Juliequr's Blog

One Step Ahead to Happiness

365 Thankful Days Project – Day 224 : Hair Style, Yeah !

Coba, apa kira-kira hal yang bisa jadi masalah pada seorang ABG ? Rambut ! iya, urusan gaya rambut.

Dan sepertinya selama 6 bulan belakangan ini, Ihsan selalu saja ribut dengan urusan rambut. Pertama karena dia tidak bisa memiliki gaya rambut yang dia suka karena tidak sesuai dengan peraturan sekolah, ke dua karena gaya rambut idamannya berubah-ubah hampir setiap bulan.

Awalnya dia suka gaya rambut spike. Ok, masih bisa diterima karena cukup pendek dan hanya menyisakan jambul dan rambut-rambut jabrik di depan.  Tidak lama demam Justin Bieber melanda, dan dia ingin memiliki model rambut seperti itu, cukup pendek di bagian belakang tapi poni melambai. Sama sekali tidak cocok dengan rambutnya yang tebal, karena poninya menjadi terlalu tebal dan tidak bisa luwes melambai seperti poni JB.

Lalu berlanjut dengan kerasukan boy band Korea. Rambut-rambut panjang ala tokoh-tokoh animasi manga. Ya mana bisa laah… gurunya selalu merepet saban kali melihat rambutnya yang dibiarkan memanjang.  Terakhir yang paling membikin jantung berdegup lebih kencang sewaktu dia bilang, Ummi… gaya mohawk itu keren yaaa…

Astaghfirullah Ihsaannn… kemana mau pake rambut mohawk ??

Syukurlah dia masih kelas 6 SD yang artinya cita-cita mohawknya terpaksa kandas. Sekarang sepertinya dia sedang celingak celinguk mencari model rambut terkeren lain yang kira-kira masih bisa diaplikasikan saat ini. Ada-ada aja urusan rambut ini …

January 8, 2012 Posted by | children, Dislike, Growing Up | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 223 : Some Adjustments

Anggota keluarga baru,si kecil Yumna yang selama ini dinanti-nanti kehadirannya,sudah ada di tengah-tengah keluarga dan membawa kebahagian dan nafas baru bagi semua.

Tapi berikut kehadirannya,muncul pula keharusan-keharusan untuk melakukan banyak penyesuaian. Seperti mobil sedan yang mendadak jadi terlalu sempit dengan tiga anak ditambah dengan baby car seat, ruangan di rumah yang mendadak terlalu sempit jadi harus diperlebar, lemari pakaian yang jadi harus ditambah jumlahnya, tagihan air dan listrik yang meningkat karena semua popok dan pakaian harus dicuci terpisah, sampai jadwal tidur yang berubah.

Semua butuh penyesuaian, dan jelas semua butuh biaya lebih. Jadi jangan coba-coba menambah anak kalau belum memikirkan semua penyesuaian yang datang bersama kehadirannya.

Tapi ternyata memang Allah sudah mengatur semuanya buat setiap anak yang dilahirkan. Setidaknya for baby Yumna. Karena semua penyesuaian yang disebutkan di atas,berjalan mulus sampai sejauh ini. Yang tadinya tidak terbayangkan akan mungkin dimiliki,malah datang seolah-olah begitu saja menghampiri. Bulan lalu tidak terbayang ada mobil baru di rumah dan rumah yang direnovasi. Sekarang malah semuanya tiba-tiba sudah berjalan. Dan tiba-tiba suami juga menerima pekerjaanyang lebih baik.

Alhamdulillah… entah memang setiap anak membawa rejeki atau tidak, tapi kehadiran Yumna memang membawa banyak sekali kebahagiaan…

December 8, 2011 Posted by | children, family, Miracle | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 222 : Life In A Flow

Ada kalimat yang bagus sekali, saya kutip dari buku Sam Kok jilid I. Bahwa hidup itu adalah ibarat aliran sungai besar.

Jika alirannya terpisah, maka suatu saat akan bersatu kembali. Tapi jika aliran itu menyatu, maka suatu saat pasti akan terpisah.

