365 Thankful Days Project – Day 236 : Where Have You Been ?
If someone asked, where I have been… (in case anyone wondering), I’d like to tell ..
Been soooo busy following, admiring, hugging, kissing, carrying, feeding, little Yumna everywhere. Ga pernah lepas dari Ummi kecuali ke toilet, shalat dan ke pasar. Alhamdulillah sekarang sudah 6 bulan dan beratnya sudah lebih 9 kilo ! Mulai belajar makan, makin cerewet menggemaskan, dan pinter. Senangnya… sakit pinggang Ummi karena gendongin si montok kemana-mana jadi ga terlalu dirasain
Alhamdulillah sudah dilakukan penyuluhan dari Dinas Koperasi untuk berdirinya Koperasi Rumpun Kuning. Koperasi ini didirikan untuk mewadahi para peternak ayam skala kecil di Batam, agar bisa bergerak maju dan mandiri. Dalam koperasi ini, kebetulan saya berperan sebagai ketua yang insya Allah bertekad ingin memajukan koperasi ini beserta seluruh anggotanya.
Akhirnya abang tersayang beres lepas dari segala ujian : ujian penerimaan SMP, Ujian Akhir Semester dan Ujian Akhir Nasional. Sudah kalang kabut mengantar-ngantar dia setiap hari dari les ke les, bimbel dan pemantapan di sekolah. Tinggal menunggu pengumuman, mudah-mudahan berhasil dengan baik semua.. Amiinn
Ayam-ayam di kandang sekarang jumlahnya sudah mendekati 13.000. Dengan lokasi di 3 kandang. Pegawai 4, dan satu orang Technical Service. Benar-benar butuh perhatian.. belum lagi ada satu kandang yang butuh renovasi cukup besar. Tapi Alhamdulillah ada aja kemudahan yang diberikan Allah, jadi semua beres pada waktunya.
Renovasi rumah masih berjalan dan masih berperan sebagai mandor dan tukang belanja kebutuhan rumah. Setiap sudut yang kurang-kurang harus diperhatikan. Trus sibuk juga memikirkan segala perabotan yang mau dibeli, barang-barang elektronik, sampai urusan cat tembok.
Plus masih dengan segala urusan macam-macam.. sumur bor untuk rumah mamah di Bandung ? Kondisi nenek di Bangka ? Urusan adik di Medan ? Ngecek shalatnya anak-anak ? Belanjaan si Mbok ? De es be de es be …
Alhamdulillah … sibuk artinya masih memberi manfaat untuk orang banyak, masih bisa merasa hidup, masih bisa berfikir. So grateful with my life ..
365 Thankful Days Project – Day 121 : Asosiasi Pikiran
Minggu lalu saya mengikuti sebuah seminar tentang cara menemukan atau membangkitkan kejeniusan pada anak. Pembicaranya Ir. Sutanto Windura. Seorang pendidik yang memfokuskan minatnya pada pengembangan kemampuan otak melalui mind mapping dan speed reading.
Dalam salah satu sesinya, ia meminta kami melakukan sebuah simulasi. Simulasi tentang apa yang disebutnya sebagai asosiasi pikiran. Katanya, otak kita ini dalam memahami dan mengingat sesuatu, cenderung berusaha mengasosiasikannya dengan sesuatu yang lain. Misalnya kalau saya berkata “malam”, maka orang akan mengasosiasikannya dengan “gelap”. Itu contoh sederhana saja.
Dalam simulasi itu, kami dibagi berkelompok-kelompok. Satu kelompok terdiri dari minimal empat orang. Pak Sutanto akan menyebut satu kata/istilah, dan kami masing-masing harus menemukan sepuluh kata-kata yang berasosiasi dengan istilah tersebut. Jika dalam satu kelompok, kesemua anggota menuliskan asosiasi yang sama, maka kelompok itu mendapat nilai satu. Kalau dua yang sama, berarti mendapat nilai dua, dan seterusnya.
Kemarin itu, istilah yang diberikan adalah : “lari pagi”. Saya mulai menuliskan : sehat, segar, jogging, keringat dan lain-lain sampai sepuluh. Saya pikir, this is easy. Teman-teman yang lain dalam satu kelompok juga pasti punya pikiran yang sama dengan saya.
And guess what … dari sekian banyak kelompok, tidak ada satu pun kelompok yang memperoleh nilai, bahkan nilai satu sekalipun. Artinya, tidak ada satu kelompok pun yang anggotanya memiliki asosiasi pikiran yang sama tentang “lari pagi”. Teman sekelompok saya bahkan berpikir tentang kata-kata yang tidak saya pikirkan sama sekali, misalnya : pemanasan, jaket, stretching, track.
