Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 86 : Finally Bandung

Been away for these last 2 weeks. Terseret oleh budaya mudik lebaran tahunan dengan segala kehebohannya.  Lebaran tahun ini, giliran Bandung yang kami sekeluarga jadikan tujuan pulang. Tiket pulang pergi sudah dibeli jauh-jauh hari, jadi tidak ada masalah soal kehabisan tiket pulang. Hanya saja, kami memilih maskapai yang sudah terkenal reputasi delay nya, karena maskapai ini satu-satunya yang melayani penerbangan tujuan Bandung langsung dari Batam. Jadilah, awal mudik diawali dengan proses menunggu sambil terkantuk-kantuk karena pesawat baru berangkat jam 10 malam. Sampai di rumah mamah, ya sudah lewat tengah malam.

Bandung, kesan pertama saat tiba di malam hari, masih seperti dulu, dingin menggigit. Pun kami datang bertepatan dengan musim hujan.

Kesan-kesan berikutnya :

* Macet macet macet. Untuk pergi berbelanja selama dua jam saja, bisa menghabiskan waktu 3 jam di jalan.  Kami bahkan sampai pernah harus shalat ashar di dalam taxi, saking terjebaknya di tengah-tengah kemacetan. Komentar anak-anak, kenapa di Bandung ke mana-mana jauh ? Yah.. apanya yang jauh, Bandung mah segitu-segitu aja, cuma  kondisi kemacetannya yang parah. Satu karena jumlah kendaraan terus bertambah, apalagi sepeda motor. Ke dua karena ruas-ruas jalan tidak pernah bertambah banyak. Ke tiga karena semua pedagang berjualan di atas trotoar. Ke empat karena tidak ada lahan parkir yang memadai sehingga semua kendaraan parkir di badan jalan. Ke lima, entah kenapa semua mobil plat Jakarta numpuk di Bandung, kayak Jakarta kekurangan tempat belanja dan rekreasi aja. Ke enam, yang ngurus jalanan kemana saya gak tahu, karena semua jalanan di Bandung blong bentong alias bolong-bolong. Intinya, kalau dari segi infrastruktur jalan raya, Bandung kalah jauh dari Batam.

* Air air air. Maksudnya, Bandung susah air. Bayangkan di rumah mamah sekarang ada empat keluarga dan semuanya butuh air. Tapi air PAM cuma mengalir dua hari sekali. Hari berikutnya mengandalkan air yang sudah ditampung atau beli. Setiap hari harus bergelut dengan jumlah air yang tersisa. Kapan harus nyuci baju, kapan harus nyuci piring, kapan harus mandi, saya bahkan harus pikir-pikir dulu kalau mau cuci rambut, takut menghabiskan air jatah yang lain. Padahal Bandung adalah wilayah yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Tapi jika benar-benar diperhatikan, memang kondisi pepohonan di gunung-gunung itu nasibnya sudah seperti rambut yang tinggal di kepala papah, alias mulai menipis. Jadi air tanah sudah berkurang, tapi begitu hujan besar langsur banjir.

* Belanja, belanja, belanja. Dengan kondisi jalan yang cuma sebegitunya, pembangunan mall terus berjalan. Malah di daerah Cicadas, ada mall yang jaraknya cuma 300 meteran satu sama lain. Tapi kalau berbicara mall yang ada di Bandung, saya punya satu yang paling saya sukai, Paris Van Java. Rasanya betah berlama-lama di sana, karena bisa cuci mata sambil tetap menghirup udara segar dan melihat pepohonan (bahkan ada tanaman padi), pun tenant-tenant nya tahu bagaimana mendekorasi shop nya sehingga tetap sesuai dengan mallnya yang mengusung tema back to nature. Love it. (Tapi harus eling-eling pas belanja, salah-salah saking senangnya duit mengalir ke luar tanpa terasa)

Tapi begitulah Bandung. One of my home towns. Saya sendiri sebenarnya belum benar-benar mengenal Bandung luar dalam. Yang saya tahu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, selalu ngangenin untuk kembali ke sana.