Membaca kalimat itu, saya jadi memikirkan anak-anak. Sampai berapa lama lagi mereka bisa selalu ada di dekat kita. Saya jadi ingat waktu pertama kali melepaskan Najmi untuk bersekolah tanpa ditemani di play groupnya, saya malah menangis. Padahal anaknya saja kelihatan senang-senang saja. Ibunya nih malah yang sulit buat melepaskan anaknya untuk memperjuangkan keberaniannya sendiri.

Terbayang bahwa suatu saat nanti, akan tinggal saya saja berdua dengan suami di rumah. Menghitung waktu-waktu dalam setahun kapan kami dapat berkumpul dengan anak-cucu. Itu pun kalau memang waktu saya dan suami untuk tetap berada dalam satu aliran di kehidupan ini masih panjang..

Sedih ya membayangkannya. tapi ya memang begitulah adanya. Sedekat apa pun kita dengan seseorang atau sesuatu, pada waktunya nanti, kita pasti harus melepaskan. Mau tidak mau, siap tidak siap.

Tapi kalau dipikir-pikir, justru dengan begitu, hidup selalu terbarukan. Karena selalu ada energi baru yang masuk. Ibarat kalau kita tidak mau berpisah dengan sesuatu, seumpama kita hidup di kolam yang airnya tidak mengalir. Akibatnya tidak ada pertukaran energi, tidak ada udara segar yang masuk, segala sesuatu makin lama makin membusuk, keruh dan bau.

Mengalir, mengalir, mengalir…bertemu, berpisah, bertemu , berpisah.. Refresh, regenerate, rebuild.

November 30, 2011 Posted by | Life | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 221 : There’s God in Words

I wonder sometimes..

why if I believe in something and I say it out loud, that belief becomes fact.

If I think that I’m not smart and I say something like :” I can’t do it, I’m not smart enough” .. almost certainly it will become reality.

Pada kenyataannya memang seperti itu, hal-halyang terjadi di sekeliling kita,banyak yang merupakan kenyataan atau pembuktian dari apayang kita yakini. Kalau kata Prof. Yohannes Surya,begitulah energi bekerja. Kita meyakini sesuatu, kita mengucapkannya, maka somehow seluruh komponen alam ini, akan memberikan jalan untuk mengujudkannya, cepat atau lambat. Menarik,sekaligus menakutkan..

Dear God,

You’ve granted me in this life with 3 beautiful children

and I wish they will stay beautiful forever, because all my words say so

Please don’t let me loose my temper and say the words that I will regret forever

 

 

November 17, 2011 Posted by | love | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 220 : YUMNA .. Delivery Day

Senin, 7 November 2011 …

Jam 8 pagi, mendaftar ke dokter kandungan untuk jadwal periksa rutin mingguan. Dapat nomor antrian pertama, tapi dokter baru datang sekitar jam 09.30.

Jam 08.30, sementara menunggu kedatangan dokter, saya, suami , mama dan papa pergi ke kebun, melihat persiapan kandang ayam sebelum bibit-bibit ayam yang baru siap masuk. Di kebun, si Ummi yang memang gak manja kalau lagi hamil ini, masih turun-turun ke kebun, metikin daun sirsak buat dijadikan minuman obat. Sebagai gambaran, lokasi kebun cukup menurun ke bawah dari lokasi kandang ayam. Jadi setelah selesai memenuhi kantong plastik dengan daun-daun sirsak, harus kembali berjalan ke mobil melewati jalanan yang menanjak, yang bagi orang normal saja sudah cukup melelahkan. Sampai di atas, perut jadi berasa keram deh ..

Jam 09.30, di ruangan Dokter Gina .. katanya seharusnya bayinya sudah lahir. Cairan ketuban mulai berkurang dan kondisi plasenta mulai tua.. Tiba-tiba saja rasa kawatir datang. Dan rencana dokter, kalau dalam dua hari ke depan belum lahir juga, harus dirangsang dengan induksi. Dokter Gina mengirim saya untuk melakukan NST, Non Stress Test, untuk melihat tingkat stress si bayi.