Artinya apa ? Artinya kalau kita ngomong sesuatu ke orang lain, belum tentu orang itu mengerti apa yang kita omongkan, karena dia punya asosiasi pikiran yang berbeda dengan kita. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan, keluarga dan lain-lain, tergantung pengalaman yang dia dapatkan sepanjang hidupnya tentang masalah tersebut.
Jadi, di sini beratnya. Kalau mau menyampaikan sesuatu kepada orang lain, maka supaya orang itu mengerti, kita harus berbicara menggunakan sudut pandang orang tersebut, bukan sudut pandang kita sendiri.
Susah ya … apalagi buat orang yang terbiasa merasa bahwa sudut pandangnya lah yang paling benar. Jadi tidak mau menerima sesuatu dari sudut pandang yang lain. Atau menyadari hal unik yang bernama asosiasi pikiran ini (saya sendiri juga baru menyadarinya lho)
Alhamdulillah sekarang sudah sadar … tinggal prakteknya aja yang belom hehehe.
365 Thankful Days Project – Day 118 : Sport Club Member
Ini salah satu family favorite activity saya. Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk menjadi member di salah satu sport club di Batam. Dan tiap ke sana, kita pergi dengan anak-anak. Perginya malam hari, rencananya sih bisa ke sana paling enggak 2 – 3 kali seminggu.
Untungnya anak-anak sudah cukup besar dan bisa berenang tanpa pengawasan lagi. Jadi mereka bisa ditinggall di kolam renang. Suami langsung nge-gym. Saya mulai dengan treadmill, sedikit nge-gym karena badan masih gagap kalau harus dibentuk dengan alat-alat di sana, ikut kelas yoga atau aerobik. Trus gabung deh sama anak-anak berenang. Kalau sempet sedikit sauna juga hmmm…
Total waktu hanya sekitar dua jam. Tapi pulang benar-benar fresh dan senang
365 Thankful Days Project – Day 102 : Training
Kali ini, saya punya tugas memberikan training kepada beberapa pekerja lapangan. Hey, kalau mau jujur sih, saya sendiri masih butuh di training. Mungkin karena dianggap pengetahuan saya masih setahap di atas mereka, maka saya dianggap berhak memberikan training.
Saya sendiri mengakui, bahwa sewaktu pertama kali terjun ke dunia ini, pengetahuan saya hampir nol besar. Lucunya, karena latar belakang pendidikan saya lebih tinggi daripada para teknisi yang ada di lapangan, maka saya memperoleh posisi yang lebih tinggi daripada mereka. Pada kenyataannya, merekalah yang benar-benar punya pengalaman dan kemampuan.
Tapi syukurlah dalam proses belajar sepanjang waktu, mereka semua dengan senang hati membantu. Kalau belajar dari buku-buku saja sih, dapat apa ? Malah makin pusing. Kenyataan di lapangan seringkali lebih mengajarkan banyak daripada buku-buku.
Jadi, sewaktu memberikan training pun, contoh-contoh kasus yang saya berikan juga kebanyakan berasal dari pengalaman kerja teman-teman yang lain di lapanngan. Dan saya juga mendengarkan berbagai pengalaman mereka, kira-kira di mana kurangnya dan apa yang harus mereka ketahui sebagai bekal dalam pekerjaan mereka nanti.
Mudah-mudahan pada lulus. Kalau gak lulus kan berarti yang ngasih training juga yang kurang pas penyampaiannya.
365 Thankful Days Project – Day 94 : Grass
Sore ini saya habiskan waktu dengan berjongkok , mencabuti rumput-rumput liar yang mulai menginvasi wilayah tumbuh rumput-rumput jepang di halaman rumah. Rumputnya basah, karena habis diguyur hujan. Dan bau favorit saya sehabis hujan jelas tercium, bau tanah.
Meskipun sebenarnya banyak hal yang sedang saya pikirkan, tapi kali ini saya biarkan pikiran saya hanya berpusat pada rumput-rumput liar itu. Saya gak tahu secara klasifikasi biologi jenisnya apa, tapi banyak sekali macamnya. Yang jelas, setiap rumput yang bentuknya tidak halus menjarum dan hijau mengkilat, saya buang.
Akar mereka, luar biasa. Meskipun halus tapi kuat menghunjam. Dan kalau akar-akar itu tidak bisa kita kalahkan, dalam dua hari saja rumput-rumput liar baru sudah tumbuh kembali.
Sebenarnya mereka tidak salah, mereka toh ingin hidup juga. Hanya saja invasi mereka selalu menghambat pertumbuhan tanaman-tanaman lain. Padahal tidak ada yang memelihara mereka, tidak ada yang merawat, tidak ada yang memperhatikan. Mereka tumbuh di pelukan bumi, bertahan dalam segala kondisi cuaca. Menjadi golongan yang tidak diinginkan, tapi toh tidak bisa dilenyapkan. Andai saja mereka bisa dijadikan pasukan, pasti rumput-rumput ini akan jadi prajurit paling tangguh.
