Mengapa Manusia Masih Meminta Syurga ?
This question just strike me when I was praying. Kenapa, manusia masih meminta syurga pada Tuhannya atas segala perbuatan baik yang dilakukannya ? Bukankah Tuhannya sudah begitu baik selama ini, memberinya udara untuk bernafas, cuaca yang baik untuk menumbuhkan benih, anak-anak yang lucu, kesehatan, kecukupan, persahabatan, persaudaraan, keluarga, anggota tubuh yang lengkap. Kalau orang berbuat baik pada kita, maka kita pasti akan berterima kasih dan sebisa mungkin membalas kebaikannya. Tuhan sudah begitu baik pada kita, wajarlah jika kita berterimakasih dan berusaha membalasnya dengan kebaikan pula. Tapi koq, masih minta diberi imbalan syurga pula ? Aneh .. Manusia memang aneh.
Pertanyaan ini muncul, sewaktu saya meminta, memohon, diajarkan apa itu sabar, ikhlas dan syukur. Tiga hal yang sampai sekarang rasanya masih belum mengerti bagaimana cara menjalaninya. Sambil bertanya juga, apakah urutannya sudah benar, bersabar terhadap segala cobaan maupun kesenangan, ikhlas menerima dan menjalaninya, lalu bersyukur dengan segala apa yang sudah kita terima termasuk pelajaran-pelajaran pahit di sepanjang jalan. Atau dilakukan tanpa urutan ? Kita toh bisa bersyukur setiap hari tanpa harus diuji dulu dengan berbagai masalah kan ?
I was just sitting there and started to cry. I don’t want Your heaven in my after life. Kalaulah saya ini bisa berbuat sedikit saja kebaikan dalam hidup ini, itu memang kewajiban saya, tugas saya sebagai manusia yang tahu berterima kasih. Dan untuk itu, saya butuh tahu apa itu sabar, ikhlas dan syukur.
Muhammad sewaktu akan meninggal hanya berkata, ummatii..ummatii..ummatii.. Dia mana perduli sudah dijanjikan tempat yang demikian baik oleh Allah. Yang dia perduli, ummatnya. Syurga baginya adalah jika melihat ummatnya juga selamat. Seharusnya kita juga seperti itu kan ? Syurga itu, jannah itu, kebahagiaan itu, harusnya ada di hati. Saat kita bisa membantu dan mendorong orang lain mencapai kebaikan, bisa mengantarkan anak menjadi manusia yang memenuhi harapan Allah, bisa sedikit memberi perubahan dalam ketidakteraturan, bisa jadi tiang, bisa jadi penopang. Kalau saya bisa seperti itu, bisa mencapai kebahagiaan seperti itu, rasanya mati tanpa syurga pun tak apa, karena kesempurnaan hidup sudah tercapai. Mau apa lagi ?
Kalaulah toh akhirnya Allah memberi imbalan (luar biasa baiknya Allah, sudah memberi karunia, masih memberi bonus syurga bagi yang tahu berterimakasih), itu seharusnya bukan menjadi tujuan. Karena kalau itu menjadi tujuan, jangan-jangan kita terjebak dengan hitungan untung-rugi. Masih muda suka-suka, sudah tua ibadah banyak-banyak. Sibuk menghitung apakah pahala dan dosanya sudah (minimal) sebanding.
Tapi memang susah sekali rasanya. Terutama bisa memahami hal yang tiga ini : sabar, ikhlas dan syukur. Jebakannya ada dalam sifat ego manusia. Kadang kita merasa diri yang paling benar, sehingga bersabar dan ikhlas itu terlihat seolah-olah sebagai suatu kebodohan yang absurd. Atau, berusaha bersabar padahal di dalam hatinya memaki-maki. Berarti belum ikhlas. Sulit banget ..
No comments yet.