Jam 12.00, hasil NST kurang baik. Gerakan bayi kurang, bayi cenderung stress karena kemampuannya menyerap makanan dan oksigen juga menurun. Saya mulai gelisah, dan tiba-tiba saja samar-samar, rasa mulas itu mulai muncul.

Jam 13.30, masih di ruangan observasi karena dokter meminta saya tinggal untuk pemberian oksigen tambahan. Lalu NST ulang.. Saat NST ulang, kontraksi dan mulas semakin sering muncul. Setelah diperiksa, ternyata memang sudah pembukaan dua. Artinya saya sudah tidak boleh pulang lagi.

Jam 14.00, suami mengurus masalah pendaftaran rawat inap, lalu pulang denan papa mengambil semua tas yang memang sudah disiapkan untuk proses kelahiran, sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Mama tinggal untuk menemani..

Jam 16.00, kontraksi mulai terasa kencang. Sudah pembukaan empat. Anak-anak sudah datang bersama suami dan papa. Kasihan juga melihat anak-anak kawatir melihat Umminya menahan sakit. Padahal kata suster itu belum apa-apa, kalau ibu sudah keluar keringat dingin karena menahan sakit, baru artinya proses kelahiran sudah dekat. Aduh…segini belum apa-apa ya …

Jam 17.00, sudah gak bisa diajak bicara lagi. Update status di bbm juga sudah gak sanggup. Bingung, sejam yang lalu katanya baru pembukaan empat. Tapi kenapa sekarang kontraksinya hampir tidak ada jeda. Seharusnya masih bisa istirahat dan menarik nafas untuk mengumpulkan tenaga di setiap jeda antar kontraksi. Tapi sepertinya Allah cuma memberi jeda satu dua kali tarikan nafas, sebelum rasa sakit berikutnya menyerang lagi.

Saya juga tidak  ingat lagi apa saya mulai meracau gak jelas, yang saya ingat mama terus-menerus menyuruh saya istighfar, jangan mikir macem-macem, jangan ngomong macem-macem, jangan teriak-teriak begitu. Tapi saya ingat satu hal, sambil menangis saya pegang tangan mama, “Mama maafin Yuli kalau selama ini banyak salah sama Mama ya..”

Pendengaran mama belakangan ini mulai menurun, tapi ternyata Mama mendengar. Kata Mama,”Orang lain aja kalau punya salah Mama maafkan.. apalagi anak sendiri..” , katanya sambil terus mengusap-usap punggung saya..

Jam 17.30, saya mulai berteriak-teriak semakin ga jelas. Suster yang datang juga mungkin sudah saya teriaki, karena katanya ” Tadi sejam yang lalu baru pembukaan empat Bu, masih perlu waktu lagi”. Lha … masih disuruh nungguuu ?? Ini bukan keringat dingin lagi yang keluar !! Nyeri luar biasa menjalar berputar-putar dari tulang belakang ke selangkangan.

“Ibu tahan jangan ngeden dulu, tarik nafas”….Tarik nafas ? Aaaahhh…Justru itu yang udah ga bisaaa …

Satu hal yang membuat saya panik setengah mati, karena tidak bisa menarik nafas. Udara rasanya tidak sampai ke paru-paru. Kalaupun bisa menarik nafas pendek-pendek, cuma bisa sekedar untuk berjuang menahan nyeri yang luar biasa. Bukan untuk mengumpulkan tenaga.

Akhirnya saya dilarikan ke ruang bersalin, tapi ternyata hari itu ruang bersalin penuh. Jadi saya dipindahkan ke ruang kuret. Beruntung Dr. Gina sudah ada di tempat. Suami sudah siap memegangi di sebelah kanan dan mama di sebelah kiri.

