365 Thankful Days Project – Day 161 : Perempuan
Seorang teman bertanya kepada saya, kamu kan punya anak perempuan. Bagaimana rasanya, kamu sebagai ibunya, jika anak perempuanmu itu adalah korban perselingkuhan (baik sebagai istri yang diduakan maupun sebagai perempuan kedua).
Aduuuhhh…. amit-amit jabang bayi Najmiiiii, jauh-jauh ya naaak….
Baiklah, mari kita berandai-andai..
Jika anak saya adalah istri yang diduakan, saya akan memintanya untuk bertahan sekuat mungkin. Terutamanya jika sudah ada anak di dalamnya. Kalau perlu segala remah-remah kebahagiaan dia pertahankan demi mengembalikan suaminya ke tengah-tengah keluarga kembali. Dan jika suaminya sudah benar-benar kembali dan menyesal, saya akan meminta dia untuk berusaha menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi, menjaga kehormatan keluarganya, dan hidup hanya dengan tuntunan Iman kepada ajaran Allah menurut sunnah rasul-Nya.
Tapi kalau suaminya tidak menghargainya dan tidak mau kembali, maka ia harus jadi perempuan yang kuat dan tegar. Berjalan dengan kepala tegak untuk membesarkan anak-anaknya. Melangkah ke depan untuk kehidupan yang lebih baik, dengan tetap berpegang pada ajaran Allah.
Jika anak saya adalah perempuan kedua dalam rumah tangga seorang laki-laki, maka akan saya tampar dia. Dua kali. Satu karena dia melanggar ajaran Allah, satu lagi karena dia telah merendahkan dirinya sendiri. Lalu akan saya kurung dia. Setelah itu akan saya usir laki-laki yang sudah memanfaatkan anak saya itu, bahkan kalau perlu saya kirim ke penjara. Kemudian akan saya hampiri dan peluk lagi anak saya, akan saya temani dia dalam keterpurukannya. Menunggu sampai ada sebersit senyum lagi di wajahnya, sampai ia bisa berjalan lagi dengan kepala tegak dan memperlihatkan wajahnya yang cantik pada dunia dan bisa menyambut lagi masa depannya yang gilang-gemilang.
Begitulah… sedihnya kalau disuruh membayangkan hal itu terjadi pada anak perempuan kita.
Jauh-jauuuuhhh ya Allah …..

Allah tidak tidur