjasama..

Ihsan ? Nyontek ? No way .. gak mungkin. Dia terlalu bangga sama dirinya sendiri untuk melakukan perbuatan itu. Apalagi pelajaran matematika, bidang yang paling dikuasai dan disukainya. Setelah sedikit korek-korek, keluar juga ceritanya.

Katanya setelah ulangan selesai dan pengawas sedang berjalan mengumpulkan hasil ujian, beberapa temannya datang menghampiri dan mencoba menyocokkan jawaban. Mungkin karena mereka pikir toh waktunya sudah habis dan tinggal dikumpul, tidak apa jika saling mencocokkan jawaban. Akhirnya mereka semua malah kena marah sama pengawas, dan kertas ulangan mereka semua disita.  Ihsan kesal karena dia merasa tidak bersalah. Plus ditambah juga kena tegur sama gurunya, karena menurut Bu Guru, Ihsan juga salah karena mau menunjukkan lembar jawabannya.

Jadi sekarang bidang matematikanya terancam tidak diperiksa oleh Dinas Pendidikan (Try Out tingkat kecamatan di Batam).

Belum lagi gara-gara kasus ini, dia jadi sedikit kesal dengan teman-temannya. Padahal mereka semua yang tertangkap bersahabat cukup dekat.

My boy .. you just have to learn to deal with it. Tetap saja tidak bisa menyalahkan orang lain kalau kita punya andil di dalam suatu kesalahan.  It’s a good lesson learnt for you. Coba kalau hal ini terjadi pada saat Ujian Nasional yang sebenarnya, bisa terancam tidak lulus ! Walah walah ..

Jadi, bersyukur ya Bang, sudah diberi peringatan jauh-jauh hari sebelum memasuki pertempuran yang sebenarnya. Untuk hasil latihan kali ini, terpaksa harus diterima kalau nilainya jatuh. Lain kali hati-hatilah … meskipun dengan teman-teman terbaik, tetap saja kita harus mengutamakan kejujuran dan kehati-hatian dalam setiap ujian.

 

February 28, 2012 Posted by | children, Education, Growing Up, Learning | , , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 205 : Aktivasi Otak Tengah

Membangun jembatan … itu yang saya tangkap dari hasil training aktivasi otak tengah yang diikuti oleh Ihsan dan Najmi selama dua hari penuh.

Bagi yang belum mengikuti trainingnya, tentu ada keragu-raguan, rasa tidak percaya atau kekhawatiran. Tapi ekspektasi saya juga tidak banyak, asal ada suatu metoda yang memang sudah proven bisa mengembangkan kemampuan anak-anak, tidak ada salahnya dicoba. Bukannya mau membiarkan anak-anak saya menjadi kelinci percobaan, tapi mengambil kesempatan untuk berkembang setelah melalui diskusi, dan membaca berbagai referensi, saya rasa sudah cukup untuk memantapkan keputusan saya dan suami untuk mengirimkan anak-anak ke training ini.

Dalam training ini, anak-anak diajarkan cara melakukan senam otak. Dan diharapkan setiap hari sebelum belajar, mereka bisa melakukan senam otak terlebih dulu. Gerakannya cukup simple sebenarnya, menggerakkan kedua bagian sisi tubuh dengan urutan tertentu. Tapi buat saya yang sudah mulai umur, ngikutinnya bikin jari-jari tangan rasanya mau terbelit  :)

Suasana dibikin serileks mungkin, karena katanya, otak mampu menyerap informasi dan berpikir paling maksimal jika kita dalam keadaan rileks. Karena hampir 80% memori kita tersimpan di alam bawah sadar. Dalam keadaan rileks, otak menghasilkan gelombang Alpha. Anak-anak diajak berpikir positif mengenai diri mereka.

