Daddy’s Girl
A little girl needs Daddy
For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!
Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.
Like being the great mountain
That rises in her heart
And shows her how she might get home
When all else falls apart.
Like giving her the love
That is her sea and air,
So diving deep or soaring high
She’ll always find him there.
Mengapa Manusia Masih Meminta Syurga ?
This question just strike me when I was praying. Kenapa, manusia masih meminta syurga pada Tuhannya atas segala perbuatan baik yang dilakukannya ? Bukankah Tuhannya sudah begitu baik selama ini, memberinya udara untuk bernafas, cuaca yang baik untuk menumbuhkan benih, anak-anak yang lucu, kesehatan, kecukupan, persahabatan, persaudaraan, keluarga, anggota tubuh yang lengkap. Kalau orang berbuat baik pada kita, maka kita pasti akan berterima kasih dan sebisa mungkin membalas kebaikannya. Tuhan sudah begitu baik pada kita, wajarlah jika kita berterimakasih dan berusaha membalasnya dengan kebaikan pula. Tapi koq, masih minta diberi imbalan syurga pula ? Aneh .. Manusia memang aneh.
Pertanyaan ini muncul, sewaktu saya meminta, memohon, diajarkan apa itu sabar, ikhlas dan syukur. Tiga hal yang sampai sekarang rasanya masih belum mengerti bagaimana cara menjalaninya. Sambil bertanya juga, apakah urutannya sudah benar, bersabar terhadap segala cobaan maupun kesenangan, ikhlas menerima dan menjalaninya, lalu bersyukur dengan segala apa yang sudah kita terima termasuk pelajaran-pelajaran pahit di sepanjang jalan. Atau dilakukan tanpa urutan ? Kita toh bisa bersyukur setiap hari tanpa harus diuji dulu dengan berbagai masalah kan ?
I was just sitting there and started to cry. I don’t want Your heaven in my after life. Kalaulah saya ini bisa berbuat sedikit saja kebaikan dalam hidup ini, itu memang kewajiban saya, tugas saya sebagai manusia yang tahu berterima kasih. Dan untuk itu, saya butuh tahu apa itu sabar, ikhlas dan syukur.
Muhammad sewaktu akan meninggal hanya berkata, ummatii..ummatii..ummatii.. Dia mana perduli sudah dijanjikan tempat yang demikian baik oleh Allah. Yang dia perduli, ummatnya. Syurga baginya adalah jika melihat ummatnya juga selamat. Seharusnya kita juga seperti itu kan ? Syurga itu, jannah itu, kebahagiaan itu, harusnya ada di hati. Saat kita bisa membantu dan mendorong orang lain mencapai kebaikan, bisa mengantarkan anak menjadi manusia yang memenuhi harapan Allah, bisa sedikit memberi perubahan dalam ketidakteraturan, bisa jadi tiang, bisa jadi penopang. Kalau saya bisa seperti itu, bisa mencapai kebahagiaan seperti itu, rasanya mati tanpa syurga pun tak apa, karena kesempurnaan hidup sudah tercapai. Mau apa lagi ?
Kalaulah toh akhirnya Allah memberi imbalan (luar biasa baiknya Allah, sudah memberi karunia, masih memberi bonus syurga bagi yang tahu berterimakasih), itu seharusnya bukan menjadi tujuan. Karena kalau itu menjadi tujuan, jangan-jangan kita terjebak dengan hitungan untung-rugi. Masih muda suka-suka, sudah tua ibadah banyak-banyak. Sibuk menghitung apakah pahala dan dosanya sudah (minimal) sebanding.
Tapi memang susah sekali rasanya. Terutama bisa memahami hal yang tiga ini : sabar, ikhlas dan syukur. Jebakannya ada dalam sifat ego manusia. Kadang kita merasa diri yang paling benar, sehingga bersabar dan ikhlas itu terlihat seolah-olah sebagai suatu kebodohan yang absurd. Atau, berusaha bersabar padahal di dalam hatinya memaki-maki. Berarti belum ikhlas. Sulit banget ..
Melatih Anak Puasa Ramadhan
Alhamdulillah, bulan Ramadhan sudah selesai kita lewati. Ada rasa sedih juga, karena satu bulan ini memang Allah sediakan khusus buat ummatnya untuk membina diri dengan kesabaran. Sabar itu, teguh bertahan dalam kondisi bagaimana pun pahit dan getirnya. Jadi dengan melaksanakan shaum, di mana kondisi fisik akan berada pada titik minimal, ke-Iman-an kita akan teruji. Wong kalau kenyang aja kita suka lupa bersyukur, bagaimana kalau lapar dan haus, apa kita masih bisa berkonsentrasi untuk tetap ingat bahwa sel-sel biologis kita ini sesungguhnya bergerak karena perintah Allah.