Prosesnya terasa sangat lambat…. Justru di saat sakit dan nyeri menghebat, saya harus mendorong, karena itu artinya rahim sedang berkontraksi. Dorongan pertama, gagal… Berulang kali mencoba memberikan dorongan yang kuat untuk mengeluarkan bayinya, gagal lagi. Saya tahu persis masalahnya, karena tarikan nafas saya tidak bisa panjang, jadi tenaga untuk mendorong juga hampir tidak cukup. Belum lagi karena menahan sakit, posisi pantat saya jadi sering berubah.  Untunglah Dokter Gina sabar dan terus menyemangati, meskipun saya tahu dari wajahnya kalau dia juga mulai kawatir.

Yang saya ingat setelah dorongan ke empat yang gagal juga, dua orang suster mulai ikut mendorong perut saya dengan tangan mereka dari atas. Satu dorongan terakhir .. Ya Allah, saya pasrah, mohon bantuan dengan Ilmu-Mu, supaya bayi ini bisa lahir selamat ke dunia. Yang penting bayi ini bisa lahir. Masalah bagaimana dengan saya, biarlah Engkau dengan kepastian-Mu yang memutuskan..

Jam 17.52.. Dokter berhasil mengeluarkan Yumna ke dunia.. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin …

Lega luar biasa. yang tidak terlukiskan… Abunya Yumna langsung mengumandangkan adzan dan iqamat, suara pertama yang didengar Yumna adalah seruan untuk menegakkan Ilmu Allah di dunia..

Jam 18.00.. Yumna kecil dibawa suster dan ditaruh di dada Ummi, untuk memulai perjuangannya sendiri mencari sumber makanan pertamanya, dengan Inisiasi Menyusu Dini. Ayo Yumna  sayang, Yumna pasti bisa, Yumna pasti kuat…

Jam 19.30. Horeee…. kakak Najmi berteriak-teriak kegirangan sambil memanggil abunya , setelah satu setengah jam melihat adeknya terengah-engah mencari puting susu. Bergerak ke sana kemari dengan kaki-kaki mungilnya, bahkan sampai salah arah. Akhirnya dengan satu tolakan kuat sambil tangan kecilnya menggenggam jari telunjuk Ummi, kepala kecilnya berhasil mendarat tepat di atas sumber makanannya. Alhamdulillah …

Yumna kecil, dari sejak lahir sudah kuat dan tidak menyerah dengan perjuangannya, semoga selalu begitu ya sayang …

Sakit ? Sakit apa ? Sudah lupa tuh … Melihat si cantik dan kuat Yumna rasanya semuanya rasa sakit bisa dilupakan…  :)

Alhamdulillah ya Allah, telah Kau bantu Yumna lahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

November 12, 2011 Posted by | family, Miracle | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 219 : The Absolute Mistake

Ada sebuah quotation menarik yang saya ambil dari buku Brida karya Paulo Coelho, one of my favorite writer.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar salah di dunia ini, bahkan jam rusak pun menunjukkan waktu secara benar dua kali sehari..”

Kalimat itu juga mengingatkan saya pada seseorang, guru mengaji saya. Katanya selalu, “Jangan katakan salah, tapi katakan saja menyimpang, atau bengkok. Sehingga kita tinggal meluruskannya saja.”

Kadang karena begitu takutnya dengan kata “salah”, kita malah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Berdiam diri di tempat, dan berharap kebenaran itu muncul begitu saja seperti sebuah Ilham. Padahal Tuhan bekerja dengan cara yang aneh, menunjukkan jalan yang benar melalui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Hanya saja, kebenaran itu baru bisa kita temukan jika kita memutuskan untuk melangkah lagi dan mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan itu.

Tapi satu hal yang saya sadari adalah, kadang bukan kesalahan-kesalahan itu sendiri yang membuat kita takut untuk melangkah. Tapi penilaian orang-orang di sekitar kita lah yang membuat kita takut. Maukah mereka memahami bahwa kita perlu berbuat salah untuk mengerti tentang benar ? Maukah mereka sabar menunggu kita belajar ? Maukah mereka membantu kita menemukan jalan yang benar jika kita terperangkap di jalan yang salah ?