Saya tidak tahu bagaimana proses pastinya, tapi salah satu metoda dalam aktivasi ini untuk meningkatkan konsentrasi dan daya fokus adalah dengan menutup mata anak-anak. Tujuannya adalah agar seluruh indra-indra mereka yang lain bekerja maksimal, karena sema ini mereka terbiasa percaya pada apa yang terlihat oleh mata saja. Dan memang setelah dua hari, anak-anak mulai terlihat lebih sensitif dan perasa.

Orang tua juga diajari bagaimana memasukkan sugesti positif kepada anak. Bahkan dengan cara hypnosleeping. Sepertinya menjanjikan, hanya belum sempat saya coba karena saat anak-anak sudah tertidur pulas di malam hari, saya pun sudah “hilang”  hihihi… tapi pasti akan saya coba.

Agar kedua sisi otak dapat bekerja maksimal, maka harus dibangun jembatan penghubung di antara keduanya. Inilah yang biasa disebut dengan aktivasi otak tengah. Bukan berarti ada sesuatu juga yang disebut otak tengah yang disetrum untuk dibikin bekerja seperti yang selama ini dibayangkan banyak orang. Kalau jembatan sudah terbangun, maka proses penyeberangan dari kedua sisi otak ini tentulah akan lebih mudah.

Jadi buat para orang tua yang masih bertanya-tanya tentang aktivasi otak tengah ini, gak ada salahnya dicoba. Mungkin sedikit berat di biayanya, but I think it’s worth it ..

May 5, 2011 Posted by | Education, Effort, Learning | , , | 2 Comments

365 Thankful Days Project – Day 49 : Wrong Target

Maksud sebenarnya adalah “salah sasaran“.  Hari ini saya merasa memanfaatkan suatu kemudahan yang sebenarnya tidak pantas saya dapatkan. Tapi karena itu memang tersedia dan saya berhak memanfaatkannya, maka saya lakukan juga.

Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan Nasional, sudah menggelontorkan milyaran rupiah demi membeli hak penerbitan buku dari para penulis buku sekolah. Buku-buku sekolah ini kemudian bisa kita download secara cuma-cuma di situs Buku Sekolah Elektronik. Suatu niat yang benar-benar mulia demi memberikan kemudahan akses bagi para pelajar (mulai dari SD sampai SMA/SMK) kepada buku-buku sekolah di seluruh Indonesia.  Jenis buku yang tersedia bahkan hampir mencapai seribu judul.

Ceritanya, buku-buku yang diperlukan anak-anak saya download dan saya print di kantor. Jadinya benar-benar tidak keluar uang, paling-paling hanya untuk biaya penjilidan saja. Terfikir saja, koq jadinya yang mendapatkan kemudahan justru orang-orang seperti saya ya, yang memang punya banyak akses dan kemudahan.

Lalu bagaimana dengan para orang tua yang kurang mampu ? Memang mungkin, jika dibanding membeli buku dari penerbit, mereka bisa mengeluarkan lebih sedikit uang untuk memfotokopi buku-buku ini dari yang sudah memilikinya. Tapi itu juga butuh koordinasi yang tepat, jangan-jangan mereka malah jadi sasaran juga bagi orang-orang yang mencoba mengambil keuntungan dari kemudahan ini.

Tanpa buku, memang tidak mudah menjalankan suatu proses pendidikan. Sayangnya buku-buku pelajaran sekarang ini sudah banyak dimanfaatkan dan disalahgunakan baik secara ekonomi maupun politik. Kalau teringat masa saya SD dulu, perpustakaan sekolah selalu menyediakan buku-buku pelajaran yang siap untuk dipinjamkan, dengan catatan, disampul dan dijaga baik-baik karena tahun depan akan dipakai oleh adik-adik kelas yang lain. Dengan cara seperti itu toh saya dan banyak teman-teman segenerasi jadi sarjana juga.

Program awal ini sudah baik, tapi perlu banyak penyesuaian dan perbaikan, supaya bisa benar-benar dimanfaatkan oleh yang membutuhkan dan tidak salah sasaran lagi.

July 21, 2010 Posted by | Book, Education | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.