Saya, di antara bau tanah, rumput liar dan lagu-lagu yang tanpa sadar saya senandungkan .. cukuplah untuk sedikit menyegarkan kepala di sore hari.
365 Thankful Days Project – Day 83 : Me Time
I had quite a day today. Hampir tidak berhenti bergerak sejak bangun menyiapkan sahur subuh tadi. Pagi hari yang memang sudah biasa heboh, kali ini ditambah urusan-urusan rumah tangga yang biasanya dikerjakan si mbok yang sudah mudik. Sedikit banyak terbantu juga sama anak-anak yang mulai besar dan bisa dimintai tolong.
Sampai di kantor, pikiran melompat-lompat dari issue yang satu ke issue yang lain, hampir tanpa jeda. Lalu tengah hari berlari ke luar menjemput anak-anak ke sekolah untuk di antar ke rumah, lalu balik lagi ke kantor, untuk menghadapi meeting yang isinya keluhan-keluhan. Sedang meeting, masih ditelpon urusan pekerjaan yang lain. Selesainya, masih harus menghadapi ; ini bagaimana..itu bagaimana..tolong dikirim sekarang..
Sore hari sampai di rumah, masak untuk berbuka dan makan malam. Dan yang jelas masih lanjut sampai malam karena anak-anak (yang tumben malam ini meminta),mau belajar ngaji sama Ummi lagi.
I really enjoyed the day. Senang rasanya bisa sibuk berbuat, apalagi kalau memang diniatkan sejak pagi bahwa semua kesibukan hari ini semata-mata karena memang ingin mengikuti perintah Sang Pencipta.
Tapi, ternyata senang juga kalau di antara semua kerepotan itu bisa sedikit curi-curi untuk menikmati Me Time, saat saya benar-benar bisa sendiri bersama pikiran-pikiran saya sendiri. My me time adalah saat saya sedang membawa mobil sendirian. Hanya diri saya, ditemani dengan pikiran-pikiran saya sendiri dan suara Marcell yang terus-menerus membawakan lagu “Tak Kan Terganti” yang saya putar berulang-ulang lagi dan lagi dan lagi.
Sudah..itu saja, tapi cukuplah untuk bisa mengembalikan semangat jiwa dan tetap menjalani hari dengan hati senang
365 Thakful Days Project – Day 75 : Namaste
Belakangan ini rasanya kondisi fisik dan mental saya mulai tidak stabil. Fisik rasanya cepat lelah dan tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama, sementara mood cenderung lebih sering turun daripada naik. Dipikir-pikir kenapa… ya. Pasti ada hubungannya kenapa badan yang tidak fit cenderung menurunkan kesehatan mental juga.
Saya baru sadar, ternyata sejak bulan puasa ini, sudah tidak pernah lagi menggerakkan badan buat exercise. Tidak jogging, tidak skipping, tidak yoga, bahkan sekedar stretching pun tidak. Tidak ada keringat yang terbuang sama dengan tidak ada racun yang keluar. Tidak ada racun yang keluar sama dengan tidak ada pemulihan di dalam sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang tidak sehat kalau berkumpul membentuk manusia, jadilah manusia yang tidak bugar. Kalau sudah tidak bugar, berusaha berpikir positif pun rasanya malas.
Sebenarnya saya tipe orang yang tidak suka dengan high impact exercise. Jogging dan skipping itu sudah yang paling keras yang bisa saya jalani. Lalu sejak suami senang dengan fitness, mulai sedikit-sedikit ikut. Di antara semua, yang paling membuat saya nyaman adalah yoga. Tidak perlu jingkrak-jingkrak all over the place, hanya dengan aliran gerakan yang perlahan, keringat keluar banyak, postur tubuh jadi lebih baik, dan pegal-pegal hilang.
Pun untuk mengikuti gerakannya kita harus benar-benar berkonsentrasi, kalau lengah keseimbangan bisa hilang dan salah-salah malah jatuh (sering terjadi pada saya soalnya). Jadi buat saya, yoga juga baik buat melatih kesabaran dan konsentrasi.
Ceritanya, pagi ini saya mulai hari dengan yoga lagi. Bersama badan yang kaku seperti papan. Tapi merasa lebih baik karena setidaknya, badan sudah mulai dilatih lagi. Dan Yoga juga jenis olahraga lembut yang mengajarkan ketenangan dan pikiran positif terhadap segala hal. Salah satu bagian kesukaan saya adalah salamnya : Namaste, the light in me sees the light in you.
p.s. To my husband, I’m so sorry to hear that you’re not feeling well now. Wish you to get well soon..