Bagaimana jika mereka malah jadi tidak sabar dan memutuskan untuk pergi ? Seperti menemukan sebuah jam yang rusak, alih-alih berusaha memperbaikinya, malah membuangnya dan menggantinya dengan yang baru..

Jadi, apa benar ada sesuatu yang benar-benar salah di dunia ini ? Benar-benar salah berarti tidak menunjukkan apa yang benar di baliknya. Padahal tidak ada kesalahan semacam itu .. karena salah sudah pasti menunjukkan benar.

Lalu kenapa kita begitu marah jika seseorang melakukan sesuatu yang kita anggap salah ?

Tricky question .. karena toh pada akhirnya kita juga tidak mau menyia-nyiakan waktu menghadapi orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Tapi seperti yang diajarkan Nabi, “Tinggalkanlah mereka dengan seindah-indah sikap”. Jadi, tetap tidak perlu marah terhadap yang salah toh ?

October 25, 2011 Posted by | Learning, Life, Thoughts | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 218 : I Love PLN for Supporting Mothers

Senang dan kagum rasanya jika ada seorang pimpinan yang memperhatikan tingkat kenyamanan pegawainya sampai ke urusan paling mendasar. Dalam hal ini khususnya, kenyamanan seorang ibu bekerja yang memiliki bayi atau balita yang masih harus disusui dan dijaga.

Saya punya pengalaman, sewaktu pertama kali bekerja di kampus dulu, saat itu Ihsan masih berumur beberapa bulan dan menyusu ASI. Prinsip yang selalu saya pegang adalah, bukan anak yang harus mengalah untuk menerima susu sapi supaya bisa membiarkan si Ibu bekerja. Tapi Ibu yang harus memikirkan cara supaya bisa tetap menyusui anaknya meskipun ia bekerja.

Dan itu sama sekali tidak mudah ..

Pertama dukungan dan kepedulian lingkungan terhadap kebutuhan si Ibu dan bayinya. Kedua adalah kemudahan atau fasilitas yang bisa mendukung proses pemberian ASI yang nyaman. Dan keduanya tidak gampang diperoleh.

Dulu, saya masih cukup beruntung karena di seberang kampus ITB, ada tempat penitipan anak atau day care yang memungkinkan saya untuk membawa Ihsan kecil bersama saya dan menitipkannya di sana mulai dari pagi sampai sore hari. Hampir setiap dua jam sekali saya harus pamit dan berlari untuk mencapai tempat penitipan anak itu secepatnya.  Saat itu saya belum terlatih untuk memerah ASI dan Ihsan juga tidak mau minum dari botol, jadi cukup menguras energi juga. Karena meskipun dekat, tapi fasilitas itu tidak terdapat dalam satu gedung.

Luar biasanya, sekarang PLN menyediakan ruang penitipan bayi itu, di gedung yang sama tempat sang ibu bekerja. Jadi ibu bisa tetap nyaman bekerja, sementara bayinya berada dekat dengannya untuk bisa disusui pada jam-jam tertentu. Dukungan seperti ini masih sangat jarang diterima oleh seorang Ibu bekerja, dan saya yakin, justru dengan adanya dukungan ini, kinerja dan konsentrasi ibu dalam bekerja justru akan meningkat. Plus ditambah tumbuhnya generasi-generasi baru yang sehat dan kuat karena kebutuhannya terpenuhi.

Kepada Bapak Dahlan Iskan selaku Dirut PLN dan Ibu, salut buat terobosannya  :)   Semoga dengan sedikit kepedulian ini, akan mendatangkan perbaikan yang cukup besar dalam kinerja PLN ke depan, Amiiinnn …

October 13, 2011 Posted by | children, Effort, Hero | , , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 217 : Unending Love

I just have found this beatiful poem from Paulo Coelho”s Blog.

A poem that describes the kind of love that I really wish to have forever, the unending one …

 

Unending Love

I seem to have loved you in numberless forms, numberless times…
In life after life, in age after age, forever.
My spellbound heart has made and remade the necklace of songs,
That you take as a gift, wear round your neck in your many forms,
In life after life, in age after age, forever.

