365 Thankful Days Project – Day 226 : Do You Care ?
Hari ini saya menyadari bahwa ada satu hal yang sungguh sulit untuk dilakukan di dunia ini : mempedulikan seseorang… Benar-benar peduli sehingga kita memikirkannya dengan cara seperti yang diinginkannya. Biasanya kita dengan yakin mengatakan bahwa kita sudah peduli pada pasangan kita, pada anak-anak kita, pada orang tua kita.. padahal kita sesungguhnya tidak peduli.
Ada satu cerita tentang kepedulian yang menunjukkan ketidakpedulian ..
Di suatu tempat, hiduplah sepasang suami istri miskin dengan dua orang anaknya. Sang suami bekerja sebagai nelayan, dibantu oleh kedua anak-anaknya. Jika tangkapan banyak, mereka menjualnya ke pasar untuk dibelikan bahan makanan. Tapi lebih sering mereka pulang dengan membawa sedikit hasil dan hanya cukup untuk mereka jadikan lauk di rumah. Sang ibu di rumah selalu siap untuk mengolah ikan-ikan hasil tangkapan itu menjadi berbagai olahan yang mereka sukai. Dan Si ibu selalu berpesan, ” Tolong sisakan kepala ikannya untuk Ibu ya.” Tetapi karena mereka selalu pulang dalam keadaan lapar, tak seorang pun yang ingat untuk menyisakan kepala ikan untuk ibunya.
Saat ulang tahun sang ibu tiba, mereka bertiga sepakat untuk memberikan sebuah hadiah kepada sang ibu. Sepotong kepala ikan yang besar. Saat mereka memberikan hadiah itu kepada sang ibu, ia hanya memandanginya sambil menangis. Salah seorang anaknya bertanya, “Kenapa ibu menangis, bukankah ibu suka dengan kepala ikan ?”
Sang Ibu menjawab, “Anakku, ibu tak suka kepala ikan. Ibu suka daging ikan, tapi melihat kalian begitu menyukai daging ikan, maka ibu meminta kepalanya.”
Sang suami dan anak-anaknya berbuat seolah-olah mereka peduli pada sang ibu, padahal justru hal itu menunjukkan betapa tidak pedulinya mereka. Paradoks yang mengerikan …
Berapa kali kita merasa sudah peduli pada orang-orang terdekat kita, padahal tanpa disadari justru menunjukkan betapa tidak pedulinya kita ?
Berapa sering kita berkata : Aku gak ngerti dia kenapa, aku kan sudah melakukan ini dan itu untuk dia. Kenapa dia masih bersikap seperti itu ? Dan ternyata, pada saat yang sama orang tersebut juga berpendapat yang sama dengan kita. Akhirnya kita terjebak dalam pertengkaran tentang siapa lebih peduli dan siapa yang tidak peduli.
Alangkah mudahnya menghancurkan suatu hubungan hanya dengan merasa peduli …
Sewaktu anak-anak kita berbicara, apa kita menghentikan pekerjaan kita lalu berbicara sambil menatap mata mereka ? Mungkin tidak, dengan sangat malu saya katakan terkadang saya menjawab pertanyaan anak-anak saya sambil membalas sms atau bbm. Saya pikir saya sudah peduli karena saya toh sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi apa saya peduli ? Tidak, saya tidak cukup peduli dengan anak-anak saya.
Jadi kalau suatu saat tiba-tiba kamu merasa sudah peduli pada seseorang, mungkin ada baiknya merenungi jebakan paradoksal ini… that you just don’t care.
365 Thankful Days Project – Day 225 : Wow, I’ve Got Hands !
Salah satu hal yang menarik dari kelakuan bayi adalah mengamati rasa takjub mereka pada hal-hal yang (menurut kita) sepele. Lucu sekali melihat wajah mungil itu berkerut-kerut serius mengamati sesuatu hal yang baru baginya.
Yumna kecil yang baru menginjak dua bulan, tiba-tiba menyadari bahwa ada dua tangan yang menempel pada tubuhnya, yang bisa digerak-gerakkan dengan semangat ketika dia senang, yang bisa dipakai untuk menarik-narik baju dan rambut ummi, yang bisa diisap-isap jika dia gelisah menunggu susunya datang.
Lucu sekali ekspresinya waktu menyadari keberadaan tangannya. Tangannya diangkat tinggi-tinggi dan hanya dipandangi, dengan muka berkerut-kerut dan bibir monyong..hihihi. Senang sekali memain-mainkan tangannya.
Sayangnya, mungkin entah beberapa saat lagi, dia , seperti halnya juga kita, akan lupa betapa menakjubkannya semua pemberian Tuhan yang ada di diri kita. Jangankan merasa takjub, menyukuri kesempurnaannya pun kita sudah tidak pernah lagi. Semuanya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, sudah dari sananya begitu. Bahkan saat kita memakainya pun sudah lupa mengucapkan Bismillah..
Mungkin akan luar biasa kalau kita masih bisa sesekali bersikap takjub seperti bayi, mengagumi apa yang kita miliki, bahkan lebih baik lagi karena akal kita sudah berfungsi untuk mencerna keberuntungan itu dan mensyukurinya …