Tahun ini, Ihsan (9 tahun) dan Najmi (7 tahun) mulai mencoba ikut shaum satu hari penuh. Kendalanya … wuihh jangan ditanya. Mulai dari narik-narik mereka untuk bangun sahur, sampai terus ngasih semangat supaya shaumnya bertahan sampai Maghrib plus shalatnya gak putus. Merengek-rengek ..pasti, sampai nangis malah. Kadang enggak tega juga, kata neneknya, sudah kenapa enggak setengah hari aja. Sebenarnya umminya juga berpikir, untuk mencoba 2 atau tiga hari pertama aja, kalau benar-benar menyedihkan kondisinya, ya bolehlah berbuka sebelum Maghrib.
Tapi ternyata mereka baik-baik saja. Memang merengek, lapaaar…hauuus…tapi begitu perhatian mereka teralih, mereka bisa lupa sampai waktunya berbuka. Jadi sebenarnya susah-susah gampang mendidik mereka shaum sehari penuh. Tapi ternyata, mereka juga bangga sama diri mereka sendiri pada akhirnya.
Saya enggak menjanjikan apa-apa sebagai hadiah, saya cuma jelaskan kenapa Allah menyuruh kita shaum atau puasa Ramadhan. Sebagai imbalan agar mereka sedikit gembira, we made a reward board. Kalau puasanya penuh, mereka boleh hias reward board nya dengan sticker. Ihsan, Najmi, hebat deh. You must be proud of your selves.
Di Atas KRI Dewa Ruci
Pertengahan September 2009 ini, KRI Dewa Ruci singgah di Batam. Beritanya tidak sengaja terbaca di headline depan sebuah koran lokal, sewaktu saya sedang belanja sayur di warung belakang rumah. Katanya, selama bersandar di dermaga Batu Ampar Batam, warga boleh naik ke atasnya buat melihat-lihat. Hmmm..boleh juga. Pilihan wisata yang cukup unik dan menarik buat anak-anak sambil menunggu waktu berbuka puasa.
And so we went there. Kapalnya tidak terlalu besar, tapi unik. Tipikal kapal layar yang mengingatkan saya dengan perahu Pinisi. Katanya, kapal ini dibangun di Jerman Barat pada tahun 1952. Wah hebat yah… masih bisa berlayar keliling dunia. Atau apa tidak terlalu dipaksakan kapal setua itu masih disebut sebagai kapal latih ? Entah mau bangga karena kapal ini punya pengalaman luar biasa, atau mau miris karena kapal-kapal kebanggan Indonesia rata-rata sudah berumur begitu tua, dan kalah canggih dari kapal-kapal angkatan laut negara tetangga. Ayo dong, pemerintah .. swasta, siapa kek. Bangkitkan lagi kejayaan Indonesia sebagai negara maritim, negara kepulauan terbesar di dunia.
By the way, sedikit informasi. Panjang kapal ini 58.30 m, lebar lambung 9.50 m, bobot mati 847 ton. Kapal ini punya tiga tiang
utama : Bima, Yudhistira dan Arjuna (nama tiang-tiangnya bagus yah), serta memiliki 16 layar. Kapal ini dihiasi dengan berbagai bendera dari negara yang pernah ia tuju. Yang lucu, ada bendera bajak lautnya ! Maksudnya, pernah menyinggahi negeri bajak laut, atau buat nakut-nakutin kapal lain ya, biar gak kalah garang dari kapal perang negara tetangga
Tapi.. sebenarnya kita memang salah, kurang memandang ke laut. Ihsan sama Najmi, kalau besar mau bergelut di bidang kelautan juga Ummi dukung lho. Di laut ikannya banyak, karang-karangnya indah, ada minyaknya, ada mutiaranya, ada rumput lautnya, ada pantainya yang indah, ada ombaknya, ada anginnya, ada pasirnya yang suka dicuri sama negara tetangga, bahkan ada timahnya. Kalau saja kita memaksimalkan potensi laut, Indonesia bisa jadi negara sehebat apa ya.. Yales Veva Jaya Mahe !