Whenever I hear old chronicles of love, it’s age old pain,
It’s ancient tale of being apart or together.
As I stare on and on into the past, in the end you emerge,
Clad in the light of a pole-star, piercing the darkness of time.
You become an image of what is remembered forever.

You and I have floated here on the stream that brings from the fount.
At the heart of time, love of one for another.
We have played along side millions of lovers,
Shared in the same shy sweetness of meeting,
the distressful tears of farewell,
Old love but in shapes that renew and renew forever.

Today it is heaped at your feet, it has found its end in you
The love of all man’s days both past and forever:
Universal joy, universal sorrow, universal life.
The memories of all loves merging with this one love of ours -
And the songs of every poet past and forever.

~Rabindranath Tagore

Translated by William Radice

October 6, 2011 Posted by | love | | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 216 : Help is Around Now :)

Senang dan lega, akhirmya… Alhamdulillah.

Sama sekali tidak mudah untuk tinggal jauh dari keluarga dan orang tua, mengurus semuanya sendiri di saat perut sedang besar-besarnya seperti sekarang ini.  Kehamilan 32 minggu seperti sekarang  sudah cukup membuat saya kesulitan untuk leluasa bergerak. Belum lagi rasa nyeri di tangan dan kaki, yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi selain diterima dengan senang hati saja sebagai bagian dari proses yang membahagiakan untuk menyambut si kecil nanti.

But a help will be just great to have … :)

Hari ini akhirnyaaaaa… si Mbok balik juga ke rumah untuk membantu saya lagi. Anak-anak juga senang. Suami juga lega karena akhirnya ada yang menjaga istrinya saat dia tidak bisa.

Welcome back ya Mbok,  sing betah. Apalagi kalau nanti udah ada dede bayi di rumah :)

October 6, 2011 Posted by | family, Miracle | , | Leave a Comment

365 Thankful Days Project – Day 215 : Approved !

Saat mendengar seseorang berkata ;

“Selamat, proposal Anda disetujui,” atau “Selamat, pinjaman Anda disetujui”, atau “Selamat, lamaran Anda diterima”, atau “Selamat, usulan Anda diterima”, atau “Selamat, permohonan Anda dikabulkan”,

bagaimana rasanya ?

For a moment, probably like at the top of the world !  Meskipun bagi orang lain itu hanya keberhasilan kecil, tapi bisa menerima kalimat-kalimat persetujuan seperti di atas, rasanya seperti membawa kita naik ke level yang lebih tinggi dalam hidup ini.

Well, tentunya suatu keberhasilan memang layak dirayakan.

Hanya saja kadang-kadang kita lupa, bahwa memperoleh pengakuan dari orang lain itu bisa berarti dua hal : Bahwa mereka mengakui kapabilitas kita berdasarkan proposal atau CV canggih yang kita sodorkan , dan bahwa mereka ingin kita membuktikan kapabilitas seperti yang sudah kita janjikan sebelumnya.

Menyodorkan proposal dan membuktikan kemampuan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu menyodorkan janji, yang lain memberikan bukti. Seseorang bisa dikatakan profesional atau mempunyai kredibilitas jika bisa membuktikan janji-janji yang sudah ia lontarkan. Dan memberikan bukti, pastinya jauh lebih sulit daripada menyusun sebuah proposal.

Dalam hal ini, hanya satu kata sakral yang ingin kita jaga : Trust.

Kepercayaan adalah segalanya. Janji-janji manis di awal tanpa pembuktian, akan meruntuhkan kepercayaan dan membuat orang lain pergi meninggalkan kita.

Hari ini saya menerima persetujuan, dan saat yang bersamaan kehilangan kepercayaan juga pada seseorang yang awalnya saya percayai. Jadi mulai hari ini saya harus menjaga kepercayaan atas persetujuan yang saya terima, tapi juga meninggalkan kepercayaan saya pada pihak lain yang sudah menyia-nyiakan kepercayaan itu. What a life ..

September 20, 2011 Posted by | Life, Observation | , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.