Melatih Anak Puasa Ramadhan
Alhamdulillah, bulan Ramadhan sudah selesai kita lewati. Ada rasa sedih juga, karena satu bulan ini memang Allah sediakan khusus buat ummatnya untuk membina diri dengan kesabaran. Sabar itu, teguh bertahan dalam kondisi bagaimana pun pahit dan getirnya. Jadi dengan melaksanakan shaum, di mana kondisi fisik akan berada pada titik minimal, ke-Iman-an kita akan teruji. Wong kalau kenyang aja kita suka lupa bersyukur, bagaimana kalau lapar dan haus, apa kita masih bisa berkonsentrasi untuk tetap ingat bahwa sel-sel biologis kita ini sesungguhnya bergerak karena perintah Allah.
Tahun ini, Ihsan (9 tahun) dan Najmi (7 tahun) mulai mencoba ikut shaum satu hari penuh. Kendalanya … wuihh jangan ditanya. Mulai dari narik-narik mereka untuk bangun sahur, sampai terus ngasih semangat supaya shaumnya bertahan sampai Maghrib plus shalatnya gak putus. Merengek-rengek ..pasti, sampai nangis malah. Kadang enggak tega juga, kata neneknya, sudah kenapa enggak setengah hari aja. Sebenarnya umminya juga berpikir, untuk mencoba 2 atau tiga hari pertama aja, kalau benar-benar menyedihkan kondisinya, ya bolehlah berbuka sebelum Maghrib.
Tapi ternyata mereka baik-baik saja. Memang merengek, lapaaar…hauuus…tapi begitu perhatian mereka teralih, mereka bisa lupa sampai waktunya berbuka. Jadi sebenarnya susah-susah gampang mendidik mereka shaum sehari penuh. Tapi ternyata, mereka juga bangga sama diri mereka sendiri pada akhirnya.
Saya enggak menjanjikan apa-apa sebagai hadiah, saya cuma jelaskan kenapa Allah menyuruh kita shaum atau puasa Ramadhan. Sebagai imbalan agar mereka sedikit gembira, we made a reward board. Kalau puasanya penuh, mereka boleh hias reward board nya dengan sticker. Ihsan, Najmi, hebat deh. You must be proud of your selves.
No comments yet.