September 16, 2010 Posted by | City, travel | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 18 : Traffic Lights

Hari ini saya berangkat pulang dan pergi kerja sendiri. Dalam perjalanan pulang tadi, saat saya berhenti di sebuah lampu merah, ada seorang anak kecil yang menghampiri saya. Sebenarnya ini  biasa terjadi, anak-anak kecil yang menjajakan koran sambil menawarkannya dari satu jendela mobil ke jendela mobil yang lain, sambil berharap ada yang mau membuka jendela dan membeli koran mereka.

Anak yang satu ini, mimik mukanya lucu. Wajahnya sebenarnya kotor, tertutup debu jalanan, dan rambutnya merah terbakar matahari. Ia juga tidak mengenakan alas kaki. Tapi binar matanya saat menawarkan korannya, kocak khas anak kecil. Saya jadi teringat anak-anak saya di rumah.

Dia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil saya. “Tante, korannya Tante”, dia mulai merayu. Saya geleng-geleng kepala. Dia belum putus asa, masih mengetuk-ngetuk lagi. “Beli koran Tante, ada berita Luna Maya”, hihihi dia pintar juga mempromosikan korannya. Akhirnya saya buka kaca. “Tante lagi gak mau beli koran, yang di rumah aja belum kebaca.”

“Tante mau kemana ?” Tanyanya lagi. “Mau pulang”.

“Tente lewat ke simpang Kara gak ?”

“Enggak, Tante gak lewat. Kenapa ?”

“Kalau lewat saya mau numpang Tante. Mau pindah jualan ke sana. Di sini banyak anak-anak yang lain”

Saya berpikir sebentar, lalu saya jawab “Ya udah Tante antar aja ke sana ya. Naik gih ke belakang”. Wah dia seneng banget. Dalam hati sempat kepikiran juga apa jangan-jangan dia mau panggil semua teman-temannya ya. Tapi ternyata dia langsung naik sendiri.

“Koq ga sekolah ?” Tanya saya, lampu sudah berganti hijau dan saya berbelok ke arah simpang Kara yang dituju anak itu. “Sekolah Tante, tapi pagi”. Percakapan ini jadi seperti iklan di tivi. Dia ternyata murid sekolah dasar kelas empat, sama seperti Ihsan anak saya. “Rumahnya di mana ?”

“Di Batu Ampar Tante.” Saya tahu daerah Batu Ampar, karena di sana lokasi tempat kerja saya. Dan jauhnya setengah jam perjalanan naik mobil dengan kondisi lalu lintas normal. “Jauh amat, naik apa ke sini ?”

“Naik ojek Tante”. Saya masih penasaran, “Kenapa jualannya jauh banget dari rumah sih ? Gak di Batu Ampar sana aja ?”

Jawabannya bikin saya tertawa, “Kan di Batu Ampar ga ada lampu merah Tante”.

Dia bener banget, sepanjang jalan Batu Ampar yang cukup panjang itu memang tidak ada lampu merahnya. Ada juga tapi cuma lampu kuning yang selalu kedip-kedip tanda hati-hati.

Hebat ya, di Indonesia ini, bahkan lampu merah pun bisa memberikan penghidupan. Bisa berarti buruk, karena artinya tidak tersedia cukup lapangan kerja bagi banyak orang. Tapi bisa juga berarti baik, paling tidak memberi sedikit pengharapan pada mereka untuk mencari makan, meskipun dengan cara yang sangat memprihatinkan. Yang lebih menyedihkan sebenarnya, terlibatnya anak-anak dalam “pekerjaan” di sekitar lampu merah ini. They’re suppose to be at school or playing at home. Belum lagi berbagai tindak kriminalitas dan mengintai mereka sebagai korbannya. Biasanya kalau anak-anak ikut dengan saya di mobil, saya memberi kuliah panjang lebar tentang betapa beruntungnya mereka. Tapi pintarnya, si kecil suka jawab begini ,”Kalau Ummi kasihan sama mereka, kenapa gak Ummi beli aja semua koran mereka ?”  Iya juga kan ya.. susah juga menjelaskannya kalau itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Anak itu, yang tidak sempat saya tanyakan namanya, turun di simpang Kara. Kembali menunggu lampu berganti merah dan mulai mengetuki jendela-jendela mobil lagi..

June 16, 2010 Posted by | children, City, Observation | , , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.