365 Thankful Days Project – Day 72 : Little (Neglected) Garden
I looked at my little garden today and feel kind of sorry for it. Rupanya memang tidak berantakan, tapi juga tidak bisa dibilang indah. Rasanya perlu benar-benar bisa mengatur waktu agar bisa menumbuhkan sedikit kehidupan di sana.
Dulu di halaman ada pohon cabe yang buahnya subur dan gendut-gendut. Tidak berhenti-berhenti berbuah setiap hari bahkan sampai dibiarkan jatuh-jatuh tak terambil. Tapi karena proses renovasi ruang tamu tempo hari, pohon cabe nan gendut itu dibuang. Di rumah yang lama di Bandung malah saya dan suami sempat menanam pohon mangga, labu siam (yang buahnya juga menggantung-gantung tak termakan dan selalu dibagikan pada tetangga), Mahkota Dewa, dan Markisa. Padahal halamannya juga mungil.
Halaman mungil sebenarnya bukan alasan tidak bisa berkebun. Masalahnya mau atau tidak saja. Kalau dibilang tidak sempat sih, ya tidak juga karena toh setiap hari mungkin kalau disempat-sempatkan saya masih bisa menyisihkan waktu barang setengah jam buat mengurusi halaman rumah.
Kadang-kadang sedih juga karena satu dan lain hal kita jadi malas menekuni sesuatu yang sebenarnya kita senangi. Padahal mana mungkin ada hasil kalau tidak diusahakan. Mana mungkin ada kebun kecil yang sedap dipandang kalau tidak diurusi.
Hmm.. sepertinya urusan berkebun ini harus masuk ke reminder juga biar gak selalu lupa dan membatu jadi rasa malas.
365 Thankful Days Project – Day 69 : Boy Stuff
Now we’re talking about boy stuff, which I really don’t get it at all. Kemarin, abang dengan wajah berseri-seri antara senang dan bangga, bercerita.
“Ummi, kemarin aku diajarin abu bawa motor looo”
“What ?”
“Iya, aku yang bawa. Gampang koq, kayak naik sepeda aja.”
“What ?”
“Iya, ngeremnya kan juga pake tangan aja. Pas belok, aku pelan-pelan.”
“Whaaaat ? Bla …bla…bla….” (ngomel panjang pendek soal bahaya, soal umur yang belum cukup, soal badan yang masih kecil, soal abu yang aneh)
Ihsan, pura-pura ga denger mode on , “Ummi, nanti kalau abu ga ada aku diajarin naik motornya sama Ummi ya.”
Jawabannya, absolutely a no no.
Sudah gitu, saat ayahnya dimintai pertanggungjawaban, “Kan anaknya juga bentar lagi sudah besar”. Aih.. saling mendukung.
Iya sih. Tapi sebagai ibu-ibu biasa, panik duluan , belum lagi yang perempuan juga ikut-ikutan. “Aku juga lho Ummii”… waduh.
Sebenarnya cukup safe karena ada ayahnya juga yang ikut naik, dan motornya juga jenis matic. Tapi terang aja, kalau ayahnya kan punya tangan dan kaki yang cukup kuat untuk menjaga keseimbangan. Kalau umminya diminta ngajarin juga mah .. bisa terbang semua. Tapi ternyata anak-anak excited banget. Apalagi ini sesuatu yang bisa mereka lakukan dengan ayahnya tanpa campur tangan ibunya sama sekali.
This is just the area that I really can’t and won’t get involve in.
365 Thankful Days Project – Day 47 : Sweat
Today is just another blank moment for me. Mungkin karena ada beberapa hal yang mengganggu pikiran, jadinya sulit sekali memandang hari ini sebagai hari yang menyenangkan. But well .. still trying to hold on anyway.
Satu-satunya pengamatan yang menyenangkan hari ini adalah, ternyata setelah anak laki-laki saya rajin bermain bola dengan teman-temannya setiap sore sepulang ngaji, nafsu makannya jadi meningkat tajam. Senang sekali melihat Ihsan sekarang setiap sore pulang ngaji dengan sepedanya, sambil bercucuran keringat dan wajah sehat kemerah-merahan. Dan dia juga kelihatannya senang sekali. Biasanya dia seperti anak laki-laki loyo yang kerjanya hanya nonton tivi dan main play station. Mudah-mudahan kesenangannya ini bertahan lama.
Yang penting Ihsan sudah mau bergerak. Jadi gak bener dulu kalau kata sensei karate yang menolak menerima dia jadi muridnya, anak saya itu tidak bisa bergaul. I’ve told you he just needs more time.
